MASIGNCLEAN103

Penelitian dan Kepentingan Tersembunyi



“Terkadang, kita tak akan pernah bisa percaya sepenuh hati terhadap apa yang diucapkan oleh orang lain sebelum kita benar-benar mengalami apa yang diucapkannya itu”.
Sama halnya dengan apa yang pernah penulis tulis terkait dengan pelatihan research skill sebelumnya (baca: Refleksi Pelatihan Research Skill). Maka, hal serupa pun penulis rasakan kembali saat penulis melakukan penelitian dalam rangka penyelesaian Tugas Akhir kali ini.
Sebelumnya, beberapa dosen dan juga rekan-rekan pernah menyinggung tentang adanya maksud tersembunyi yang ada di balik negara asing memberikan beasiswa pendidikan bagi pelajar/mahasiswa Indonesia. Jika kita cari di google, tentu bukan hal yang sulit untuk menemukan beberapa – jika tidak salah sebut – badan atau lembaga luar negeri yang memberikan bantuan pendidikan kepada masyarakat Indonesia.
Jika dilihat sekilas, adanya lembaga-lembaga luar negeri tersebut yang dengan mudahnya menggelontorkan dana untuk membiayai pendidikan mahasiswa pribumi adalah seseuatu yang positif. Namun, oleh beberapa dosen dan juga rekan penulis menilai bahwa beasiswa tersebut tentunya bukan hanya diberikan secara cuma-cuma. Logikanya, untuk apa mereka yang bukan bagian dari bangsa ini rela mengeluarkan dana untuk membiayai para pelajar di Indonesia? Dengan tidak bermaksud mendahulukan sikap berburuk sangka, melainkan lebih kepada sikap berhati-hati. Maka tidak aneh jika kemudian ada beberapa yang menilai ada maksud tertentu dibalik pemberian beasiswa oleh pihak luar untuk pelajar Indonesia.
Pertanyaannya kemudian, lantas kepentingan apa yang hendak dijalankan sehubungan dengan pemberian beasiswa tersebut? Tentu untuk menjawab pertanyaan tersebut bukanlah hal yang mudah. Karena bagaiamana pun mereka tentu akan mengelak ketika kita tanya. Atau mereka akan menjawab dengan jawaban yang terdengar akan menguntungkan kita. Tapi apakah benar demikian?        
Awalnya, penulis tidak begitu ngeh dengan apa yang disampaikan oleh dosen penulis. Ketidak-ngeh-an penulis mungkin dikarenakan dua sebab. Pertama, karena memang penulis tidak paham dengan hal-hal semacam ini, yakni terkait adanya kepentingan-kepentingan yang tersembunyi. Kedua, karena memang penulis tidak pernah terlibat langsung di dalamnya, yang dalam awal tulisan penulis sebut sebagai “sebelum kita benar-benar mengalaminya”.
Namun, beberapa bulan terakhir ini, ketidak-ngeh-an penulis ini sedikit demi sedikit mulai memudar saat penulis melakukan penelitian di sebuah perguruan tinggi. Sebagai mana penelitian-penelitian pada umumnya, tentu ada sesi wawancara dengan informan yang mempunyai kapasistas dalam hal yang hendak diteliti. Singkat cerita, dalam sesi wawancara dan pengumpulan data dengan salah seorang informan, tiba-tiba ada sedikit tuduhan yang ditujukan pada penulis. Kurang lebih informan tersebut mengatakan pada penulis “apa mas ingin mendirikan lembaga semacam ini di kampus mas? kog tanyanya sampai sedetail itu?”.
Dari situlah kemudian penulis mulai ngeh, bahwa bisa jadi kepentingan orang asing memberikan beasiswa untuk pelajar Indonesia adalah agar mereka bisa tahu apa yang ada dalam diri bangsa ini dari penduduknya sendiri, yaitu para mahasiswa itu tadi. Sama halnya, ketika penulis melakukan penelitian di perguruan tinggi lainnya yang kemudian beruasaha mencari apa saja yang dimiliki perguruan tinggi lain itu, maka bisa jadi apa yang mereka miliki akan penulis “curi”. Atau setidaknya penulis merasa menjadi sebagai mata-mata yang sengaja dikirim untuk menyelidiki ada apa saja di Karena memang dari penelitian tersebut, ada banyak hal baru yang penulis temukan, yang memang ada saat di mana terbesit dalam benak penulis untuk menceritakan temuan tersebut kepada perguruan tinggi di mana penulis berada.
Penulis kemudian membayangkan, katakanlah ada 1000 mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari lembaga asing. Kemudian, dalam tugas akhir mereka, mereka meneliti apa yang ada di Indonesia sendiri. Setelah penelitian selesai, hasil penelitian itu kemudian menjadi milik mereka yang memberi beasiswa. Maka, secara tidak langsung, mereka bisa mengetahui secara detail 1000 hal tentang Indonesia tanpa mereka harus terjun langsung mengamati Indonesia. Lantas apakah hanya berhenti di situ saja? Yakni hanya ingin tahu? Rasa-rasanya tidak mungkin sampai di situ saja. Ini hanya sebatas praduga penulis, meskipun penulis yakin juga banyak yang beranggapan seperti ini, yakni dengan mereka tahu tentang kita, mereka juga akan tahu bagaimana memanfaatkan apa yang kita miliki.
Mungkin penulis keliru, tapi berdasarkan sepenggal pengalaman penulis saat melakukan penelitian tersebut, maka penulis mulai mengamini apa yang pernah disampaikan oleh dosen dan beberapa rekan penulis. Bahwa pihak asing punya kepentingan tersembunyi dalam hal memberikan beasiswa kepada para mahasiswa Indonesia. Meskipun bisa jadi kepentingan itu tidak destruktif, tetap saja akan sangat disangsikan jika pihak lain akan dengan tulus membantu kita menjadikan bangsa ini lebih maju, dan akan sangat sulit pula untuk berbaik sangka jika mereka akan sangat rela dan bersuka cita melihat bangsa lain menjadi lebih maju.
Malang, 03 Maret 2016 / 12.23 WIB
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.