MASIGNCLEAN103

Dilema Pendidikan Keberagamaan: Ekslusif atau Inklusif



Tulisan ini penulis maksudkan sebagai catatan refleksi dari kegiatan “Seminar Kolaboratif” yang diselenggarakan oleh Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Seminar yang mengangkat tema “Refleksi Pendidikan Agama Islam untuk Membangun Islam Inklusif di Indonesia” ini pada akhirnya memberikan beberapa catatan dalam benak penulis, yang sebagian adalah catatan baru dan sebagian lainnya merupakan catatan lama yang tetap tersimpan. Tersimpan karena memang catatan itu sangat penting atau karena catatan-catatan tersebut masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang masih butuh jawaban yang entah kapan dan di mana bisa penulis dapatkan.
Tulisan ini tentunya tidak bermaksud menjabarkan semua materi yang tersampaikan dalam seminar ini, hanya beberapa poin yang – menurut penulis – perlu saya tulis di sini. Seminar hari ini terdiri dari dua tahap, tahap pertama melibatkan kolaborasi mahasiswa dari dua Sekolah Pascasarjana UIN Sunan kalijaga Yogyakarta dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kemudian pada tahap kedua adalah seminar kolaborasi antara Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M. Phil., Ph.D. dan Dr. H. M. Zainuddin, M.A., selaku Wakil Rektor 1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pada tahap pertama, hal yang menurut penulis cukup menarik adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu audience dari Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim. Ini terkait dengan apa yang menjadi tema seminar, yaitu tentang Islam Inklusif yang memang beberapa dekade ini menjadi tema yang ramai dibicarakan, baik dalam seminar-seminar atau pun dalam literature-literatur yang ada. Pertanyaan yang diajukan kurang lebihnya adalah apakah kita tetap mengupayakan pendidikan Islam yang inklusif, jika pada kenyataannya di luar non-Islam mungkin inklusifisme dalam beragama – bisa jadi – tidak diajarkan. Semisal dari kasus di Tolikara, di mana tempat ibadah orang Islam dibakar oleh sekelompok orang non-Islam. Apakah jika demikian kita tetap harus berinklusifisme dalam Islam? Pertanyaan ini sangatlah menarik, meskipun kemudian kurang mendapatkan tanggapan yang serius. Dalam diam saya berpikir, bahwa jika kita mau melihat dalam konteks keberagamaan yang luas, maka dalam segala agama baik itu Samawi atau Ardhi, ada kelompok-kelompok yang secara pengetahuan keagamaannya minim, sehingga dalam hal praktik keagamaannya kelompok ini memiliki kecenderungan ekslusifisme. Pun demikian, bukan berarti kemudian dari beberapa orang yang eksklusif ini kita bisa men-generalisasikan bahwa agama A itu eksklusif dan ekstrim gara-gara segelintir orang ini. Saya kira, kita semua juga tahu itu. Sehingga, mengkaitkan perlunya pendidikan Islam inklusif dengan mensyaratkan orang lain mengembangkan itu terlabih dahulu baru kita juga sepenuh hati mengembangkannya adalah kurang tepat. Artinya, entah mereka yang di luar agama kita berlaku eksklusif atau inklusif tidaklah menjadi barometer kita untuk bersikap seperti apa dalam beragama. Islam – didukung dengan berbagai dalil-dalilnya – dengan jelas memiliki semangat inklusif dalam beragama, maka – sekali lagi – apakah mereka yang di luar kita bersikap eksklusif atau inklusif, kita tetaplah mengupayakan terwujudnya Islam yang inklusif.
Selain itu, ada pertanyaan lainnya yang juga cukup menarik. Masih terkait dengan Islam inklusif, yang kurang lebihnya adalah mempertanyakan tentang dampak inklusif itu sendiri. Jika inklusifisme yang dikembangkan, maka akan rawan pada liberalism, jika eksklusifisme yang dikembangkan, maka akan rawan pada ekstrimisme dalam beragama. Maka – penafsiran pribadi penulis – Islam inklusif bagai buah simalakama. Selain itu ada pula pertanyaan yang mengkhawatirkan bahwa pluralisme atau inklusifime akan mengancam aqidah peserta didik jika diajarkan dalam PAI di sekolah-sekolah. Saya tidak ingin menanggapi panjang lebar tentang pernyataan dan pertanyaan tersebut. Saya hanya ingin mengungkapkan kembali apa yang dinyatakan oleh almarhum Gus Dur, beliau – kurang lebihnya mengatakan:
“Di antara orang-orang yang mengaku paling radikal dalam beragama, maka sayalah yang paling radikal. Saya sangat meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar, karena saking yakinnya saya atas kebenaran  Islam, maka saya tidak perlu takut jika harus berdekatan dengan mereka yang non-Islam”
Ya, itulah Gus Dur. Beliau tak pernah takut atau khawatir jika Islam akan begini dan begitu jika harus bersanding dengan lainnya. Ia yakin seyakin-yakinnya jika Islam itu paling benar. Karena sudah yakin, maka tidak khawatir jika harus bersenda-gurau dan beramah-tamah dengan non-Islam. Logikanya, jika kita meyakini bahwa bangunan rumah kita kuat, maka tak perlulah mengkhawatirkan akan roboh. Justru, ketika kita sedikit-sedikit khawatir, sedikit-sedikit posesif, maka itu menandakan bahwa pada dasarnya kita tidak yakin bahwa Islam itulah yang paling benar. Bahwa logika pun berkata demikian, maka jika ada yang beragama dengan posesif, sensitive ketika bersinggungan dengan yang lain, maka tanda-tanda jika ia belum sepenuhnya yakin pada Islam.
Bahwa pra-konsepsi kitalah yang pada akhirnya menjadikan sesuatu itu berbeda-beda dalam menilai hal yang sama. Jika pra-konsepsi yang kita pakai untuk term “inklusif” adalah negative, maka sebaik apapun wujud inklusif itu, maka tetap ada celah untuk menggugatnya. Pun sebaliknya, jika pra-konsepsi yang kita pakai adalah positif, maka berkali-kali pun orang lain menghantam dan mencemari term inklusif ini, maka kesimpulan yang akan kita capai pun akan selalu sama, jika inklusifisme itu memang sudah seharusnya di kembangkan dalam masyarakat luas, baik itu melalui pendidikan formal atau lainnya.
Kemudian, terkait dengan pendidikan Islam inklusif dalam lembaga pendidikan formal dibahas dalam seminar tahap 2. Yang menjadi catatan besar dari apa yang disampaikan oleh Prof. Noorhaidi adalah, bahwa penentu dalam pendidikan itu sendiri adalah seorang guru. Bagaimana sikap keberagamaan seorang guru nantinya sangat mempengaruhi bagaimana peserta didik mempunyai sikap keberagamaan. Guru yang mempunyai sikap eksklusif dalam beragama, maka kemungkinan besar peserta didiknya akan memiliki sikap keberagamaan yang eksklusif. Sebaliknya, peserta didik akan memiliki sikap keberagamaan yang inklusif jika guru kegamaannya memiliki sikap keberagamaan insklusif. Apa yang disampaikan oleh Prof. Noorhaidi ini pernah saya tulis dalam tulisan sebelumnya (baca: Revitalisasi Pendidikan Agama Islam ) Meskipun sebelumnya saya tak pernah bertemu beliau, baik dalam seminar atau dalam tulisan-tulisannya, setidaknya kesimpulan yang diberikan oleh beliau dalam seminar kali ini dapat mengkonfirmasi apa yang pernah saya tulis. Bahwa guru yang dalam hal ini guru agama memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan sikap keberagamaan generasi muda bangsa ini.
Terakhir, adalah catatan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab sampai saat ini. Bahwa pendidikan agama inklusif, atau pendidikan multikultural atau yang semacamnya, sampai saat ini hanya berhenti pada “Bahwa pendidikan multikultural, inklusif atau pluralis perlu dikembangkan di Indonesia” saja. Sementara, ketika ditanya lantas bagaimana design pendidikan itu sampai saat ini saya belum menemukan bentuk praktisnya. Ya, kita tahu pendidikan yang mengarahkan pada penghargaan perbedaan itu sangat penting, tapi ketika ditanya bagaimana bentuknya? Kita serasa dibuat diam seribu bahasa. Dalam seminar ini pun, kenyataan tersebut diamini oleh Prof. Noorhaidi. Kita masih gagap jika ditanya bagaimana bentuk pendidikan itu? Pendidikan yang semacam itu masih dalam konteks wacana, masih dalam bahasa langit dan belum bisa membumi.  Entah karena keterbatasan penulis atau memang kenyataannya berkata demikian, bahwa belum ada design pendidikan multikultural atau pendidikan Islam yang inklusif yang benar-benar bisa diterapkan dan praktikkan di lapangan, semuanya masih wacana. Bahkan ketika saya berdiskusi dengan beberapa teman dan dosen, pendidikan agama yang multikultur dan inklusif masih terasa bagaikan mimpi, yang ketika kemudian dibawa kea lam nyata, maka kita akan menyadari bahwa indahnya perbedaan itu hanya dalam mimpi.
Semoga yang sedikit ini bermanfaat. []
                                                                                                                                                                Kartasura, 18/9/15
                                                                                                                                                                10:09
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.