MASIGNCLEAN103

Rahasia Ilahi: Misteri Kegagalan

“Tidak ada yang benar-benar gagal di dunia ini, yang ada hanyalah keberhasilan yang tertunda”.
Belakangan, saya memahami bahwa kata-kata itu bukanlah sekedar kata-kata penghibur untuk diri kita yang mungkin sedang ada pada moment “kegagalan”, kegagalan apa saja, pendidikan, karir, atau bahkan cinta. Dalam salah satu perkuliahan, seorang dosen pernah berpesan demikian:
“Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.”
Lagi-lagi saya katakan, bahwa itu bukan sekedar kata-kata penghibur. Meskipun saya juga sarankan untuk tidak menyampaikan kata-kata tersebut kepada seseorang yang sedang ada di awal-awal moment kegagalan. Biarkan dia melewati moment itu, baru setelahnya kita bisa berikan dia kata-kata itu. Kenapa? Ya karena jangan sampai kata-kata bijak itu akan terdengar sebatas kata-kata penghibur hanya karena disampaikan pada moment yang tidak tepat.
Ya, manusia tidak punya kuasa untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginannya. Manusia bisa berencana sebanyak mungkin, dan sudah dapat dipastikan bahwa kesemua rencana itu pasti sesuatu yang baik dan membanggakan (setidaknya baik menurut ukuran dirinya sendiri). Tapi, tidak semua rencana pada akhirnya terwujud. Beberapa ternyata ada yang “nampak gagal”. Kenapa “nampak gagal”? Ya, karena sejauh ini saya meyakini tidak ada yang sebenar-benarnya gagal, yang nampak gagal itu hanya sebatas pemahaman kita, atau kita gagal memahami moment “nampak gagal” itu.
Kita yang menyebut dirinya manusia ini – menurut saya – adalah makhluk yang amat parsial, amat terbatas. Sehingga, dalam melihat segala sesuatu pun juga parsial. Berbeda dengan Tuhan yang Maha Mengetahuinya tanpa batas. Termasuk dalam moment yang “nampak gagal” itu. Kita bisa katakana “ah, ternyata tidak sesuai dengan rencanaku”, tapi Tuhan mungkin akan berkata “tenang dululah, santai gitu lho, percaya saja sama Aku.”
Sedikit yang bisa saya bagi dalam tulisan ini terkait dengan tema “nampak gagal” ini adalah ketika saya harus dihadapkan pada moment yang cukup menyedihkan dan mengecewakan ketika di bangku kuliah. Saya kira tidak ada satu pun mahasiswa yang berencana untu bisa lulus kuliah tidak tepat waktu, semuanya pasti ingin (setidaknya ketika awal masuk kuliah) bisa lulus secepat mungkin. Meskipun pada kenyataannya tidak semua mahasiswa dapat mewujudkan rencana itu, termasuk saya.
Pendaftaran munaqosah (Ujian untuk Tugas Akhir) tinggal satu hari, dan karena Tugas Akhir saya sudah selesai semua, saya putuskan hari itu juga bisa memperoleh tanda tangan pembimbing. Ya, jika hari itu saya tidak dapat tanda tangan, maka konsekuensi yang harus saya terima adalah mundur satu semester lagi, mundur di sini tidak hanya mundur waktu tentunya, harus ada tambahan biaya, termasuk yang pasti harus ada tambahan semangat lagi, dan yang terakhir ini adalah yang terberat. Dari pagi saya standby di depan kantor pembimbing saya, dan setelah waktu berjalan sedemikian lambat, sore harinya saya bertemu dengan pembimbing saya. Saya yakin bahwa hasil tak akan mengkhianati proses, dan saya memang percaya diri untuk bisa dapat persetujuan hari itu juga. Apalagi melihat kakak angkat saya yang juga minta persetujuan Tugas Akhir nampak bahagia seusai bertemu pembimbing, begitu saya tanya “dapat tanda tangan mas?”, dijawab “Alhamdulillah mas” sambil tersenyum lega. Oke, Insyaallah lancar.
Tapi nampaknya saat itu rasa percaya diri saya terlalu tinggi dan mendekati rasa sombong, sehingga Allah akhirnya menegur saya. Karena pada akhirnya, semua tidak berjalan sesuai rencana, “revisi 50%”. Pada akhirnya, saya harus rela menunda kelulusan satu semester lagi. Kecewa? Pasti. Sedih? Jangan ditanya. Bahwa memang kecewa itu ketika realitas tak sejalan dengan ekspektasi kita.
Saya menganggap hari itu adalah bagian dari kegagalan saya untuk mencapai apa yang saya rencanakan. Meskipun, belakangan saya mulai menyadari bahwa saat itu bukan sepenuhnya kegagalan. Hanya saja saya belum tau alur cerita selanjutnya seperti apa, dan begitu waktu telah berlalu saya mulai menyadari bahwa “saya tidak gagal”. Ada hikmah yang saya temukan dalam moment “nampak gagal” itu. Apa? Setidaknya, karena kelulusan saya mundur, ijazah yang saya dapatkan akhirnya berakreditasi A. Ya, andai saja saat itu saya mendapat tanda tangan dan lulus tepat waktu, maka akreditasi ijazah saya pasti masih B. Tapi, karena saya mundur satu semester, akhirnya sekarang ijazah yang saya dapatkan memiliki akreditasi A.
Memang penting ya kalau akreditasinya beda? Saya kira akan sangat naïf jika saya katakana tidak penting, sama naifnya jika ada orang kuliah kemudian mengatakan “saya niat kuliah karena menuntut ilmu kog mas”. Nah, kalau saya atau pembaca ketemu orang seperti itu, coba ingat-ingat saja nama dan NIM-nya, kemudian tunggu dia lulus, begitu wisuda dan dapat ijazah, kita minta ijazahnya dan kita bakar saja. Sadis? Bukanlah, lha katanya dia murni mencari ilmu, jadi tidak masalah dong kalau ijazahnya dibakar. Memang, sebagian menganggap bahwa selembar kertas itu tidak terlalu penting, tapi akan menjadi naïf jika kita mengatakan tidak penting, sementara kita harus datang setiap hari di kelas, harus mengerjakan tugas setiap semester dan anehnya harus mendengarkan mata pelajaran yang bisa jadi kita tidak suka dan tidak paham sama sekali dengan yang dibicarakan dalam kelas.
Pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa tidak ada yang benar-benar gagal di dunia ini. Kita bisa mengatakan gagal – saat ini – ya karena kita tidak bisa tahu apa yang akan terjadi setelah moment “nampak gagal” itu. Ya, saya memang tidak berhasil memenuhi target kelulusan, tapi saya menemukan satu pelajaran berharga bahwa Tuhan selalu punya rencana lain, dan saya hanya cukup menunggu dan memastikan jika suatu saat nanti saya benar-benar siap menerima kejutan-kejutan selanjutnya. Dengan cara apa? Dengan cara tidak melupakan bahwa tugas kita adalah berusaha, karena dengan berusaha kita akan bisa benar-benar memastikan bahwa apa yang kita peroleh adalah benar-benar takdir kita. Bagaimanapun, pada akhirnya saya bisa lulus. Tidak tepat waktu? Tak apalah, setidaknya ceritaku tentang perkuliahan ini akan lebih panjang dari teman-teman yang dapat lulus tepat waktu.


Lebih dari itu, terkadang juga terpikir bahwa Tuhan itu adakalanya memang sengaja memberi kita moment “nampak gagal” agar kita bisa lebih hati-hati menjadi manusia. Maksudnya? Ya, setidaknya jangan sampai lupa kalau kita ini hanya manusia, yang tugasnya hanya berusaha, bukan yang menentukan. Lha kalau semua yang kita rencanakan selalu terwujud, bisa-bisa akan menjadikan kita merasa bahwa kita ini Tuhan yang bisa mewujudkan semuanya. Ingat tentang Fir’aun yang mengaku Tuhan? Ya karena bisa jadi semua kehendaknya selalu terkabul hingga akhirya dia merasa dia adalah Tuhan. Kegagalan adalah rahasia Ilahi, (Baca: Rahasia Ilahi) dan karenanya ia juga dipahami sebagai satu misteri, dan kenapa ia menjadi misteri? Karena keterbatasan kitalah sebagai manusialah yang tak mampu memahami saat itu juga. Karena bagaimana pun juga, misteri tidak lagi menjadi misteri jika kemudian seiring berjalannya waktu ia bisa dipahami. Bukankah "gagal" itu demikian?. Wallaahu A’lam. []
Kartasura, 24 Maret 2018, 16.49 WIB
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.