MASIGNCLEAN103

Antara Pendidikan Islam, Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Keislaman



Pendidikan Islam dengan Pendidikan Agama Islam adalah dua istilah yang terkadang disamapahamkan, padahal keduanya itu berbeda. Menurut Ahmad Tafsir, Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berwarna Islam, atau pendidikan yang Islami. (Ahmad Tafsir, 2007: 24). Artinya, pendidikan yang dimaknai sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak/mereka yang belum dewasa dengan menjadikan ajaran Islam sebagai pijakan di dalamnya. Konsekuensinya, ruang lingkup pendidikan Islam ini bukan hanya mengajarkan ilmu agama, atau lebih khususnya tentang ibadah, melainkan juga menyangkut ilmu-ilmu sosial, politik, ekonomi, budaya, dan seterusnya. Hanya saja untuk beberapa disiplin ilmu yang terakhir disebut itu juga berpijak pada ajaran Islam (Al-Qur’an dan Hadist).
Ini berbeda dengan Pendidikan Agama Islam, yang dimaknai sebagai pendidikan yang mengajarkan tentang apa itu agama Islam. Yang kemudian ketika istilah Pendidikan Agama Islam ini di-landing-kan ke dalam lembaga-lembaga pendidikan yang ada di semua jenjang pendidikan hanya membicarakan tentang ajaran Islam yang cenderung hanya berkutat pada urusan fiqih saja. Sehingga, agama Islam yang diajarkan di sekolah-sekolah, termasuk di perguruan tinggi terasa sangat kering, setidaknya ini yang penulis rasakan.
Dalam tulisan ini, penulis ingin sedikit mengeksplorasi tentang istilah Pendidikan Agama Islam ini. beberapa hari yang lalu, penulis sempat mengnjungi toko buku, dan menemukan buku Huston Smith tentang Agama-agama Manusia edisi bergambar , yang kurang lebih membicarakan tentang agama-agama manusia, baik itu yang biasa di sebut dengan agama samawi dan agama ardhi. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba penulis teringat dengan istilah Pendidikan Agama Islam.
Jika dikatakan bahwa Pendidikan Agama Islam itu memiliki lingkup yang lebih sempit dari Pendidikan Islam, maka tidak demikian dengan pemahaman penulis. Bahwa istilah Pendidikan Agama Islam itu justru memiliki lingkup kajian yang seharusnya lebih luas. Argumentasi sederhana yang penulis ajukan adalah bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan istilah yang memiliki tiga kata dasar di dalamnya, yaitu pendidikan, agama, dan Islam. Ini berarti, ada tiga komponen yang sebelum ia menyatu menjadi pendidikan agama Islam adalah merupakan satuan komponen yang memiliki kajian tersendiri di dalamnya.
Di situ ada pendidikan, yang secara sederhana bisa dimaknai – seperti yang disebut di awal – sebagai upaya sadar untuk menjadikan orang menjadi dewasa, dan tahu. Atau mungkin definisi-definisi lainnya tentang pendidikan yang banyak terdapat diliteratur-literatur yang sudah ada. Kemudian, kata yang kedua adalah agama, di mana seperti yang ketahui bahwa agama-agama yang ada di muka bumi ini amatlah bermacam-macam. Ada agama samawi, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Kemudian agama ardhi, yang diantaranya adalah Hindu, Budha dan Konghucu, dan agama-agama lainnya yang merupakan hasil perenungan manusia untuk menemukan Sang Maha Tinggi. Terakhir adalah kata Islam yang secara sederhana dimaknai sebagai suatu agama yang dibawa oleh seorang Nabi dan Rasul akhir zaman Muhammad saw.
Ketiganya, menurut penulis memiliki hubungan yang hirarki yang saling terkait. Kenapa penulis mengatakan Pendidikan Agama Islam lebih luas cakupannya dibanding Pendidikan Islam? Jawabannya ada dalam kata “agama”. Bahwa pendidikan agama Islam seharusnya tidak hanya membicarakan tentang agama Islam saja, melainkan harus membicarakan juga agama-agama lain di luar Islam. Misalnya, ketika berbicara tentang konsep  ketuhanan dalam Islam, maka perlu juga dibicarakan konsep ketuhanan dalam agama-agama lain.
Kemudian, dalam hal membicarakan konsep manusia, maka disampaikan pula konsep manusia ini - katakanlah terkait relasi jender - dalam agama di luar Islam. Ini bukan berarti mengaburkan ajaran Islam dengan memasukkan pula ajaran agama lain, tapi justru dengan begitulah akan nampak benar betapa unggulnya Islam.  Ini setidaknya sudah penulis alami, bahwa justru dengan kita mau menengok ke dalam ajaran-ajaran lain, kita akan semakin yakin bahwa agama inilah yang benar, tentu kebenaran ini dalam konteks diri pribadi.
Kemudian, yang tak kalah pentingnya adalah dengan mengajarkan agama-agama lain di bawah payung Pendidikan Agama Islam, akan menjadikan peserta didik itu menjadi pribadi yang berkeagamaan inklusif, karena memang bagaiman pun juga di balik perbedaan-perbedaan ajaran keagamaan, semua agama tetap memiliki nilai-nilai Universal (kalimatun sawa’) yang justru lebih banyak jika dibandingkan dengan perbedaan yang dimiliki antar agama.
Intinya, kata “agama” dalam Pendidikan Agama Islam, menurut penulis adalah bukan sebagai pengkhususan terhadap materi yang diajarkan dalam pendidikan itu hanya tentang agama Islam saja. Justru, dengan adanya kata “agama” tersebut, menjadikan pendidikan yang hendak dilaksanakan itu harus membahas semua agama. Adapun untuk kata “Islam” itu sendiri adalah sebagai identitas bahwa Islamlah yang paling ditonjolkan di antara agama-agama lain, dengan kata lain pendidikan ini harus menjadikan peserta didik itu semakin dekat dengan Islam, dekat dalam arti semakin yakin untuk menjadikan Islam sebagai agama yang harus dipeluk. Sementara itu, untuk pendidikan yang khusus membahas agama Islam, penggunaan istilah yang tepat menurut penulis adalah Pendidikan Keislaman, yakni pendidikan yang menjadikan agama Islam sebagai objek yang dikaji. Jadi, Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berwarna Islam, kemudian Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang menjadikan agama-agama lain sebagai pijakan untuk mengetahui dan meyakini akan kebenaran Islam. Sementara itu, Pendidikan Keislaman adalah pendidikan yang menjadikan Islam sebagai objek kajiannnya. Wallaahu A’lam
Malang, 4 Maret 2016, 10.05 WIB
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.