MASIGNCLEAN103

Sekolah dan Kuliah


Saya masih ingat betul percakapan saya dengan salah seorang teman saat masih duduk di bangku perkuliahan, “Jadi dosen itu enak ya ngajarnya, gak kayak jadi guru. Awal masuk kuliah say hallo, langsung membagi mahasiswa menjadi beberapa kelompok, diberi tugas makalah. Pertemuan selanjutnya langsung presentasi makalah sampai di pertemuan terakhir. Sudah begitu saat mahasiswanya presentasi, dosen hanya duduk-duduk saja mengamati, tak jarang sambil mainan hp atau sok asyik di depan laptop. Begitu presentasi selesai ya sudah perkuliahan selesai, sambil basa-basi memberi kesimpulan yang sebenarnya itu dari materi mahasiswanya.”
Saya rasa, prasangka semacam itu adalah wajar dalam dunia mahasiwa. Bahkan – dengan tanpa bermaksud suudzon – bisa jadi dosen yang saya prasangkai itu ketika jadi mahasiswa pun pernah berprasangka semacam itu pada dosennya dulu ketika kuliah. Kenapa saya bisa katakan itu? Ya, karena beberapa kali saya bertemu dosen yang ketika di dalam kelas tidak canggung bercerita masa-masa kuliahnya bertemu dengan berbagai macam dosen yang memiliki karakter beda-beda dari dosen yang asyik sampai pada dosen yang super tidak asyik. Jadi, pada tulisan ini saya tidak sedang mengetengahkan hukum berprasangka buruk pada seorang guru , apalagi sampai menyinggung etika seorang murid terhadap guru yang dibahas di kitab ta’lim muta’allim. Saya hanya ingin menyoroti salah satu sisi wajar mahasiswa yang terkadang suka ngrasani dosen. Bahwa saya merasa mahasiswa itu tidak afdhol jadi mahasiswa kalau tidak pernah ngrasani dosen.
Prasangka di atas sebetulnya tidaklah aneh mengingat sistem perkuliahan yang lazim memang begitu. Pertemuan pertama perkenalan, bagi silabus, buat kelompok dan sistem presentasi akan menghiasi pertemuan-pertemuan selanjutnya.  Jadi bisa dikatakan memang, 90% perkuliahan adalah jadi tanggung jawab mahasiswa, dosen hanya 10% saja. Ini tentu berbeda dengan sistem pembelajaran di sekolah-sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak sampai SMA, sistem pembelajaran hampir semuanya terfokus pada guru (teacher center). Mulai dari penyiapan materi di setiap pertemuan, sampai proses penilaian yang sangat njlimet, terlebih dalam kurikulum yang sekarang.
Namun, belakangan ini saya mulai menyadari satu hal penting, bahwa memang tidak seharusnya saya memperbandingkan sistem pendidikan di sekolah-sekolah dengan yang ada diperkuliahan. Karena bagaimanapun keduanya merupakan dua hal yang sangat berbeda (berbeda dalam segala hal mulai dari kurikulum, subjek didik, objek didik bahkan pada orientasi pendidikan yang juga berbeda). Sama halnya, kita tidak seharusnya memperbandingkan ketinggian pohon kelapa dengan pohon apel, bahwa memang begitulah karakter pohon kepala yang tinggi menjulang dan begitulah pohon apel yang tidak terlalu tinggi dan memiliki banyak cabang dan ranting.
Dalam hal proses pendidikan di sekolah dan kuliah ini, kita bisa ibaratkan bahwa baik siswa atau mahasiswa adalah pribadi-pribadi yang butuh “makanan keilmuan”. Maka tugas seorang guru di sekolah-sekolah adalah setiap hari membawa makanan yang sudah jadi untuk kemudian diberikan kepada siswa-siswanya, terlepas apakah makanan itu disukai oleh siswa atau tidak; terlepas dari makanan itu mengenyangkan atau tidak, siswa harus menerima dan memakan itu. Maka tidak mengherankan jika kemudian guru-guru di sekolah itu nampak sibuk, karena setiap hari harus menyiapkan makanan-makanan jadi untuk siswanya.


Sementara itu di bangku kuliah, orientasinya akan sangat berbeda. Mahasiswa tetaplah pribadi yang butuh “makanan keilmuan” layaknya siswa di sekolah-sekolah. Hanya saja, jika di sekolah makanan itu sudah disiapkan oleh guru, siswa tinggal menerima dan memakannya. Berbeda dengan mahasiswa yang lapar akan keilmuan, mereka tidak lagi hanya menunggu makanan dari dosennya, melainkan sudah harus mulai bisa membuat makanannya sendiri. Itulah kenapa di bangku perkuliahan mayoritas aktivitas ada di tangan mahasiswa. Bahwa posisi dosen di bangku perkuliahan bukan lagi sebagai penyedia makanan siap saji, melainkan lebih kepada instruktur atau fasilitator memasak bagi para mahasiswanya yang sedang “lapar ilmu”. Dosen tidak menyajikan makanan jadi, tetapi menyiapkan bahan-bahan mentah yang selanjutnya adalah tugas mahasiswa untuk mengolah bahan-bahan itu. Hal ini penting untuk diketahui oleh para mahasiswa, terlebih mahasiswa baru yang mungkin masih memiliki mindset bahwa kuliah itu seperti di sekolah-sekolah sebelumnya, datang ke kelas kemudian menunggu makanan dari dosen tanpa pernah berusaha untuk mencoba memasak sendiri.
Jadi jelas, bahwa perkuliahan adalah ajang ujicoba untuk “memasak ilmu” dengan dosen sebagai instrukturnya. Dalam tugas presentasi misalnya, dosen sebelumnya sudah memberi tema kepada tiap-tiap kelompok dengan referensi-referensi sebagai bahan mentahnya. Kemudian mahasiswa mulai mencari-cari materi, bisa dari referensi yang disarankan dosen atau dari referensi yang mungkin luput dari perhatian dosen pengampu. Berbagai materi kemudian coba diracik, diramu dan diolah kembali oleh para mahasiswa, hingga sampai pada akhirnya jadilah satu makalah yang kemudian disajikan di hadapan teman-teman dan tentunya di hadapan dosen. Dalam penyajian itu dosen dan teman-teman yang lain kemudian mulai menguji “masakan ilmu” yang telah dibuat oleh kelompok tersebut. Akan ada kritik, saran, dan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan apa yang disajikan. Dan sudah selayaknya, bagi kelompok yang menyajikan makalah itu bisa menanggapinya dengan baik. Kritik, saran dan pertanyaan-pertanyaan ini pada akhirnya akan menjadi bahan koreksian untuk “masakan ilmu” yang disajikan agar lebih baik lagi, entah itu dari segi  penampakannya (sistematika penulisan) atau pun terkait denga kontennya.
Sampai sini kita coba untuk benar-benar membayangkan proses perkuliahan sebagai kompetisi masak. Ada tim penyelenggara yang memberi tema masakan tertentu, dengan bahan-bahan yang direkomendasikan. Kemudian peserta lomba mulai membuat makanan dengan kreatifitasnya masing-masing. Setelah selasai, makanan itu kemudian di sajikan ke hadapan juri dan bisa juga di hadapan para hadirin (persis speperti presentasi makalah di depan kelas).  Kemudian para juri mulai menguji makanan dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Pun begitu, penonton juga boleh mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait makanan yang disajikan.
Seperti yang sudah sedikit di singgung di atas bahwa pemahaman orientasi pendidikan yang berbeda antara sekolah dengan kuliah ini perlu disadari sepenuhnya oleh para mahasiswa. Mengapa? Pertama,  mahasiswa tidak harus terpaku pada apa yang dimiliki dosen dan bebas untuk mengekspresikan apa yang dimiliki. Bahwa dosen hanya sebagai fasilitator yang tentu tidak bisa memaksakan apa yang dimiliki untuk diterima sepenuhnya oleh mahasiswa. Dosen hanya sebagai pemantik, bukan sebagai agen yang meng­-copy­- kan dirinya bagi mahasiswa.
Kedua, dengan menyadari bahwa perkuliahan adalah ajang membuat “makanan ilmu”, mahasiswa sudah selayaknya memposisikan diri sebagai pihak yang aktif. Tidak hanya aktif dalam mengolah ilmu – dalam bentuk makalah, misalnya. Melainkan aktif juga dalam hal menanggapi “makanan keilmuan” yang disajikan oleh teman-teman lainnya. Itulah mengapa, presentasi adalah ajang berproses untuk dapat saling tukar gagasan dan ide, di samping juga sebagai ajang mengasah intelektual secara bersama-sama. Implikasi langsungnya bagi penyaji makalah, tanggapan dari para mahasiswa yang laindan juga dosen tentunya bisa menjadi masukan yang amat berharga untuk menyempurnakan apa yang sudah disajikan. Sementara bagi teman-teman yang memposisikan dirinya sebagai pengamat makalah, adanya sajian makalah oleh teman sekelasnya bisa menjadi pemantik untuk dapat mengaktifkan daya nalar yang kritis. Dari sinilah kemudian akan ada proses take and give dalam setiap pertemuan perkuliahan. Jika proses ini dapat berjalan secara terus-menerus, maka implikasi jarak jauhnya adalah mahasiswa ini akan menjadi pribadi yang tidak hanya kritis, tapi juga dapat mengolah permasalahan-permasalahan yang akan dihadapi di kemudian hari setelah lulus kuliah. Ini akan bertolak belakang dengan mahasiswa yang tidak mau aktif, di saat teman-teman yang lain sudah bisa mengatasi “lapar ilmu” dengan mengolah ilmunya sendiri. Maka mahasiswa yang pasif tadi pada akhirnya hanya bisa menunggu makanan jadi dari orang lain, tanpa pernah bisa membangun konsep keilmuannya sendiri.
Pada akhirnya, pemahaman orientasi yang berbeda antara di sekolah dan diperkuliahan ini selain perlu disadari dengan baik oleh para mahasiswa, juga perlu disadari bersama oleh para dosen. Bahwa tanggung jawab seorang dosen pada akhirnya adalah bukan menjadikan mahasiswa itu kenyang ilmu saja, melainkan juga dapat mengolah (baca: memasak) ilmu sendiri. Sehingga begitu lulus, mahasiswa tadi tidak akan pernah kelaparan ilmu, tidak pernah asing untuk mengahadapi permasalah yang muncul yang mungkin itu tidak pernah di bahas di bangku perkuliahah.
Di samping itu, kesadaran akan perbedaan ini juga berimplikasi langsung pada bagaimana seharusnya perlakuan dosen kepada mahasiswa. Bahwa perkuliahan bukan lagi layaknya di restoran dengan seorang guru sebagai koki yang sia menyajikan makanan jadi. Perkuliahan adalah kelas memasak, sehingga dalam pelaksanaannya sangat mungkin untuk peserta kelas itu berekspresi sebebas mungkin. Dosen hanya memastikan bahwa yang dilakukan itu tidak menyalahi kaidah-kaidah umum, dosen harus membuka diri terhadap kreatifitas-kreatifitas yang memang sudah ada dalam diri mahasiswa. Dan pada akhirnya, jika kemudian ada mahasiswa yang bisa mengolah ilmu dengan sangat baik melebihi pencapaian dosen, maka sudah sepatutnya dosen tadi mengapreasi itu, bukan malah mendeskriditkan mahasiswa tersebut, apalagi sampai kepada pengurangan nilai gara-gara mahasiswa itu lebih pandai dari pada dosen. Dan dalam hal inilah kemudian akan nampak bahwa di balik peran dosen yang nampak mudah - di dalam kelas  - dibanding guru di sekolah, seorang dosen sebenarnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Seorang dosen harus benar-benar bisa mempersiapkan mahasiswanya kelak ketka lulus bisa memasak "makanan keilmuan"nya sendiri. Seorang dosen harus bisa memastikan mahasiswanya kelak begitu lulus benar-benar menjadi pribadi yang kompeten dan dapat mempertanggungjawabkan gelar kesarjanaannya, yang memang dapat menunjukkan kapabilitas keilmuannya, tidak asal jadi sarjana.
Pendidikan pada dasarnya adalah proses dua arah, dari mulai jenjang yang paling dasar sampai pada jenjang yang paling tinggi, idealnya begitu. Maka, pembedaan antara orientasi pendidikan di sekolah dengan di perkuliahan dalam tulisan ini pun sebenarnya bukan yang paling ideal. Karena seperti yang disampaikan oleh Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan asal Brasil (baca: Paulo Freire dan Nelson Mandela), bahwa proses pendidikan itu bukan proses meng-copy diri guru ke dalam diri siswa, tapi lebih kepada proses menjadikan siswa menjadi  dirinya sendiri dengan cara mendualismekan dirinya menjadi subjek didik sekaligus juga objek didik (dalam istilah Paulo Freire “Guru yang Murid, Murid yang Guru”). Proses mendualismekan diri dalam proses pendidikan ini tentu bukan hal yang mudah untuk peserta didik di usia-usia sekolah. Akan tetapi menjadi beda jika itu diterapkan di dunia perkuliahan, di mana proses dua arah ini bisa berjalan. Karena bagaimana pun, secara substansi istilah dosen dan mahasiswa pada dasarnya hanya gelar formil saja, karena pada akhirnya setiap manusia bisa menjadi pendidik dan di saat yang sama juga bisa menjadi peserta didik. Wallaahu A’lamu bi al-Shawaab.
Sukoharjo, 14 Agustus 2018, 13.03 WIB
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.