MASIGNCLEAN103

Catatan Kuliah: Mengenal Konsep Opportunity Cost



Tulisan ini dimaksudkan untuk sedikit berbagi ilmu dari apa yang telah penulis dapatkan di perkuliahan. Siang itu, sedang dijelaskan beberapa hal terkait dengan sebagian konsep dasar tentang kualitas/mutu, karena memang perkuliahan ini terkait dengan sistem penjaminan mutu Pendidikan Agama Islam. Menjelnag akhir perkuliahan, ternyata muncul pembahasan yang yang cukup menarik, yakni terkait dengan konsep “opportunity cost” yang belakangan penulis memaknai sebagai sesuatu yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik, entah itu biaya, tenaga, pikiran atau lainnya. Meskipun pemahaman itu bisa jadi sangat jauh dari pemaknaan aslinya.
Penulis tidak ingin panjang lebar membahas tentang pemaknaan dari opportunity cost ini. Yang pasti, sebelum dosen menjelaskan konsep tersebut, ada pertanyaan yang diajukan kepada kami (mahasiswa), pertanyaan itu kurang lebihnya “kenapa kalian tidak mencukupkan diri hanya menjadi lulusan S1? Tapi juga mengambil jenjang pendidikan s2?” beberapa alternative jawaban kemudian muncul. Kemudian dari beberapa alternative itu, hanya dua jawaban yang diulas oleh dosen, yaitu: 1) meningkatkan pola piker yang kritis, dan 2) peningkatan ekonomi. Jadi, dengan mengambil jenjang pendidikan s2, setidaknya dapat meningkatkan pola piker yang kritis dan meningkatkan tingkat perekonomian. Kira-kira begitulah kurang lebihnya.
Jawaban pertama, terkait dengan pola pikir yang kritis. Artinya, kita mengambil jenjang pendidikan S2 ini karena menganggap bahwa apa yang kita dapat di S1 belum menjadikan pola pikir kita kritis, sehingga kita perlu melanjutkan S2 agar bisa lebih kritis, dengan konsekuensi ada beberapa hal yang kita korbankan, setidaknya terkait dengan biaya (jika kuliah yang diambil bukan beasiswa), kemudian tenaga, waktu dan juga pikiran. Pengorbanan inilah yang dimaksud dengan opportunity cost, di mana kita rela mengorbankan beberapa hal demi mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Kemudian jawaban kedua, terkait dengan peningkatan ekonomi. Artinya, dengan meneruskan pendidikan pada jenjang S2, kesempatan untuk memperoleh kemapanan ekonomi lebih tinggi di banding dengan hanya menyandang gelar S1. Tapi, untuk meraih kesempatan itu, sama halnya dengan jawaban pertama, ada beberapa hal yang perlu dikorbankan demi meraih sesuatu yang lebih baik. Saat itu, bapak dosen membuat hitung-hitungan sederhana antara pendapatan lulusan S1 dengan S2. Namun perlu penulis tegaskan – dan ini juga berkali-kali ditegaskan oleh bapak dosen – bahwa perumapamaan ini bukan berarti merendahkan satu pihak dan mengungulkan pihak lain. Tapi, karena pada awalnya konsep opportunity cost ini dipakai dalam dunia marketing, maka penjelasan yang dipakai pun agar mudah dipahami harus memakai perhitungan yang pasti. Karenanya sekali lagi, perhitungan sederhana ini bukan berarti menyudutkan lulusan S1 yang diidentikkan dengan guru atas lulusan S2 yang proyeksinya menjadi dosen.
Katakanlah, tahun ini Ahmad dan Budi lulus S1. Si Ahmad memutuskan untuk langsung menjadi guru, dan si Budi melanjutkan S2. Kebetulan Ahmad langsung diterima sebagai guru dengan pendapatan perbulan – katakanlah – 5 juta rupiah. Di lain sisi, Budi menempuh S2 yang sudah barang tentu bukannya mendapatkan penghasilan tapi malah herus mengeluarkan biaya. 2 tahun kemudian, Ahmad yang berpenghasilan 5 juta perbulan ini bisa mengumpulkan uang 120 juta, anggaplah demikian. Sedangkan Budi, untuk biaya semesteran dan biaya hidup selama 2 tahun sebesar 50 juta. Dari sini, memang terlihat jauh tertinggal dari Ahmad yang telah berhasil mengantongi uang 120 juta, sedangkan Budi malah kehilangan 170 juta, yakni 120 juta dari gaji jika ia memilih jalan yang sama dengan Ahmad, ditambah biaya dia kuliah S2.
Kemudian, setelah dua tahun berlalu, akhirnya Budi lulus dan mendapatkan gelar S2. Maka coba kita hitung pendapatnyanya kemudian antara Ahmad dan Budi. Setelah lulus, Budi memiliki nasib yang sama dengan Ahmad, yakni setelah lulus langsung diterima sebagai tenaga kependidikan, hanya saja karena Budi lulusan S2 ia diterima sebagai dosen, dengan pendapatan – anggap saja – 10 juta perbulan.  Maka kita lihat 5 tahun ke depan. Anggap saja gaji keduanya tidak mengalami kenaikan, Ahmad 5 tahun ke depan berhasil mengumpulkan uang 300 juta rupiah, sedangkan Budi 5 tahun ke depan berhasil mengumpulkan 600 juta. Jika demikian, maka 7 tahun setelah lulus S1, Ahmad berhasil mengumpulkan uang sebesar 420 juta rupiah dengan perhitungan 120 juta di dua tahun pertama ditambah 300 juta pada 5 tahun setelahnya. Sementara Budi berhasil mengumpulkan 430 juta rupiah dengan perhitungan 600 juta di 5 tahun terakhir dikurangi biaya yang hilang selama menempuh S2 sebesar 170 juta. Untuk memudahkan perhitungan ini, berikut penulis sajikan dalam tabel, pertama adalah tabel 2 tahun setelah lulus S1:

Tingkat Perekonomian
Total
Tahun 1
Tahun 2
Ahmad
60.000.000,-
60.000.000,-
120.000.000,-
Budi
(-) 25.000.000,-
(-) 25.000.000
(-) 50.000.000,-(**)
Ket:
(**) Perhitungan ini kemudian ditambah dengan kesempatan mendapatkan uang sama dengan Ahmad jika Budi mengambil jalan sama dengan Ahmad, sehingga total akhir perekonomian Budi 50.000.000,- + 120.000.000,- = 170.000.000,- adalah uang yang dikorbankan untuk S2.
Kemudian berikut perhitungan 5 tahun ke depan:

2 Tahun Setelah Lulus S1
Tingkat Pendapatan Perekonomian
Total
Tahun ke – 3
Tahun ke – 4
Tahun ke – 5
Tahun ke – 6
Tahun ke – 7
Ahmad
120 Juta
60 Juta
60 Juta
60 Juta
60 Juta
60 Juta
420 Juta
Budi
(-) 170 Juta
120 Juta
120 Juta
120 Juta
120 Juta
120 Juta
430 Juta

Dari tabel di atas, dapat dikatakan bahwa Budi rela mengorbankan uang 170 juta untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik, dan dari perhitungan sederhana di atas, nampak bahwa pada akhirnya apa yang diperoleh oleh Budi jauh di atas perolehan Ahmad, meskipun start keduanya berbeda. Budi, selain mengorbankan biaya, juga mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannnya untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik dengan menempuh S2. Bapak dosen juga menambahkan bahwa kesempatan di luar pendapatan keduanya, Budi lebih memiliki kesempatan lebih banyak dibanding Ahmad. Karena bagaimana pun, ketika menjadi dosen, ada banyak kesempatan seperti penelitian-penelitian yang bukan tidak mungkin penelitian-penelitian ini, di samping menambah keilmuan juga menambah pundi-pundi rupiah. Belum lagi ketika dijadikan sebagai narasumber di berbagai acara, meskipun bukan satu-satunya motivasi mendapat amplop, tapi tetap saja tidak ada narasumber yang ketika pulang hanya tangan kosong. Kemudian, bisa jadi dosen menjadi konsultan dan kesempatan-kesempatan lainnya.
Opportunity cost, sekali lagi bisa disederhanakan sebagai sebuah pengorbanan untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Dan nampaknya, ini sangat sering kita alami dalam keseharian, termasuk jika di atas dicontohkan terkait dengan pendidikan, di mana pendidikan yang tinggi akan mendatangkan kesempatan yang lebih baik. Ada pula pengorbanan yang mengorbankan pendidikan (formal) demi mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Itulah mengapa banyak kita jumpai seseorang yang sukses (bahkan beberapa teramat sukses) dari segi ekonomi dengan latar belakang pendidikan yang rendah. Itu karena memang orang tersebut mempunyai keyakinan bahwa pendidikanlah yang ia korbankan demi meraih sukses sebagai pengusaha.
Dari dunia pendidikan dan pengusaha, kita bisa melompat ke dunia anak muda, dalam hal ini cinta. Karena seperti dalam film-film, terlepas apakah itu ber-genre horror, komedi, atau apapun itu akan terasa hambar jika tak dibumbui dengan kisah percintaan. Begitu pun dengan konsep opportunity cost, yang bisa diterapkan dalam percintaan. Dosen saya mencontohkan bahwa jika kita ingin merebut hati seseorang yang kita cintai, maka harus ada yang kita korbankan untuk meraih kesempatan yang lebih baik, yang dalam hal ini tentu dapat meluluhkan hati sang pujaan hati, entah itu pengorbanan berupa materi, perhatian, tenaga atau pikiran. Misalnya, ketika kita dihadapkan pada pilihan harus mengerjakan tugas kuliah atau mengantarkan dia berbelanja. Tentu, ketika kita menganggap untuk menolak ajakannya dia itu akan menjauhkan kesempatan kita untuk menjadi pasangan hidupnya, maka pastinya tugas kuliah akan kita korbankan. Demi apa? Ya demi mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Kesempatan apa? Ya kesempatan kita mendapatnya pujaan hati kita. Kenapa demikian? Ya, bisa jadi kita yakin bahwa dialah sosok yang terkandung dalam kata bijak “di balik keseuksesan seorang suami, terdapat istri yang hebat”. Tak apalah kita sedikit mengabaikan tugas kuliah, asalkan kita tak diabaikan doi karena lebih memilih tugas. Kira-kira begitulah catatan perkuliahan untuk kali ini, semoga bermanfaat. []
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.