MASIGNCLEAN103

Hati-hati dengan HAM !



Di tengah-tengah pemaparannya tentang bagaimana seharusnya kita belajar bahwa kebenaran itu tidak ada, Sudjiwo Tejo mengingatkan pada semua audience dalam acara simposium pendidikan saat itu. Ia mengingatkan pada kita dengan isu HAM, “who is HAM?” Mbah Djiwo tidak panjang lebar kenapa ia mengingatkan kepada kita tentang kenapa ia harus mengingatkan kita agar hati-hati dengan HAM. Terlebih kita yang sebagai pendidik atau calon pendidik.
Mbah Djiwo menceritakan bahwa dulu untuk belajar membaca Al-Qur’an, sekuju tubuhnya banyak bekas cambukan dari gurunya, dan anehnya – saya bilang aneh karena ini berbeda dengan fenomena yang sedang menggejala pada saat ini – orangtuanya justru bangga dengan banyaknya luka yang diterima oleh mbah Djiwo saat belajar membaca Al-Qur’an. Pastinya, kita yang mengenyam masa kecil sebelum tahun 2000 an pernah merasakan kerasnya belajar Al-Qur’an, terlebih yang ada di desa-desa. Setidaknya saya beruntung masih bisa merasakan masa-masa yang mungkin untuk saat ini akan rentan dengan isu-isu HAM. Saya masih ingat betul betapa – seperti yang dikatakan mbah Djiwo – kerasnya untuk bisa membaca Al-Qur’an. Ustadz atau kyai yang mengajari kita selalu sedia tongkat atau rotan yangmana rotan itu akan mendarat di tangan atau bagian tubuh lainnya jika kita salah dalam membaca Al-Qur’an. Hal semacam ini sudah tidak bisa kita temui lagi, dan meskipun terdengar kejam, justru itulah yang membuat kesan paling mendalam. Setidaknya saya yakin jika kala itu guru saya tidak megerasi saya, maka bisa jadi saat ini saya tidak bisa membaca Al-Qur’an.
Jadi, mbah Djiwo mengatakan bahwa bagaimana mungkin mendidik anak tanpa mendidik sikap? Pernyataan ini saya pahami sebagai kritik beliau terhadap fenomena pendidikan yang ada sekarang ini, di mana sikap menjadi sesuatu yang dikotomis dengan dunia pendidikan.
Agaknya saya masih sedikit kebingungan untuk menggabungkan tulisan di atas dengan maksud inti tujuan saya. Tapi yang pasti, saya menangkap perbedaan mendasar dari fenomen pendidikan yang ada di masa kecil saya dengan saat ini. tentu mbah Djiwo mewanti-wanti untuk hati-hati dengan HAM bukan tanpa sebab. Bahkan lebih gamblang ia mengatakan untuk siap-siap berurusan dengan Aris Merdeka Sirait (jika tidak salah adalah ketua komnas HAM), karena kekerasan sekecil apapun, khususnya dalam pendidikan bisa dikenai dengan pasal pelanggaran HAM. kita bisa bayangkan jika zaman dulu, isu HAM ini sesanter saat ini, pastinya banyak guru, ustadz dan bahkan kyai yang menjadi tersangka pelanggaran HAM karena melakukan kekerasan terhadap anak didiknya.
Jadi, sekarang ini sedikit-sedikit bisa dilaporkan ke Komnas HAM. Ada guru yang menghukum peserta didiknya karena melakukan kesalahan, akhirnya dilaporkan orangtuanya ke Komnas HAM. Dan parahnya, si orang tua peserta didik ini juga menyalahkan pendidiknya ketika anaknya mendapatkan hukuman dari pendidik, dikatakan bahwa ia tidak becus menjadi seorang guru dan sebagainya. Meskipun penggambaran saya terkesan berlebih-lebihan, tapi anggap sajalah seperti itu. Artinya, ada perbedaan mendasar dari sikap orangtua saat ini dengan orangtua zaman dulu dalam menyikapi pendidikan anak-anaknya. Jika orang tua dulu, ketika anaknya dihukum gurunya karena si anak melakukan kesalahan, mareka bangga, tentu bangga bukan dalam arti si anak melakukan kesalahan, bangga karena si guru sudah mengajarkan sikap untuk bertanggungjawab atas kesalahan yang telah dilakukan. Berbeda dengan beberapa orang tua “modern” saat ini, yang ketika si anak mendapat hukuman dari gurunya, terlebih hukuman fisik, padahal hukuman itu diberikan bukan tanpa sebab melaporkan si guru atas tuduhan melakukan kekerasan, entah itu ke polisi atau Komnas HAM.
Lantas, apakah tindakan untuk melaporkan itu salah? saya kira ini bukan masalah salah atau tidak, tapi lebih kepada bagaimana menyikapi fenomena semacam ini. Kedua respon yang diperlihatkan oleh orang tua di masa yang berbeda ini pada dasarnya memiliki semangat yang sama, yaitu bagaimana memberikan yang terbaik kepada buah hati mereka sebagai bentuk kasih sayang. Itu adalah prinsip dasar yang tidak bisa digugat lagi bahwa orang tua senantiasa ingin memberikan yang terbaik buat anak-anak mereka. Bedanya, yang satu mengajarkan dengan tegas, yang satunya mengajarkan sikap manja.  Ada satu adagium yang terkenal, “belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, dan belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air”. Hanya saja, yang mungkin terlupakan dalam benak kita adalah untuk bisa mengukir di atas batu perlu kerja yang ekstra, kita harus menggunakan alat ukir yang benar-benar kuat dan juga harus menggunakan tenaga yang ekstra. Tidak bisa kita hanya setengah hati untuk mengantam alat ukir kita dengan palu ketika ingin mengukir di atas batu. Di sini, saya bukan bermaksud mengatakan kita perlu memakai kekerasan dalam mendidik, tapi lebih kepada ketegasan yang dipertunjukkan kepada peserta didik. Jika ia salah, katakan salah, jika benar katakan benar. Jika ia mendapat hukuman, maka itu indikasi dari ia melakukan salah, biarkan dia mempertanggungjawabkan itu, bukan malah melaporkan pihak yang sebenarnya peduli dengan anak tersebut.
Saya akui, bahwa pada dasarnya ini bukan kapasitas saya untuk membahasnya, karena bagaimana pun juga saya belum berstatus sebagai orang tua, sehingga tidak selayaknya saya mengkritisi para orang tua, karena mungkin ada yang mengomentari kalau bicara saja itu mudah. Tapi terserahlah jika ada komentar semacam itu, karena saya justru berpikir jika status saya yang belum menjadi orang tua ini menjadikan apa yang hendak saya utarakan di sini masih pure, dalam arti penilaian yang objektif dengan saya tidak terlibat atau masuk dalam pihak yang saya komentari.
Kembali ke fenomena orang tua dulu dan sekarang. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan ada pesta ulang tahun seorang anak kecil yang di adakan di pusat perbelanjaan terkenal. Saya mengira biaya untuk mengadakan ulang tahun terrsebut mencapai puluhan juta. Apa itu salah? Tidak, itu kan pakai uang-uang mereka sendiri, jadi tidak salahlah ketika mereka memutuskan untuk mengadakan pesta ulang tahun yang meriah. Hanya saja, ini menurut saya kurang tepat. Pasalnya, di usia yang masih sangat muda, orang tua tersebut telah mengajarkan pola hidup yang “hedonis”. Pola hidip yang suka bersenang-senang. Coba kita bayangkan, di sekolah ketika di hukum gurunya, orang tua tidak terima dan melaporkan si guru. Kemudian, di luar, orang tua ini memberikan semua yang diinginkan si anak, ulang tahun pun diadakan semeriah mungkin. Meskipun tidak semua orang tua seperti ini, tapi saya yakin tetap ada hal semacam ini di luar.
Jujur saja, ketika saya melihat acara ulang tahun tersebut ada perasaan miris. Jika memang orang tua tersebut memiliki banyak uang, kenapa harus memamerkannya di depan anaknya yang masih kecil? Bukankah lebih baik uang yang banyak itu, dialokasikan untuk membantu di panti asuhan atau ke pengungsi korban bencana dan tempat-tempat lainnya, di mana anak dengan sendiri bisa mengasah kepekaan sosialnya. Katakanlah anggaran untuk ulang tahunnya 10 juta. Bukankah uang sebanyak itu akan sangat berarti jika digunakan untuk membantu sesama yang membutuhkan? Dengan orang tua mengajak buah hati mereka untuk berkunjung ke panti asuhan di hari ulang tahunnya itu, secara tidak langsung kita bisa mengarkan sikap empati dan simpati, dan pastinya menumbuhkan kepekaan sosial, bahwa di sekitarnya masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita. Dan andai semua orang tua kaya melakukan ini, pastinya setiap hari akan selalu ada keceriaan di panti asuhan. Saya tidak tahu persis ada berapa panti di asuhan di daerah tinggal saya saat ini, tapi saya yakin prosentasinya jika dibanding dengan keberadaan orangtua-orangtua kaya yang ada sangat berat sebelah di orangtua-orangtua kaya. Jadi, misal semua orang tua kaya ini merayakan ulang tahun anaknya di panti asuhan, bisa jadi setiap hari ada perayaan ulang tahun di panti asuhan ini.
Intinya? Untuk tulisan ini saya belum bisa menyimpulkan. Silahkan para pembaca menyimpulkannya sendiri. Tapi menutup tulisan ini, saya ulangi sekali lagi apa yang dipesankan oleh mbah Djiwo, “Hati-hati dengan HAM”. Tentunya ini terkait dengan fenomena pendidikan dewasa ini. Wallâhu A’lamu bish-Shawâb.
Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Amiiiiiiiin

Malang, 30/10/2015, 05.32 WIB

Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.