MASIGNCLEAN103

Benarkah Ahok Menistakan Agama?


Beberapa minggu ini, umat Islam di Indonesia – bahkan di dunia – disibukkan dengan isu penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama (Ahok). Berbagai reaksi muncul dari beberapa kalangan umat Islam dengan reaksi yang beraneka ragam. Ada yang menyatakan bahwa pernyataan Ahok di Kepulaun Seribu sebagai bentuk penistaan agama Islam, sehingga menurut kelompok ini Ahok perlu diadili secara hukum. Namun tidak sedikit pula yang menyatakan bahwa pernyataan Ahok itu tidak bisa dikatakan sebagai penistaan agama, atau meskipun tidak  secara tegas mengatakan bahwa itu bukan termasuk penistaan agama, mereka ini merasa tidak perlu membesar-besarkan pernyataan Ahok, apalagi pada kenyataannya Ahok juga sudah meminta maaf dan ber-tabayun jika dirinya tidak ada maksud menistakan Al-Qur’an atau pun Islam.
Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya pribadi terkait dengan isu penistaan agama ini. kenapa saya katakan isu? Ya, karena memang nyatanya sampai sekarang saya belum menerima berbagai fakta yang diberikan oleh kelompok yang kontra Ahok, bahwa Ahok telah menistakan Al-Qur’an yang artinya juga menistakan agama Islam. Memang, MUI sudah mengeluarkan fatwa bahwa pernyataan Ahok terkait surat Al-Maidah 51 sebagai pernyataan yang menistakan agama Islam, di mana salah satu argumen yang dibangun adalah telaah dari segi bahasa yang pada akhirnya disimpulkan bahwa secara tidak langsung Ahok telah mengatakan bahwa Al-Qur’an itu alat bohong, dan juga mengatakan bahwa ulama yang menafsirkan surat Al-Maidah 51 sebagai orang yang bohong ketika dikatakan bahwa jangan memilih pemimpin dari non-Islam.
Pernyataan Ahok “anda dibohongin orang pakai surat Al-Maidah 51” yang dikatakan sebagai penistaan pada Al-Qur’an diqiyaskan dengan “anda dipukul pakai penggaris” atau dalam salah satu acara diskusi di salah satu stasiun TV disebutkan bahwa “anda dibunuh pakai pisau”. Yang menjadi perhatian di sini adalah Al-Qur’an; penggaris; dan pisau. Di mana dari pengqiyasan itu diambil satu kesimpulan bahwa Ahok mengatakan Al-Qur’an adalah alat berbohong.
Entah mengapa sampai sekarang saya masih belum bisa menerima pengqiyasan ini, dan belum bisa pula memahami di sisi mana Ahok menistakan agama Islam? Karena saya meyakini bahwa pisau atau penggaris itu bukanlah alat membunuh atau alat pemukul, keduanya tentu bersifat netral, sama halnya dengan Al-Qur’an. Tidak bisa kemudian dinyatakan jika pisau itu alat pembunuh dengan argumen bahwa ada orang yang membunuh pakai pisau, sehingga jika ada yang menggunakan pisau kemudian dikatakan sebagai pembunuh.  Sama halnya dalam Al-Qur’an, mau tidak mau kita harus meyakini jika ayat-ayat dalam Al-Qur’an itu amatlah netral, dia akan bermakna jika ada orang yeng memberi makna.
Sampai sini saya kemudian teringat dengan pernyataan almarhum Gus Dur yang sangat kontroversial, di mana dalam salah satu acara Gus Dur menyatakan(jika tidak salah ingat)  bahwa Al-Qur’an itu kitab porno, karena di dalamnya ada ayat tentang menyusui. Kontan pernyataan itu menuai banyak kritik dari berbagai kalangan, utama para pemuka agama Islam. Tapi kemudian Gus Dur mengklarifikasi bahwa Al-Qur’an itu akan menjadi porno jika yang membacanya punya pikiran porno, jadi ketika membaca ayat tentang menyusui, jika orang yang membaca itu memiliki pikiran porno, maka al-Qur’an itu – bisa jadi – menjadi sarana untuk berpikir porno.
Nah, dari situ kemudian saya berpikir bahwa tidak tepat jika menyimpulkan bahwa Ahok menistakan agama hanya dengan dasar pemahaman bahwa pernyataan Ahok itu bermakna mengatakan Al-Qur’an itu alat bohong. Karena bagaimana pun juga kita tidak bisa mengatakan bahwa pisau itu alat membunuh, karena pada kenyataannya pisau tidak selalu identik dengan membunuh, kita bisa itu memakai pisau untuk mengupas buah-buahan, bisa pula kita gunakan untuk memotong sayur mayur dan segala kegiatan yang positif. Dan saya kira al-Qur’an pun demikian, saya bukan bermaksud mengatakan al-Qur’an itu sama dengan pisau, tapi Al-Qur’an itu layaknya pisau yang sifatnya netral. Bisa kita gunakan sebagai sesuatu yang positif, misalnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT., tapi juga tidak bisa kita pungkiri jika al-Qur’an ini juga berpotensi digunakan untuk hal-hal yang negatif tergantung siapa yang menggunakan itu.
Pertanyaan kemudian, apakah bisa Al-Qur’an digunakan untuk sesuatu yang negatif? Bukannya saya enggan memberi jawaban atas pertanyaan ini, tapi silahkan kita buka kembali sejarah-sejarah peradaban Islam atau lebih khusus sejarah tentang aliran-aliran Kalam yang ada di dunia Islam, tentu kita akan menemukan banyak sekali aliran Kalam yang mendasarkan perbuatan-perbuatan “keji” mereka yang dilandaskan pada Al-Qur’an. Jika kita enggan membuka sejarah, maka cukuplah kita perhatikan para teroris yang ada di dunia saat ini. Di sekian banyak kelompok teroris ada itu yang mengaku bahwa tindakan yang mereka lakukan itu adalah sudah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadist. Kita mungkin bisa mengatakan bahwa penilain mereka itu salah, tapi mau tidak mau kita harus mau menerima jika kenyataannya ada orang yang menggunakan Al-Qur’an sebagai dasar  untuk membunuh orang lain ini sebagai bukti bahwa memang pada dasarnya Al-Qur’an itu sangat netral, pemaknaannya tergantung oleh orang yang memaknai.
Jadi, saya – sekali lagi – kurang bisa menerima argumen yang dipakai sebagai pengambilan kesimpulan bahwa Ahok menistakan Al-Qur’an, bahwa secara tidak langsung Ahok menyatakan bahwa Al-Qur’an itu alat bohong, dan justru saya malah menganggap jika yang menafsirkan pernyataan Ahok sebagai penistaan agama lah yang sebagai penista al-Qur’an. Ya, memang itu yang saya pahami, karena tanpa ada pemaknaan itu kehebohan pernyataan Ahok itu tidak akan terjadi.
Akhirnya saya mengakhiri tulisan ini dengan memohon perlindungan kepada Dzat Yang Memberi manusia akal pikiran, perlindungan dari kesalahan dalam berpikir dan berpendapat. Jika pendapat saya salah, semoga kelak Yang Maha Mengetahui memberikan pemahaman yang lebih benar, dan jika itu benar maka tidak ada yang dapat mendatangkan kebenaran itu kecuali Dzat Maha Benar. Wallaahu a’lam
Salatiga, 02 November 2016, 18.09 WIB
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.