MASIGNCLEAN103

Menjaga Masa Laluku, Masa Kiniku, dan Masa Depanku


Suatu ketika, saya sedang berbincang-bincang tentang jodoh dengan salah seorang teman. Bahwa tidak ada satu pun manusia yang tahu kapan ia akan bertemu jodohnya, dan kapan pula ia akan melakukan ikatan janji suci kepada jodoh yang telah Tuhan persiapkan. Bahkan, tidak ada yang tahu bahwa ikatan janji suci itu apakah akan selamanya atau hanya sementara, dalam arti akan kandas di tengah jalan. Itu berarti bahwa memang jodoh – seperti yang telah dinasihatkan oleh para orangtua – adalah suatu misteri yang bukan maqam nya kita sebagai manusia untuk mencoba memikirkan, apalagi mengaturnya.
Tapi, meskipun demikian, tidak ada salahnya bagi kita untuk mencari sosok yang memang kita harapkan akan menjadi jodoh kita. Dan yang namanya mencari sesuatu yang masih belum jelas, pastinya kita perlu menentukan criteria yang bias kita jadikan ‘kompas’ dalam pencarian seseorang yang akan kita jadikan pendamping hidup kita. Lantas teman saya itu bertanya, “kalau kriteriamu gimana?” . mendapat pertanyaan itu, spontan saya menjawab, “dia harus bisa menjaga masa laluku, masa kiniku, juga masa depanku”.
Dengan agak bingung, teman saya tadi bertanya lagi, “maksudnya gimana?”. (Dalam beberapa detik, saya juga merasa bingung dengan jawaban yang saya lontarkan tadi. Tapi setelah beberapa detik terpenjara dalam kebingungan, akhirnya saya mendapatkan jawabannya). Akhirnya saya jelaskan, bahwa saya ingin mencari seseorang yang mampu menjaga masa laluku. Siapakah itu masa laluku? Dia adalah orang yang begitu berharga dalam hidupku, yang telah merawat, menjaga dengan penuh kasih sayang dan cinta. Sosok yang begitu tegar, yang begitu bijaksana, yang begitu lembut, yang selalu memberi yang terbaik untukku tanpa pernah mengharap apapun dariku. Ya, ia adalah orangtuaku. Saya ingin berjodoh dengan seseorang yang bisa memuliakan orangtuaku yang karenanyalah saya hadir di dunia ini. Apakah kriteria yang pertama ini terlalu mengada-ada? Ah, saya rasa tidak. Sudah berapa banyak yang dapat kita saksikan di sekitar kita, menantu yang kurang ajar kepada mertuanya. Yang tidak sopan, yang meremehkan, menghinakan dan sebagainya. Dan parahnya, terkadang si anaknya sendiri pun pada akhirnya tidak hormat lagi pada orangtuanya gara-gara lebih percaya pada pasangannya. Jadi, kriteria pertama adalah harus bisa menjaga ‘masa laluku’. Perlu digaris bawahi bahwa penyebutan masa lalu di sini yang bermakna orangtua bukan berarti menganggap orangtua kita sebagai sebuah masa  lalu, melainkan sekedar penyebutan istilah.
Kemudian, kriteria yang kedua ialah dia harus bisa menjaga masa kiniku. Artinya, dia bisa menjadi sosok yang selalu mendukung serta menyemangati saya untuk melakukan yang terbaik di masa kini. Di saat saya sedang jatuh, ia dengan tulus mengulurkan tangannya dan memotivasiku untuk tetap melakukan yang terbaik. Yang selalu mengingatkanku di saat kesuksesan telahku raih, bahwa semua ini adalah titipan, oleh karemna itu tetaplah menjadi pribadi yang rendah hati. Pertanyaan yang sama, apakah kriteria kedua ini juga mengada-ada? Ah, saya rasa tidak juga. Kan banyak itu kita lihat istri yang menjadikan suaminya sapi perah, atau sebaliknya suami yang tak sedikitpun menghargai si istri. Jadi, mencari pasangan yang mampu menjaga masa kini kita itu penting, dalam arti yang dapat mendukung dan juga menghargai kita. Menghargai sebagai pelengkap hidup kita.
Kriteria yang terakhir adalah yang mampu menjaga masa depan saya. Maksudnya? Ya siapa lagi kalau bukan buah hati kita. Intinya, ia harus mampu menjaga buah hati kita, mampu merawatnya dengan baik, mampu memberikan pendidikan yang baik dan semuanya yang serba baik. Pertanyaan yang sama, apakah ini terlalu mengada-ada? Lagi-lagi saya katakana, “aaaah, saya kira tidak”.  Alasannya? Mungkin anda akan mendapatkan jawabannya sendiri ketika anda mulai sedikit peka melihat fenomena di sekitar kita terkait dengan kekerasan pada anak. Jadi itu, kriteria yang saya ajukan untuk menjawab pertanyaan teman saya di atas. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat. Amiiiiiiin. []
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.