MASIGNCLEAN103

Sejarah Terulang: Kejayaan Ilmu Pengetahuan Islam dan Barat

“Sejarah akan selalu terulang, dengan pemeran yang berbeda.”
Premis itu saya dapatkan ketika saya sedang menempuh S1. Ya, jika tidak salah ingat saat itu di mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam, dosen makul tersebut meminta kami (para mahasiswa membaca buku Metodologi Sejarah karya Kuntowidjoyo). Kebetulan, saya yang ditunjuk untuk bercerita tentang isi dari buku tersebut. Bahwa alur sejarah akan senantiasa berulang dari masa ke masa, dengan pemeran yang berbeda. Dari situlah kemudian saya benar-benar memahami jika belajar sejarah itu tidak hanya berbicara masa lalu, tapi juga kita diajak untuk belajar hidup di masa depan. Why? Karena – sekali lagi – sejarah itu selalu terulang, dan sejarah akan menjadikan kita bijaksana lebih awal.
Dari sini, kemudian mind-set saya tentang sejarah berubah 180 derajat. Ya, awalnya, sejarah menjadi satu entitas keilmuan yang sangat tidak saya sukai, karena saya memandang sejarah hanya kumpulan cerita masa lalu yang entah kenapa saya harus mempelajari yang sudah berlalu. Parahnya, di lembaga-lembaga pendidikan yang saya tempuh, pelajaran sejarah selalu mengharuskan kami menghafalkan tokoh-tokoh dan juga tanggal-tanggal penting tanpa kami tahu untuk apa sebenarnya penghafalan itu kami lakukan? Tapi, itu semua berubah ketika saya mulai menemukan bahwa laku dunia ini dari masa ke masa memiliki pola-pola tertentu yang selalu berulang.
Satu contoh yang bisa saya berikan dalam tulisan ini. Bahwa adanya pola yang sama antara masa Keemasan Islam (The Golden Age) dengan masa Keemasan Ilmu Pengetahuan di Dunia Barat. Dua masa yang berbeda yang memiliki pola yang sama. Berikut adalah skema perkembangan ilmu pengetahuan yang ada di dunia Islam dan dunia Barat:


Skema tersebut saya ambilkan dari buku karya Mehdi Nakosten “Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat” yang di dalamnya kita akan sangat tahu bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang ada di dunia Barat saat ini memiliki akar sejarah yang teramat erat dengan ilmu pengetahuan di dunia Islam pada masa Dinasti Abbasiyah yang menjadi masa di mana Islam menjadi barometer perkembangan ilmu pengetahuan dunia saat itu. Jika kita cermati skema di atas, maka kita akan temukan pola yang sama antara pencapaian kejayaan ilmu pengetahuan yang ada di dunia Islam dengan kejayaan ilmu pengetahuan di dunia Barat.
Jika ada yang mengatakan bahwa abad keemasan Islam dicapai karena menggunakan sistem Khilafah, yang kemudian ini dipahami oleh beberapa kelompok untuk perlunya mendirikan Negara Khilafah jika ingin mengulang kembali kejayaan Islam. Maka, nampaknya kita perlu renungkan kembali lagi, benarkah kejayaan itu dicapai karena factor Khilafah? Nampaknya tidak, karena skema di atas setidaknya mampu membantah dugaan itu.
Bahwa dinasti Abbasiyah adalah dinasti yang sangat menaruh perhatian teramat tinggi pada dunia intelektual. Khalifah Al-Mansur, Harun Al-Rasyid kemudian Al-Ma’mun adalah beberapa diantara khalifah yang sejarah mencatatnya sebagai khalifah yang amat menaruh perhatian penuh dalam keilmuan. Yang menarik kita cermati adalah, Dinasti Abbasiyah justru tidak menolak keilmuan-keilmuan dari luar Islam. Lebih jauh lagi, dinasti Abbasiyah justru amat terbuka menerima keilmuan-keilmuan yang ada di luar Islam. Maka, sejarah mencatat ada gelombang penerjemahan buku-buku filsafat Yunani yang amat massif di lingkungan kerajaan saat itu. Bahkan, dari salah satu perkuliahan yang saya diikuti, dikatakan bahwa penerjemahan buku-buku filsafat ini dihargai sangat tinggi. Jika ada yang mampu menerjemahkan satu buku, kemudian buku itu dibawa ke kerajaan, maka si penerjemah ini akan mendapat imbalan emas seberat buku yang telah ia terjemahkan.
Jadi, pola abad keemasan Islam ini setidaknya menurut skema di atas adalah: 1. Mengambil literatur-literatur dari luar Islam, 2. Menerjemahkan literature-literatur itu ke dalam bahasa Arab. 3. Terjemahan tersebut kemudian diajarkan di universitas-universitas yang ada. Jadi, saya melihat abad keemasan itu tercapai karena Islam amat terbuka terhadap peradaban-peradaban yang pernah berjaya sebelumnya. Islam tidak membatasi diri pada literatur-literatur yang hanya ada dalam Islam saja. Saat ilmu pengetahuan Islam berkembang pesat inilah, kemudian orang-orang Barat datang ke pusat-pusat pendidikan yang ada di Andalusia (Spanyol) dan Persia (Iran) untuk menuntut ilmu.
Sejarah terulang, pola yang sama. Saat dunia Islam ada di abad keemasan, maka dunia Barat ada pada masa kegelapan. Jika saat ini kita ada di siang hari, pasti ada bagian di dunia ini yang sedang ada di kondisi malam hari. Sama halnya dalam sejarah keemasan ilmu pengetahuan. Islam ada di siang hari yang penuh dengan cahaya, Barat ada di malam hari. Dan ternyata pola Barat mencapai abad keemasan pun sama dengan pola Islam mencapai abad keemasan. Barat mengambil peradaban Islam, kemudian menerjemahkan, dan kemudian dipelajari di universitas-universitas yang ada di Barat. Akhirnya, di saat Barat mulai bangkit, maka Islam mulai mengalami kemunduran. Di saat Barat mulai menyongsong fajar, maka Islam mulai masuk masa senja. Dan benar saja, saat Barat mencapai keemasaannya, maka Islam mulai terjerembab di masa kegelapan.
Sekali lagi, sejarah selalu terulang dengan pola yang sama. Maka, ketika ada yang bertanya, apakah Islam bisa meraih kembali abad keemasan di masa Abbasiyah? Jawabannya sangat bisa. Dengan cara apa? Mendirikan Khilafah islamiyah? Ah, bukan. Kita ikuti polanya saja, dengan cara apa? Setidaknya, kita harus membuka diri dan tidak membatasi diri dengan hanya mau menerima yang berasal dari Islam saja. Agak disayangkan memang jika masih ada yang berpikiran, “ah, inikan dari Barat, saya nggak berani baca. Ah, ini kan karya orang atheis, saya nggak berani baca, nanti sesat.” Terbuka, adalah salah satu faktor yang menjadikan Islam menjadi barometer ilmu pengetahuan dunia. Tidak percaya? Silahkan pembaca buktikan sendiri.
Masih banyak bukti-bukti yang dapat meyakinkan kita semua bahwa alur cerita dunia ini sebenarnya sangat monoton.  Maka, benar saja, jika sejarah menjadikan kita bijak lebih awal. Karena jika kita bisa temukan pola, maka kita akan bisa menentukan mana yang akan kita pilih, kehidupan apa yang hendakkita jalani. Jika kita memilih jalan A, maka konsekuensinya bisa kita prediksi sesuai dengan fakta sejarah yang telah ada. Jika jalan B yang kita pilih, maka setidaknya konsekuensi yang akan kita terima bisa kita cari referensinya melalui kejadian-kejadian yang sudah ada.
“Sejarah selalu terulang, temukan polanya, dan kita tinggal ikuti saja pola itu.”
Jepara, 12 januari 2018. 10.58 WIB




Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.