MASIGNCLEAN103

Filsafat Sesat(?)


“Kenapa kita harus belajar filsafat? Bukankah filsafat itu mendekatkan kita pada kesesatan?”
Pertanyaan di atas kemudian dilanjutkan dengan kutipan beberapa tokoh Islam yang mengkritik tentang ilmu Filsafat. Satu yang masih saya ingat adalah imam al-Ghazali yang memang dalam karyanya Tahaful al-Falasifah cenderung mengkritik pemikiran filsafat.
Sebenarnya, sepanjang sejarah keilmuan Islam, para intelektual yang ada sudah mengajarkan tentang konsep metodologi keilmuan yang amat ilmiah. Sebut saja dalam keilmuan hadist, dikenal ada istilah asbabul wurud (jika dalam ulumul Qur’an dikenal dengan asbabun nuzul) yang kurang lebih itu mengingatkan kita bahwa ada beberapa ketentuan hukum yang penetapannya sangat terkait dengan konteks saat hukum itu ditetapkan. Dalam hal pandangan tentang filsafat pun perlu kita cermati lebih dalam lagi.
Tentu amat tidak bijak jika kemudian kita sekalian menghukumi filsafat sebagai ilmu yang menyesatkan dengan alasan beberapa intelektual muslim mengatakan itu (filsafat sesat). Fakta adanya beberapa intelektual muslim yang berpendapat demikian memang tidak bisa dibantah, apalagi jika kemudian pandangan mereka telah terdokumentasikan dalam sebuah karya. Akan tetapi, ada hal lain yang perlu kita pastikan, yakni kenapa mereka kemudian sampai pada kesimpulan itu? Atau paling tidak kita pastikan terlebih dahulu filsafat macam apa yang mereka hukumi sesat (baca: menyimpang)? Jangan-jangan, filsafat yang mereka maksud berbeda dengan filsafat yang hendak kita ingini.
Ada yang berargumen bahwa filsafat mengantarkan kita pada pengingkaran kita akan Tuhan, baik dari segi Dzat, Sifat atau pun Asma’. Jika memang demikian, maka mari kita setujui bahwa filsafat macam itu sesat. Artinya, persetujuan ini kita pakai hanya pada filsafat yang membawa kita pada pengingkaran Tuhan, tidak bisa digeneralisir bahwa semua filsafat sesat. Karena “generalisir serampangan” itu akan menimbulkan kerancuan. Bagaimana tidak? Untuk definisi filsafat saja kita belum mencapai keputusan final (silahkan dibuktikan dengan membuka beberapa referensi yang berbicara tentang filsafat), lantas apakah kita akan menentukan hukum final dalam filsafat?

Louis O. Kattsoff, dalam karyanya Pengantar Filsafat (terj. Soejono Soemargono, 2004: 6) mengatakan bahwa perenungan kefilsafatan ialah percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang memadai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami diri kita sendiri. Sementara, Hasan Basri (2009: 9) mencirikan filsafat dengan berpikir yang logis, sistematis, kritis, logis, kontemplatif, radikal dan spekulatif.
Selain dua definisi di atas, kita akan temukan definisi-definisi lain tentang filsafat dalam banyak literatur lainnya yang bisa jadi akan banyak variasi pemaknaannya. Karenanya, sekali lagi saya katakan bahwa akan amat kurang bijak jika memakai satu sudut pandang filsafat (yang sesat), kemudian kita pakaikan itu ke semua jenis filsafat yang ada. Dan tentu sikap “generalisasi serampangan” ini amat tidak menyamankan. Sama tidak nyamannya ketika ada orang lain yang men-generalisirkan bahwa Islam itu adalah ISIS.
Dalam hal ini, maka kita perlu memposisikan diri seproporsional mungkin. Bahwa filsafat memiliki pemaknaan yang bermacam-macam, meski secara esensi semua memiliki kesamaan, yakni berpikir yang amat mendalam. Kita coba fokuskan pada pemaknaan perenungan filsafat yang disampaikan Louis O. Kattsoff di atas, bahwa perenungan filsafat adalah perenungan untuk memahami dunia tempat kita hidup, dan lebih jauh lagi yaitu memahami siapa kita ini. Jika definisinya demikian apakah kita akan mengatakan sesat? Apakah sesat jika kita mencoba memahami siapa diri kita?  sementara ada adagium (saya lupa apakah ini hadist atau pendapat ulama) yang mengatakan “kenalilah dirimu, maka kau akan mengenal Tuhanmu”. Apakah salah jika kita berusaha mengenali Tuhan dengan cara kita mengenali diri kita melalui perenungan filsafat?
Silahkan jika anda masih yakin bahwa filsafat itu menyesatkan. Tapi yang saya yakini berfilsafat adalah fitrah manusia, yang bagaimana pun kita mencoba menghilangkan itu, kita tak akan mampu. Bahwa filsafat tidak harus kita mintai pertanggungjawabannya jika sejarah memberikan data tak terbantah, bahwa ada beberapa filosof yang karena pemikiran filsafatnya menjadikan mereka ingkar pada Tuhan. Tapi apakah itu akan kita jadikan alasan untuk membenci filsafat? Bahwa jika kita temukan ada orang yang membunuh menggunakan pisau, apakah kita putuskan untuk membenci pisau selamanya? (Baca: Cinta Kebijaksanaan dalam Filsafat).
Mari satukan frekuensi kita tentang filsafat, bahwa filsafat dalam pemaknaan yang paling sederhana dan yang kekinian adalah “kepo” (rasa ingin tahu). Bahwa berfilsafat berarti kita sedang ngepoin apa saja yang bisa kita kepoin, termasuk diri kita sendiri. Jika filsafat yang kita pahami itu demikian, maka bukankah kita bisa dengan sangat mudah katakan bahwa filsafat adalah fitrah manusia? Kenapa masih ragu mengatakan iya? Coba kita perhatikan diri kita sendiri, sudah berapa kali pertanyaan yang terlontar hari ini? Bukankah bertanya itu berarti kepo? Jika kemudian kita katakan filsafat sesat, bukankah dalam waktu yang sama kita sedang menyesatkan diri kita sendiri? Atau jika kita masih enggan mengatakan filsafat tidak sesat, lantas apa yang bisa kita jelaskan tentang adanya fakta, bahwa Allah mengabadikan proses “kekepoan” Nabi Ibrahim saat mencari Tuhan dalam QS. Al-An’am: 76-79? Bukankah saat itu Nabi Ibrahim sedang berfilsafat?
Akhirnya saya kembali lagi pada sosok yang amat istimewa dalam keilmuan Islam, imam al-Ghazali. Bahwa memang benar beliau mengkritik filsafat dalam karyanya Tahafutul Falasifah, tapi jika kemudian karya itu dijadikan argumen bahwa imam al-Ghazali menolak filsafat saya rasa kurang tepat. Apa pasal? Pasalnya, ketika imam al-Ghazali mengkritik filsafatnya Al-Farabi, Ibn Sina dan Aristoteles justru mengindikasikan bahwa imam al-Ghazali juga seorang filosof (pemikir yang amat kritis radikal, sistematis dan logis). Karena hanyalah filosof yang bisa mengkritisi filosof lainnya (kita bisa diskusikan bersama tentang sejarah filsafat dari masa Yunani, mulai dari filosof alam, filosof manusia dan sampai sekarang ada dialektika para filosof yang saling kritik). Sama halnya dengan hanya seorang dokterlah yang bisa mengkritisi diagnosa dokter lain. Karena jika anda bukan dokter, kemudian mengkritik diagnosa yang dibuat oleh seorang dokter, maka tidak akan ada orang yang percaya. Polanya sama dalam hal filsafat, jika kita percaya akan kritikan imam al-Ghazali terhadap filsafat, maka secara tidak sadar kita sedang mengakui bahwa al-Ghazali juga seorang filosof. Wallaahu A’lam. []
Kartasura, 23 Maret 2018, 08.43 WIB
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.