MASIGNCLEAN103

Puzzle Keilmuan Allah SWT (Part 2): Pendidik dan Da'i



Dalam tulisan sebelumnya, penulis telah sedikit membicarakan tentang keluasan ilmu Allah yang penulis ibaratkan sebagai puzzle (baca: Puzzle Keilmuan Allah SWT.). Maka, dalam tulisan ini penulis akan mencoba memberikan contoh atau bisa jadi menjadi alasan penulis untuk kemudian mengatakan bahwa keluasan keilmuan Allah yang kemudian dianugerahkan kepada manusia adalah ibarat potongan-potongan puzzle yang jika saja kita mau merangkai tiap potongan puzzle ini maka niscaya kita akan merasakan dua hal, yaitu takjub dan pada saat yang sama kita akan merasa “bodoh”, bodoh dalam arti ingin senantiasa mencari potongan-potongan puzzle lainnya untuk melengkapi potongan puzzle yang telah kita miliki saat ini. Dari sini setidaknya penulis menemukan titik temu dari apa yang pernah penulis dengar dari guru-guru penulis, bahwa semakin kita belajar (membaca buku) maka kita bukan justru merasa pintar, tapi malah menjadikan kita merasa bodoh. Tentu bodoh di sini bukan berarti negatif, melainkan bodoh yang mendorong kita untuk semakin mencari ilmu.
Dalam salah satu perkuliahan, seorang Profesor mengkritik para guru-guru di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi terkait dengan ketidaksesuaian apa yang disampaikan dengan apa yang dikerjakan oleh seorang guru ini. Seorang guru yang beragama Islam, setiap masuk kelas dan mengawali pembelajaan biasanya mengucapkan “assalamualaikum” kepada para siswa. Secara sederhana, salam tersebut mengandung arti menyebarkan kedamaian, kedamaian yang juga bisa dimaknai sebagai mencipta rasa aman dan nyaman, yang dalam konteks ini berarti menjadikan peserta didik merasa aman dan nyaman. Akan tetapi, tidak sedikit guru-guru yang ketika mengajar diawali dengan salam, tapi begitu melihat siswanya nakal, entah itu membuat kegaduhan di kelas atau ada siswa yang tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), guru ini lantas memarh-marahi siswanya. Belum lagi jika kemudian guru ini memperlakukan siswanya sedemikian rupa sehingga siswa-siswinya menjadi takut pada si guru.
Pemaparan Profesor di atas membuka spektrum baru dalam benak penulis. Hal yang nampaknya sederhana tapi sekian lama luput dalam pengawasan penulis. Bahwa jika kita renungkan dalam-dalam fenomena ini, yakni guru yang selalu marah-marah di kelas karena melihat tingkah laku siswanya yang – mungkin – nakal akan sangat berbanding dengan semangat ucapan “assalamualaikum”.
Dalam kesempatan lain, penulis kemudian menyadari bahwa hal semacam ini juga terjadi di mimbar-mimbar masjid atau majlis keilmuan. Selain mengucapkan salam, biasanya para da’i juga membaca basmalah, kemudian mengutip ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk hadist-hadist Nabi dalam mengawali ceramahnya. Namun, apa yang disampaikan kemudian dalam ceramahnya tidak mencerminkan apa yang disampaikan diawal. Katakanlah bacaan basmalah, dengan jelas disebutkan bahwa “dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”, tapi melafadzkannya itu ternyata tidak sampai di hati pembacanya. Karena ternyata dalam ceramah-ceramahnya, para da’i ini justru bukan menyebarkan semangat kasih sayang, melainkan menyebarkan kebencian-kebencian para jama’ah terhadap pihak lain.
Beberapa kali penulis menemukan para da’i yang seperti ini. Lantas, apakah isi ceramah mereka salah? Tentu bukan kapasitas penulis untuk menyatakan salah atau benar. hanya saja, menurut pribadi penulis, didasarkan apa yang disampaikan oleh Profesor di atas, bahwasanya sudah sepatutnya kita benar-benar bisa memaknai setiap ucapan kita. Seperti ucapan salam yang mengandung semangat damai, maka sudah selayaknya di setiap perkataan dan tindakan kita itu dalam rangka menciptakan kedamaian bagi siapa saja yang kita hadapi, termasuk bagi guru kepada murid. Kemudian bacaan basmalah, tercantum pengagungan sifat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, maka sudah sepantasnya juga tindakan dan ucapan yang disampaikan sesudah membaca basmalah itu adalah semangat mengasihi dan menyayangi, bukan malah menghina, mencaci, kemudian menimbulkan rasa benci. Terlepas dari benar atau tidaknya yang disampaikan, cara-cara menumbuhkan rasa benci dan memusuhi, bahkan kepada pihak yang memang patut dibenci dan dimusuhi adalah tindakan kurang terpuji.
Ini penulis maknai sebagai satu potongan puzzle yang sementara penulis simpan. Kemudian, penulis menemukan tautan dalam Facebook, yang di disitu menampilkan kutipan dawuh KH. Maimun Zubair, yang dalam nasehatnya menyatakan: “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”(Jadi Guru jangan Niat Bikn Pintar Orang)
Nasihat di atas ternyata menjadi satu potongan puzzle yang jika dicocokkan dengan potongan puzzle di atas – bisa dikatakan – cocok. Iya, kesimpulan sementara yang penulis dapatkan adalah – bisa jadi – faktor yang menjadikan para guru itu mudah memarahi siswanya karena guru tersebut tertanam dama mind-set nya bahwa ia harus menjadikan siswanya pintar, pastinya pintar dalam standar guru tersebut. Sehingga, ketika ia melihat siswanya tidak bisa menjadi apa yang diinginkan guru ini, sang guru akan memarah-marahi siswanya, “kenapa kamu ndak bisa-bisa? Kenapa kamu ndak mengerjakan PR? Kenapa kamu bengini saja tidak bisa?” dan contoh-contoh kemarahan lainnya. Ini karena pola pikir awalnya ingin  menjadikan anak pintar. Tapi, kalau niat awal bukan seperti itu, bahwa kita menyadari betul bahwa pintar itu merupakan hidayah tersendiri, kita yang mungkin berada di posisi seorang guru tentu akan bisa menyadari jika ada anak yang berperilaku atau berkeilmuan tidak seperti apa yang kita inginkan.
          Sebagian tentu akan mengatakan, jika pola pikir semacam ini malah menjadikan seorang guru tidak berusaha semaksimal mungkin, karena percuma beruasaha semaksimal mungkin jika kita sadar bahwa pintar itu hidayah. Jika ada pemikiran semacam ini, penulis akan menolaknya. Karena mengatakan bahwa kepintaran itu hidayah bukan berarti menjadikan peran guru itu tidak penting. Sama halnya ketika beberapa hari yang lalu, penulis mendapat tanggapan yang negatif ketika mengomentari bahwa Islam itu akan tetap berjaya selama di mimbar-mimbar Jum’at, para khotib selalu mendoakan kejayaan Islam. Yang kemudian dikomentari salah sorang teman bahwa hal semacam itu sama dengan kita tidak perlu bekerja keras karena rezeki sudah diatur oleh Tuhan. Tentu bukan itu yang penulis maksudkan, bahwa ketika mengatakan selama do’a-do’a masih dipanjatkan dalam mimbar-mimbar Jum’at untuk kejayaan Islam, maka kekhawatiran untuk Islam akan hilang itu amatlah berlebih-lebihan.
Sama halnya, ketika penulis mengamini dawuh KH. Maimun Zubair di atas, bahwa pintar itu hidayah, bukan berarti kemudian usaha-usaha para guru itu sia-sia, lha wong pintar itu hidayah, mengapa harus susah-susah mengajar? Penulis amat tidak sependapt jika dawuh di atas dimaknai demikian. Meskipun hasil akhir adalah Allah yang menentukan, manusia tetap diharuskan untuk selalu berusaha. Secara pribadi, penulis memaknai dawuh di atas sebagai sikap rendah diri di hadapan Allah SWT. Kita menyadari bahwa kita – yang meskipun menyandang status sebagai guru atau da’i – hanyalah manusia biasa yang tidak bisa menjadikan seseorang itu pintar, karena semuanya itu adalah hidayah dari Sang Maha Pencipta. Tapi, bukan berarti pemahaman ini menjadikan kita fatalis, yakni menerima apa adanya bahwa ya sudah, kita tunggu saja, kita doakan saja murid kita biar dapat hidayah, itu berarti sombong.
Sama halnya dengan para da’i yang di mimbar-mimbar menebarkan kebencian dan mencaci-maki pihak lain. Terlepas benar atau tidaknya yang disampaikan, penyampain materi dengan mencaci-maki itu – menurut penulis – tidak lebih dari sikap yang berlebih-lebihan. Mungkin, sekali lagi mungkin, beliau-beliau ini niatan dakwahnya ingin menjadi orang-orang itu sama dengan beliau, yaitu yang mendapat hidayah. Sehingga, ketika melihat orang lain yang tidak sama dengannya berarti melihat orang tersebut tidak mendapat hidayah. Seakan-akan mereka yakin hidayah telah mereka terima, dan mereka berkewajiban menyampaikan itu pada orang lain. Sementara yang didapati banyak orang yang tidak sesuai dirinya, akhirnya marah-marahlah itu. Seakan mereka lupa bahwa ceramahnya itu dibuka dengan salam kedamaian dan bacaan basmalah yang mengagungkan Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Jadi, dua potongan puzzle di atas bisa menggambarkan bahwa – bisa jadi – fenomena guru-guru yang marah pada siswanya, kemudian para da’i yang menghina dan mencaci-maki di atas mimbar, meskipun keduanya sama-sama menyampaikan salam yang mengajak damai, kemudian mengagungkan Allah Yang Maha pengasih dan Penyanyang di awal pembicaraannya. Itu karena – mungkin – niatnya yang kurang tepat dari awal.
Kemudian, penulis baru menyadari dari gambar puzzle yang baru penulis dapatkan ini. bahwa guru-guru penulis di Madrasah Aliyah (MA) yang notabene nya juga para kyai-kyai dan gus, dalam memperlakukan siswa itu sangat halus. Bahkan saking halusnya itu ada para guru yang membiarkan saja siswanya tidur saat di kelas. Iya, beliau tidak marah-marah, paling cuma menyindir. Belakangan baru penulis sadari bahwa seakan-akan para kyai ini memahami betul bahwa kepintaran itu hidayah, guru hanya mempunyai tugas menyampaikan ilmu. Terlepas apakah nantinya murid-muridnya pintar atau tidak itu merupakan ketentuan Allah.
Tapi, di balik sikap beliau-beliau itu yang membiarkan murid-muridnya tidur saat di kelas, atau tidak pernah marah-marah. Beliau-beliau ini juga senantiasa mendoakan para siswanya. Para kyai-kyai ini senantiasa men-tirakat-i murid-muridnya. Jadi, puasa beliau, sholat malam beliau dan amalan-amalan lainnya itu juga dalam rangka mendoakan para santrinya. Dan terbukti, para santri dan muridnya, meskipun di kelas terlihat cuma tidur, tidak bisa apa-apa, sekolah ya asal berangkat, tapi ketika lulus itu bisa bermanfaat bagi masyarakatnya. Inilah pentingnya mendoakan anak didik. Jadi, pada dasarnya kekuatan doa itulah yang sangat berpengaruh, dan mungkin inilah yang mulai tidak disadari oleh kebanyakan guru-guru kita. Apalagi dengan kemajuan media pembelajaran, kemudian semakin beragamnya strategi-strategi modern yang bisa jadi menjadikan kita terlena, dan melupakan aspek do’a. Kemajuan teknologi, khususnya teknologi pembelajaran menjadikan kita – sebagai pendidik – secara tidak sadar menyombongkan diri. Berbagai seminar tentang pendidikan diadakan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, tapi sejauh yang penulis ikuti tidak pernah itu dibahas pentingnya kekuatan doa dan tirakat seorang guru. Yang dibahas hanya bagaimana strategi dan semacamnya.
Demikian yang bisa penulis sampaikan. Penulis yakin banyak kesalahan yang terdapat dalam tulisan ini. Karenanya penulis mohon maaf jika dalam tulisan ini penulis menyampaikan sesuatu yang salah, terutama dalam hal guru dan dai yang penulis singgung di atas. Semoga yang sedikit ini bermanfaat, dan akhir kata penulis ucapkan wallâhu a’lamu bish-shawâb.
Malang, 02/12/2015, 10.14 WIB
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.