MASIGNCLEAN103

Dari Selamatan Sampai Valentine


Merampungkan buku “Warna-Warni Islam” karya Abdul Kholiq, dkk., seakan memanggil kembali pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya tentang kelompok-kelompok Islam Radikal yang kurang lebih memiliki cita-cita melakukan purifikasi atau pemurnian Islam, dimana Islam yang murni adalah Islam seperti yang ada di Arab (entah Arab yang mana sebenarnya juga tidak jelas). Pertanyaan yang senantiasa bergejolak dalam benak saya jika melihat kalangan Islam Radikal adalah seperti apa sih pola piker mereka, sehingga dengan berpikiran sempit menganggap bahwa Islam hanya terbatas pada apa yang ada di Arab?
Pertanyaan itu tentu hadir bukan tanpa sebab. Karena munculnya pertanyaan yang agak sedikit menggugat itu merupakan akumulasi dari apa yang saya saksikan selama ini, utamanya saat saya tinggal di daerah Kartasura atau lebih luasnya daerah Solo dan sekitarnya. Tidak sulit menemukan kelompok-kelompok Islam Radikal yang dengan begitu percaya dirinya menganggap dialah yang paling benar, dan siapa saja yang tidak berada dalam kelompoknya adalah salah. Menganggap bahwa apa yang diyakininya adalah yang paling benar adalah sebuah keniscayaan, namun jika kemudian dengan anggapa itu lantas menganggap yang di luar dirinya adalah salah atau bahkan mengatakan sesat, maka itu menjadi sesuatu yang berlebih-lebihan.
Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang Radikalisme ini secara definitif. Cukup di sini saya tampilkan contoh nyata dari bagaimana Radikalisme ini dengan cita-citanya memurnikan Islam yang dengan harapan akan menjadikan Islam besar justru pada kenyataannya menjadi Islam yang jangankan besar, diperhitungkan saja tidak.

Di lingkungan tempat saya tinggal ketika di Kartasura, ada salah seorang tetangga yang mengikuti kajian keislaman – yang saya masukkan pada kategori – Radikal, di mana salah satu doktrin yang diajarkan adalah menentang bid’ah, khurafat, dan tahayul yang disinyalir telah mengakar di daerah sekitar dan di seluruh negeri pada umumnya. Tradisi seperti mengajikan orang meninggal pada malam pertama sampai hari ketujuh setelah meninggal, kemudian 40 harian, 100 harian, haul tahun pertama, kedua, hingga pada perayaan 1000 hari misalnya, oleh kelompok ini dianggap sebagai bid’ah, yang mana status bid’ah ini – didasarkan pada salah satu hadist Nabi saw – dihukumi haram dengan konsekuensi masuk neraka bagi siapa saja yang mengamalkannya. Selain itu, tradisi seerti selamatan dan sejenisnya juga dianggap bid’ah, sehingga segala sesuatu yang ada kaitannya dengan selamatan ini dihukumi haram. Inilah kemudian yang menjadikan tetangga saya tadi (sebut saja pak Sukimin) ini ketika diberi berkat oleh salah seorang tetangga yang lain menolak dan memintanya dikembalikan, dengan alas an bahwa berkat itu haram, karena merupakan bagian dari selamatan yang diyakininya sebagai bid’ah.

Sekali lagi saya bertanya, sebenarnya seperti apa sih pola pikir para kelompok Radikal ini? Apa yang salah dengan tradisi-tradisi ini? Belum lagi beberapa hari yang lalu, kita melewati tanggal 14 Februari yang setiap tahunnya diperingati sebagai hari kasih-sayang (Valentine). Di dunia maya, banyak sekali artikel-artikel yang membahas tentang valentine ini, baik yang membahas tentang sejarahnya, kemudian serba-serbi perayaannya, hingga sampai pada artikel-artikel dari situs-situs Islam yang banyak mengecam perayaan ini, dan tidak sedikit pula yang kemudian memfatwakan – secara on line – bahwa valentine itu haram.
Entah dari mana dan atas dasar apa pengharam itu dibuat, namun sampai detik ini, alas an yang saya terima terkait dengan pengharaman valentine adalah karena perayaan itu berasal dari orang non-Islam (Kristen). Sedangkan seperti yang telah banyak dari kita orang Muslim ketahuai, bahwa Rasul saw., pernah bersabda yang kurang bahwa siapa saja yang meniru laku non-Muslim, berarti ia termasuk di dalamnya. Jika memang pengharaman itu hanya didasarkan pada argument hadist tersebut, maka saya kira perlu ada upaya penyadaran secara massal kepada kita semua (orang Islam). Bahwa saat ini kita hidup di dunia yang tidak bisa dilepaskan dari budaya take and give (memberi dan menerima) dari siapa saja. Apalagi di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Sebut saja adanya internet, smartphone, munculnya berbagai jejeraing sosial dan sebagainya. Bukankah ini semua bauatan non-Islam, lantas apakah kemudian segala sesuatunya itu hanya mereka non-Islam yang menggunakannya? Jika ada yang mengatakan iya, maka saya berani mengatakan bahwa orang tersebut sangat naif.
Akan tetapi, bukan berarti dengan sikap saya seperti itu berarti saya mendukung valentine, bukan. Saya bukan mendukung, juga bukan menolak. Tapi di sini saya hanya ingin mengungkapkan apa yang menjadi kegelisahan pribadi. Karena fenomena valentine ini seperti drama yang selalu diputar setiap tahunnya dengan alur cerita yang selalu sama dan sama. Coba kita perhatikan, tiap valentine, di media sosial selalu ramai itu artikel-artikel yang dishare kemana kemari yang menyatakan kalau valentine haram. Tidak hanya itu, kajian-kajian tentang valentine pun senantiasa digelar tiap tahun, dimana tiap tahunnya isinya juga sama, bahwa valentine haram.
Lha kalau sudah dikatakan haram, so what gitu? Lalu apa? Apakah memang kita menghendaki sampai 100 tahun ke depan atau mungkin 100 abad ke depan tiap valentine kita akan menjumpai artikel keharaman ini? Mungkin ada yang mengatakan bahwa “dakwah itu memang harus dilakukan terus menerus, dan mengatakan valentine haram itu adalah termasuk dakwah, biaralah orang berkata apa, yang penting kita tetap konsisten menyuarakan valentine haram”. Oke, itu adalah hak setiap orang, tapi apakah harus dengan cara seperti itu? Apakah kita harus menunjukkan rasa benci terhadap tradisi agama lain? Apa tidak ada cara yang lebih halus, yang tidak menyinggung agama lain? Kenapa kita tidak coba mencoba menilai diri sendiri, bagaimana seandainya ada orang non-Islam menghina tradisi keagamaan kita? Apakah kita akan baik-baik saja? Kenapa harus mengatakan haram bagi tradisi yang berakar dari agama non-Islam?
Selain itu, ada juga yang kemudian berdalih bahwa perayaan valentine itu identik dengan kemaksiatan. Oke, sekali lagi saya katakana itu sah-sah saja penilaian seperti itu. Tapi jangan lantas memukul rata bahwa semua yang merayakan valentine itu maksiat. Seperti yang saya saksikan dalam sebuah berita di televise, ada komunitas yang mengadakan acara membuat kue valentine untuk para penyandang cacat yang bertujuan untuk memupuk rasa kasih sayang. Apakah acara seperti ini – yang menjadi perayaan valentine – itu adalah maksiat? Jika pun memang ada para muda-mudi yang kemudian merayakan valentine dengan maksiat itu lain hal lagi. Dan inilah yang terkadang menjadi penyakit yang banyak diidap oleh para kaum Islam Radikal, yaitu senantiasa menafikan kebaikan yang tidak berasal dari mereka. Jika ada kesalahan yang begitu kecil dari orang di luar kelompoknya, maka akan dibesar-besarkan, dikatakan bahwa ini merusaklah, menggrogoti Islam lah dan sebagainya. Bukankah demikian itu malah mengkerdilkan Islam? Bagaimana mungkin Islam yang telah tumbuh dan berkembang serta mengakar lebih dari 14 abad ini tergerogoti dengan hal-hal remeh ini? Maka benar jika Gus Dur menilai bahwa yang semacam itu adala bentuk rasa ketidakpercayaan pada diri sendiri. Melihat kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh non-Islam, seakan kebakaran jenggot, kita lantas mengatakan semua yangberasal dari barat (non-Islam) itu salah. Jadi diibaratkan kita dan tetangga kita sama-sama berjualan bakso, kemudian tetangga kita mampu berinovasi – dalam segi rasa dan bentuk misalnya –  sehingga bakso dagangannya lebih diminati pembeli, karena kita tidak mampu berinovasi, kemudian kita menyebar isu kepada pembeli bahwa bakso yang di jual tetangga sebelah yang kebetulan non-Islam itu dicampuri daging celeng dan sebagainya dengan harapan agar dagangan tetangga kita itu sepi.
Kurang lebih seperti itulah yang ada dalam benak saya. Namun, yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa tradisi-tradisi yang ada di sekitar kita biarlah tetap terjaga. Kita tak perlu terpengaruh dengan suara-suara sumbang yang mengatakan apa yang telah menjadi tradisi-tradisi di sekitar kita ini tidak ada tuntunannya dalam al-Qur’an dan Hadist. Islam datang bukan sebagai “ajaran dictator” yang memberangus tradisi-tradisi yang menjadi kearifan local. Islam yang termanifestasi dalam al-Qur’an dan Hadist ini tidak terbatas pada apa yang berbunyi dalam teks, karena jika kedua sumber hukum Islam itu kita pahami hanya secata teks, maka kita akan terkungkung dalam pola pikir yang sempit yang akan menjatuhkan kita pada paham Islam yang Radikal, yang mudah menggunakan term sesat, salah, kafir, neraka dan sebagainya.
Dalam buku yang saya sebutkan di atas, yang menceritakan keragaman umat Islam di beberapa Negara (Afrika Selatan, Anerika, Australia, Belanda, Cina, India, Indonesia, Iran, Mesir, Prancis dan Yaman) lengkap dengan tradisinya mampu menggambarkan kepada kita bagaimana Islam berhasil berdialog dengan budaya lokal. Dalam istilah Gus Dur, ini disebut sebagai pribumisasi Islam yang merupakan upaya rekonsiliasi Islam dan budaya setempat. Menurut Gus Dur (dalam M. Hanif Dzakiri, 41 Warisan Kebesaran Gus Dur, 2010) adalah meminta agar wahyu dipahami dengan mempertimbangkan factor-faktor kontekstual… Selain itu, jika agama dan tradisi dipahami secara utuh justru akan melahirkan sikap terbuka dan dewasa. Namun kalau keduanya dipahami secara sempit dan dangkal, maka yang muncul adalah sikap menutup diri dan overclaim yang kekanak-kanakan. Setidaknya sikap dewasa dan terbuka inilah yang mampu menjadikan Islam mampu bertahan di segala Negara di dunia termasuk Negara sekuler sekalipun dengan segala tradisi yang dimiliki.
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.