MASIGNCLEAN103

Beliau Telah Berpulang: Selamat Jalan Bapak Profesor



Beliaulah yang mengajarkan bagaimana seorang pendidik dapat bersikap sebagaimana mestinya, dan senantiasa konsisten antara apa yang diucapkan dengan apa yang dikerjakan. Salah satunya ketika dalam mengawali pembelajaran, seorang guru biasa mengucapkan salam kepada siswa-siswinya. Konsekuensinya adalah seorang guru ini harusnya menebarkan kedamaian, minimal saat pembelajaran atau di majlis yang mana ia mengucapkan salam di dalamnya. Tapi, pada kenyataannya tidak semuanya bisa benar-benar menebarkan kedamaian tersebut, karena masih banyak ternyata seorang guru atau dosen yang setelah mengucapkan salam bukannya mendamaikan hati peserta didiknya, melainkan sebaliknya malah menjadikan peserta didik ini takut, was-was dan berbagai perasaan negatif lainnya yang bisa jadi perasaan negatif ini menjadikan sulitnya peserta didik untuk menerima materi dalam pembelajaran saat itu. (Silahkan baca: Puzzle Keilmuan Allah SWT; Pendidik dan Da'i)
Hal ini nampak sepele, namun jika kita renungkan kembali maka ini mengandung makna yang sangat dalam, diantaranya – dengan tidak bermaksud men-judge pihak manapun – kritik atas tidak sampainya apa yang senantiasa kita ucapkan setiap hari ini sampai pada hati dan kemudian terekspresi dalam keseharian kita. Tidak hanya bagi pendidik saja sebenarnya, bagi yang bukan pendidik pun yang beragama Islam tentu senantiasa mengucapkan salam ini, minimal 5X dalam sehari. Namun, seiring rutinnya pengucapan salam ini, ternyata masih kita dapati banyak orang-orang muslim yang dalam kesahariannya masih jauh untuk dikatakan dalam proses menebarkan kedamaian bagi sesama. Ada muslim yang baru saja disebut namanya sudah membuat kita takut, ada muslim yang ketika kita bertemu dengannya saja kita lantas khawatir dan sebagainya. Bahkan mungkin diri kita sendiri tidak menyadari bahwa perilaku kita terkadang bukannya mendatangkan kedamaian bagi siapa saja yang di sekitar kita, melainkan menjadikan orang lain harus khawatir, was-was dan takut ketika bertemu dengan kita. Jika memang demikian, maka sudah saatnya bagi kita untuk mempertanyakan kembali ucapan salam yang senantiasa kita ucapkan, baik ketika shalat atau pun ketika bertemu dengan saudara kita. Apakah salam tersebut hanya terbatas pada lisan kita ataukah memang benar-benar mampu tercermin dalam sikap kita? Khusus pagi para guru di sekolah-sekolah yang saat ini – katanya – lebih menekankan karakter dan moral melalui K-13, dari hal “salam” ini bisa menjadi pijakan awal dalam rangka mengajarkan karakter dan moral. Bagaimana seorang guru dapat menjadi pembawa kedamaian bagi peserta didik. Sehingga, salam bukan sebatas salam yang hanya dijadikan sebagai rutinitas membuka pembelajaran saja, melainkan ia (salam) benar-benar dapat dirasakan siapa saja yang ada di sekitar kita. Dan beliau, sejauh yang penulis amati tidak pernah itu sekali pun marah-marah dalam kelas. Meskipun kami menyadari bahwa kami melakukan kesalahan, dan adapun kami terkadang merasa takut bukan karena beliau marah, melainkan kami menyadari bahwa kami salah. Beliau juga terlihat friendly kepada siapa saja, termasuk mahasiswa-mahasiswinya.  
Kemudian, beliau juga yang mengajarkan pada kami untuk memahami dalil-dalil naqli tidak terbatas pada arti teks saja, namun bisa memperlakukan dalil-dalil tersebut secara out of the box. Bukan bermaksud merancukan dari sebuah dalili, namun bisa menggali makna terdalam dari sebuah dalil, baik itu dalam Al-Qur’an dan Hadist, atau dalam istilah Nurcholis Madjid bisa mengambil semangat dari nash-nash tersebut.
Salah satu contoh yang sering disampaikan beliau dalam perkuliahan adalah dalil tentang dinikahinya seorang wanita adalah karena empat sebab, yaitu “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung”
Jika oleh sebagian orang hadist di atas hanya dimaknai sebagai kriteria untuk memilih pasangan hidup, tapi tidak demikian dengan beliau. Beliau mengambil semnagat terdalamnya yang terkandung di dalamnya, karena beliau mengatakan bahwa hadist tersebut bisa dijadikan pedoman kriteria dalam merekrut pegawai. Artinya, katakanlah jika kita mempunyai lembaga atau apa saja yang kita menjadi pemimpinnya, kemudian kita membutuhkan pegawai atau partner, maka empat kriteria yang ada dalam hadist di atas bisa dipakai.
Beliau memberi contoh, semisal dalam lembaga pendidikan, dalam menyeleksi seorang guru (misalnya), maka yang perlu diperhatikan adalah empat kriteria yang telah ditegaskan oleh Nabi, yaitu hartanya, kedudukannya, kecantikan dan agamanya. Pertama, adalah hartanya. Pertanyaannya kemudian adalah apa harta yang harus dimiliki oleh seorang guru? Jawabannya adalah ilmu. Jadi, kriteria pertama adalah ilmu. Kedua, kedudukannya. Sepemahaman penulis, ini terkait dengan nasab keluarga. Lantas bagaimana kriteria yang kedua ini? kedudukan di sini dimaknai sebagai qualifyed. Artinya, ambillah guru-guru yang memang ahli di bidang yang kita butuhkan. Misalnya, kita membutuhkan guru Biologi, maka pastikan orang yang hendak kita rekrut ini benar-benar mumpuni. Ketiga, kecantikannya (rupawan). Dalam konteks ini, perhatikan tampilannya. Pastikan guru yang akan kita rekrut berpenampilan yang rapi, meskipun tidak harus selalu berpenampilan resmi, tapi setidaknya rapi. Rapi dalam berpakaian atau dalam mengekspresikan diri, termasuk jika perlu perhatikan pula gaya rambutnya, terutama bagi para pria, apakah gondrong atau tidak? Dan yang keempat, adalah agamanya. Pastikan orang yang hendak kita rekrut itu adalah orang yang beragama, dalam arti tidak sebatas di dalam KTP nya tercantum agama tertentu, melainkan orang yang taat dalam menjalankan ajaran-ajaran agama. Jika keempat kriteria tersebut terpenuhi, maka – sesuai dengan hadist di atas – kita (sebagai pimpinan) akan beruntung karena memiliki partner yang qualifyed.    
Jadi, dari hadist di atas yang secara tekstual membicarakan tentang memilih calon pasangan hidup, oleh beliau juga dijadikan pula dasar dalam manajemen sumber daya manusia terkait rekrutmen. Ini bukan berarti menggeser atau mengubah hadist Nabi, bukan. Justru semangat seperti ini nampak lebih mengagungkan Hadist nabi, karena secara tidak langsung menjadikan hadist-hadist Nabi, termasuk juga Al-Qur’an, bisa senantiasa berkomunikasi dalam segala zaman. Jika kita mencari hadist atau ayat Al-Qur’an tentang manajemen Sumber daya Manusia ini tentu tidak ada. Kalau tentang kriteria pemimpin mungkin ada, tapi kalau yang spesifik dalam kaitannya dengan rekrutmen pegawai maka akan sulit menemukan itu.
Sebenarnya masih banyak pelajaran-pelajaran berharga yang beliau berikan, baik itu dalam perkuliahan, seminar, buku-buku beliau dan sebagainya. Hanya saja di antara sekian banyak pelajaran berharga itu, dua yang telah penulis paparkan adalah yang paling memberikan kesan. Besar harapan penulis untuk senantiasa bisa menimba ilmu dari beliau. Meskipun kini, beliau telah berpulang ke Hadirat Ilahi Rabbi. Ya, pada hari Ahad (06-12-2015) kemarin, beliau telah dipanggil oleh Allah SWT.
Beliau, Prof. Dr. H. Muhaimin, MA., adalah salah satu guru yang sangat istimewa, yang meskipun tidak terlalu lama bagi penulis untuk bisa menimba ilmu secara langsung dari beliau, banyak pelajaran berharga yang penulis dapatkan. Hari ini bertepatan dengan ulang tahun beliau, karenanya penulis ingin berbagi pengalaman dan ilmu yang berharga ini, bukan sebagai sok-sok an, melainkan sebagai ucapan terimakasih penulis kepada beliau yang telah memberikan pelajaran-pelajaran berharga. Meskipun penulis menyadari bahwa tulisan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu yang telah beliau berikan.
Selamat jalan bapak Prof. Dr. H. Muhaimin, MA. Terimakasih atas ilmu-ilmu yang telah engkau berikan. Kami hanya bisa mendoakan, semoga kini engkau telah berada di pangkuan Rahmat-Nya, berada di tempat yang paling indah di sisi-Nya. Doa kami senantiasa menyertaimu. Dan kami, para mahasiwamu, mohon didoakan pula agar ilmu yang telah kami peroleh bermanfaat. Amiiiiiiiiiiiiiin.
Jika rekan-rekan pembaca ada yang menemukan ketidaksesuain apa yang penulis tulis, mohon kritikannya. Terimakasih
Malang, 11/12/2015, 07.25 WIB
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.