MASIGNCLEAN103

Gunung Sindoro Via Alang-Alang Sewu (Pajero)


Manusia hanya bisa berencana dan mengusahakan apa yang telah dorencanakan. Selebihnya, biarlah Tuhan yang menentukan. (Baca: Rahasia Ilahi: Misteri Kegagalan) Itulah yang terjadi pada petualangan kali ini. Aku dan temanku, berencana ingin muncak ke Gunung Sumbing via Bowongso. Singkat cerita, kami berdua berangkat dari Kartasura (Sukoharjo) pada hari Sabtu pukul 03.00 WIB. Kenpa sepagi itu? Ya, karena dari informasi yang kami dapatkan di internet, jalur Bowongso trek nya agak panjang, dan karena kami (utamanya aku) memang tipe pendaki pemula yang amat tidak nyaman dengan perjalanan yang terkesan terlalu di oyo, lebih suka yang santai (dan karena  memang fisiknya gak bisa diajak cepat-cepat).
Berangkat pukul 03.00 WIB, kami berhenti di SPBU di daerah perbatasan Temanggung untuk sholat Subuh. Pukul 05.30 an kami sudah masuk daerah Wonosobo. Cuaca agak mendung memang, tapi kegagahan dua gunung (Sindoro-Sumbing) tetap bisa kami saksikan. Perjalanan mulai agak tidak lancer begitu sudah mulai mencari BC Bowongso yang ternyata memang aksesnya masih agak sulit (menurut kami). Beberapa kali nyasar, akhirnya kami sampai di BC (Base Camp)Bowongso. Tapi, ada situasi yang aneh saat itu, kenapa aneh? Karena kami tidak melihat satu pun manusia yang ada di BC ini, bahkan pintunya pun tertutup. Setelah saya parkir motor, dan menunggu sebentar. Pintu warung yang ada di BC pun dibuka oleh seorang mbak-mbak. Merasa ada yang bisa kami tanyai, aku pun bertanya: “Ndak ada yang nanjak ya mbak?”. Kemudian pertanyaan itu dijawab singkat “ndak ada mas, kan tutup”. Aku pun saling pandang dengan temanku, “tutup?”. Tutup mbak? Tanya temanku memastikan. “iya mas, tutp sampai bulan depan.” “Lhoh, kog di internet gak ada infonya ya mbak.” Sanggah temanku, dan kemudian mbak nya pun bilang kalau di Instagram sudah ada info bahwa Sumbing via Bowongso tutup.
Kecewa? Jangan ditanya. Tapi apa ya harus berlarut-larut? Ndak kog, karena kami putuskan untuk pindah ke gunung sebelah. Sindoro? Iya, Sindoro. Meskipun kata mbak nya tadi Sumbing selain jalur Bowongso masih dibuka. Tapi karena niat awal kami Bowongso, ya sudah kami putuskan tidak jadi  mendaki Sumbing pada kesempatan ini. Sindoro? Yups, Sindoro saja. Via mana? Nyoba jalur yang baru saja, mana? Sindoro via Alang-alang Sewu. Oke, fix.  Meluncur.
Sebenarnya saat perjalanan menuju BC Alang-alang Sewu kami juga harap-harap cemas. Kenapa? Ya karena saat itu memang cuaca sedang tidak bersahabat, konsekuensinya banyak jalur-jalur pendakian gunung yang ditutup. Nah, takutnya yang jalur Alang-alang Sewu Gunung Sindoro juga ditutup. Tapi ternyata kekhawatiran itu tak terbukti, karena BC Alang-alang Sewu hari itu buka.
Saat itu, di BC Alang-alang Sewu juga ada rombongan dari Jakarta yang terdiri dari 6 orang. Rombongan baru mau naik atau sudah turun? Alhamdulillah mereka baru hendak naik. Setidaknya kami yang cuma bisa bareng dengan mereka.
BaseCamp Alang-Alang Sewu
Kami putuskan untuk mulai perjalanan pukul 09.00 WIB. Oh ya, Gunung Sindoro via Alang-alang Sewu ini terdiri dari 3 Pos. Dari BC Alang-alang Sewu sampai ke Pos 1 estimasi perjalanannya sekitar 1,5 jam. Namun, bagi pendaki yang ingin menghemat tenaga, ada ojek yang bisa mengantarkan sampai batas vegetasi atau batas akhir ladang warga.
Ladang Warga, BC menuju Pos I
Kami berdua berangkat terlebih dahulu meninggalkan rombongan yang dari Jakarta yang memang berencana naik ojek untuk sampai Pos 1. Di tengah perjalanan, kami sempat berbincang dengan salah seorang petani yang ada di ladang, seorang bapak-bapak. Percakapan awal ya sekedar basa-basi tanya dari mana dan kami pun juga bertanya-tanya kepada si bapak. Tapi kemudian bapaknya bertanya “cuma berdua saja mas?”, “nggih pak, namung tiyang kalih niki, lak mboten nopo-nopo nggih pak? (iya pak, cuma berdua saja, kan tidak apa-apa ya pak?”. “Nggih mas, mboten nopo-nopo, penting tetep sopan ae, namine ae ten gunung, tapi saene jane ampun namung tiyang kalih, njih njagani menawi enten nopo-nopo yen tiyang kathah kan sekeco (Yam as, tidak apa-apa, penting tetap sopan, namanya juga di gunung. Tapi yang baik seharusnya tidak cuma berdua, ya jaga-jaga semisal ada apa-apa kalau orang banyak kan lebih nyaman.” Singkat cerita, kami berdua pun pamit untuk melanjutkan perjalanan, sambil kami membahas apa yang disampaikan bapaknya tadi.  Bismillah, lancer dan selamat sampai balik besok. Amiiin.
Gubuk di Salah Satu Ladang Warga
Belum sampai Pos 1, tiba-tiba hujan turun. Mau pakai jas hujan, tapi kog malas ya, akhirnya kami berdua berteduh di salah satu gubuk yang ada di ladang. Sambil nunggu hujan reda, kami pun membuat kopi dan sarapan dulu.
Gapura Batas Ladang Warga dengan area Vegetasi
Tak begitu lama, hujan pun mulai reda. Kami memutuska melanjutkan perjalanan. Bagaimana kondisi treknya? Seru. Seru bagaimana? Ya, bukan jalur yang memanjakan, tapi juga tidak terlalu menegangkan (meskipun menegangkan di sini juga relatif ya). Estimasi BC – Pos 1 adalah 1,5 jam, dan kami pun sampai Pos 1 sekitar pukul 11.00 WIB. “Lembah Kesunyian, 1755 Mdpl”. Istirahat sebentar. Oh ya, di Pos 1 ini kami berdua mulai bergabung dengan rombongan yang dari Jakarta, dan sampai perjalanan ke puncak, kamipun selalu bersama. Jadi, ada delapan personil.

Setelah cukup istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pos II. Trek nya? Seru, ada beberapa pohon yang tumbang yang mengharuskan kami untuk melompat atau merangkak semerangkak-merangkaknya untuk melewati itu. Ya, kalau tingkat kengerian trek tertinggi 100, di trek ini 50 lebihlah ya nilainya. Sejauh ini masih teratasi dengan baik. Hingga akhirnya kami dikejutkan dengan adanya trek yang longsor, dan nampaknya longsoran itu masih baru. Lalu? Ya kami saling bantu untuk bisa melewatinya.
Jalur Longsor, antara Pos I menuju Pos II

Singkat cerita? Sampaikah kami di Pos II? Alhamdulillah lancar sampai Pos II. “Lembah Katresnanan, 2062 Mdpl.” Di Pos ini istirahat? Ya iyalah, sambil merenung. Kenapa di Pos I Lembah Kesunyian, kemudian di Pos II Lembah Katresnanan. Adakah makna filosofinya? Sebentar, bisa jadi memang untuk mencapai satu kecintaan, kita harus dihadapkan pada kesunyian yang notabene nya itu pedih. Ah apa iya? Ya, bisa jadi.
Dua pos terlalui, dua pos yang sama-sama tidak ada shalternya. Kira-kira pukul 15.00 kami ada di Pos II. Oh ya, sebelum Pos II ada sumber mata air. Letaknya 100 meter dari jalur pendakian dengan trek yang lumayan landai. Kami putuskan makan siang di sini, sambil mengisi tempat minum kami yang sudah kosong.

Kami agendakan nge-camp di Pos III saja, karena jika kami mendirikan tenda di Pos III, maka summit nya akan teramat jauh. Akhirnya, setelah kami rasa cukup istirahatnya, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju Pos III. Dari Pos II ke Pos III, menurut peta yang kami dapatkan merupakan trek yang berat, dan memang pada kenyataannya demikian. Ditambah lagi, ada semacam pohon yang merambat yang menutupi jalan. Satu-satunya cara yang bisa kita tempuh adalah harus merangkak di bawah rerumpunan yang menyisakan ruang sekitar 30 cm. Beberapa dari kami merangkak terlebih dahulu tanpa carrier. Begitu sampai satu persatu cerrier dioper melalui celah tadi, setelah semua carrier berhasl melewati terowongan semak belukar tadi. Giliran kami yang mulai merangkak satu persatu. Finally? Istirahat bentar, mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga.
Semak Belukar di Jalan antara Pos II menuju Pos III

Cuaca kurang bersahabat ketika hari menjelang sore. Kabut mulai turun dan angin semakin kencang. Jalurnya beneran berat? Sebenarnya jalur Alang-alang Sewu ini trek nya stabil, stabil menegangkan dan stabil tidak memanjakan. Dan karena memang tenaga telah terkuras dari awal, jadi yaw ajar kalau kemudian diperjalanan menuju ke Pos III terasa lebih berat.

Pos III dengan Latar Belakang Gunung Sumbing
Memanfaatkan sisa-sisa tenaga, tiba-tiba salah seorang teman berteriak “Pos III”. Penasaran juga, kalau Pos I Lembah Kesunyian, Pos II Lembah Katresnanan, Pos III apa ya? Rasa lega sampai Pos III ternyata tidak lama, karena kabur semakin tebal dan angin semakin kencang, badaikah? Nampaknya iya. Dalam benak hanya terpikir secepatnya mendirikan tenda. Tapi, tak ada pepohonan tinggi, hanya tanah lapang yang kami temukan di Pos III. Lha mau mendirikan tenda dimana? Entah, kami hanya terdiam sambil meringkuk menahan dinginnya badai. Sudahlah, kami putuskan diam dulu saja, sebelumnya akhirnya ada seorang teman yang mengajak saya mencari tempat untuk mendirikan tenda. Ada rombongan lain? Tidak, hanya ada rombongan kami.
Bersambung ...
Salatiga, 26 Maret 2018, 11.03 WIB
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.