MASIGNCLEAN103

Misteri Waktu: Penting Tulis Saja

Dulu, waktu masih bersekolah di Madrasah Aliyah, ada seorang guru yang sangat kharismatik, yang selain menjadi guru juga sebagai pengasuh Pondok Pesantren di daerah yang memang terkenal sebagai daerah pesantren. Beliau dalam beberapa kesempatan mengajar, sering memberi pesan-pesan  kepada kami para siswanya. Pesan-pesan dari beliau beragam, mulai dari yang bertemakan nikah sampai pada hal-hal yang sulit dipahami, untuk saat itu.
Semisal, ada satu pesan yang menurut saya agak aneh. Meskipun saya sadari bahwa penilaian aneh ini disebabkan karena ketidakpahaman saya saja untuk saat itu(dan memang kalau kita perhatikan, apa yang kita sebut sebagai suatu keanehan, itu karena kita belum bisa menemukan penjelasan yang detail akan hal itu, karena kalau kita sudah paham tentu tidak akan mengatakan aneh). Beliau sering sampaikan – yang kurang lebih redaksi dalam bahasa Indonesia – “Sudah, tulis saja apa yang saya smpaikan, entah kalian paham atau tidak. Karena nanti suatu saat kalian akan paham sendiri dengan apa yang kalian tulis saat ini.” Memang, saat itu pelajaran yang beliau ajar termasuk pelajaran yang sulit untuk dipahami oleh kami yang notabene nya belum begitu matang dalam hal intelektual, atau bisa jadi karena memang materinya yang terlampau sulit.
Buku Catatan di Madrasah Aliyah
Saya bersyukur bahwa apa yang dipesankan oleh guru tersebut bisa saya laksanakan. Meskipun memang tidak semua materi bisa terdokumentasikan dengan baik, tapi setidaknya setelah lulus dari Madrasah Aliyah saya memiliki satu buku catatan yang penuh. Buku yang saya gunakan adalah buku yang cukup tebal dan semua materi yang ada saya jadikan satu dalam buku yang sama. (Silahkan baca: Puzzle Keilmuan Allah SWT.). 
Beberapa tahun kemudian, setelah kelulusan saya dari Madrasah Aliyah tersebut, saya sempat lupa bahwa saya memiliki buku catatan itu. Sampai pada suatu ketika saya temukan buku itu kembali. Dan yang membuat saya takjub adalah ketika saya buka-buka lagi, ada sebagian besar materi yang mulai saya pahami. Padahal saat materi itu saya tulis, saya tidak paham sama sekali. Dalam moment takjub itulah saya kemudian baru menyadari betul, ternyata inilah maksud dari pesan guru saya “paham atau tidak, catat saja semua, karena suatu saat kalian akan paham dengan sendirinya apa yang kamu catat saat ini.”


Satu Buku Bermacam Materi

Tradisi mencatat apa saja yang saya dapatkan ini setidaknya saya berlakukan sampai saat ini, meskipun apa yang saya catat itu tidak saya pahami betul. Tapi setidaknya waktu sudah mengajarkan pada saya bahwa semua itu hanya bicara soal waktu, bahwa tidak ada yang abadi di dalam dimensi keduniawiaan ini, termasuk dalam hal “pemahaman”. Bahwa jika saat ini saya tidak paham dengan apa yag saya catat, itu bukan berarti selamanya saya tidak akan paham. Itu hanya bicara soal waktu saja.Karena bagaiamana pun, waktu selalu memiliki misterinya sendiri yang bisa jadi tak bisa kita pahami untuk saat ini, tapi akan nampak jelas suatu saat nanti.
Di samping itu, satu hal penting lain yang saya sadari adalah bahwa menulis adalah cara terbaik untuk kita menjaga keilmuan dalam wujud fisik (Insya Allah dalam tulisan selanjutnya saya akan membahas tentang klasifikasi ilmu ruhiyyah dan jasadiyyah). Bisa jadi apa yang telah kita dapatkan saat ini – seiring berjalannya waktu – akan kita lupakan suatu saat nanti, dan menulis adalah cara terbaik untuk kita bisa me-recall kembali apa yang pernah kita miliki. Karena bagaimana pun, “lupa adalah satu keniscayaan, tapi untuk dapat mengingat kembali apa yang – tanpa sengaja – kita lupakan adalah pilihan.” Maka, sebagai penutup tulisan ini, saya kutipkan salah satu kata bijak dari Pramoedya Ananta Toer, bahwa “Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian.”
Jepara, 29 Juli 2018, 07.31 WIB
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.