MASIGNCLEAN103

Semut, Kucing dan Lalat


Beberapa pertanyaan ingin saya ajukan untuk mengawali tulisan ini:
1.     Apa yang akan anda lakukan seandainya di dalam kamar kita ada sekawanan semut yang sedang berpesta mengrubuti secuil kue yang sempat kita makan?
2.     Apa tindakan spontan yang anda lakukan ketika melihat ada kucing mengambil satu-satunya ikan yang ada di atas meja, padahal ikan itu adalah satu-satunya ikan yang tersisa untuk makan siang anda?
3.     Apa yang akan kita lakukan jika ada lalat yang begitu mengganggu tidur siang anda?
Jika ada yang mengajukan pertanyaan itu pada saya, maka jawaban yang akan saya berikan ialah:
1.     Saya akan mengambil sapu, kemudian menyapu semut-semut – yang dalam benak saya adalah semut nakal – yang sudah merusak pemandangan serta memberikan kesan tak menyenangkan dalam kamar saya. Jika dengan sapu saja tidak cukup, maka bisa jadi saya akan menuangkan obat anti semut atau semacamnya yang memungkinkan semut  - minimal -  tidak akan datang lagi atau bahkan membunuh semut-semut itu.
2.     Ada kucing yang mengambil ikan satu-satunya yang saya punya? Yang akan saya lakukan tergantung ada benda apa di sekitar saya saat itu yang bisa dengan cepat saya raih untuk selanjutnya saya lemparkan pada kucing itu. Misal sandal, sapu, atau benda-benda lainnya yang memungkinkan dan masih pantas untuk dilemparkan ke kucing – yang menurut saya nakal itu. Atau minimal saya akan mengumpat dengan tidak jelas terhadap kucing itu.
3.     Mungkin tidak jauh beda dengan pertanyaan pertama, minimal saya siap-siap pemukul lalat atau kalau punya ya raket nyamuk yang akan saya gunakan untuk memberi pelajaran lalat-lalat nakal tersebut, atau kalau punya obat anti lalat pastinya saya akan menggunakan itu.
Meskipun ketiga jawaban yang saya berikan itu bersifat pribadi, dalam arti pribadi menurut saya. Tapi saya yakin apa yang saya utarakan terkait dengan apa yang akan saya lakukan atas ketiga gangguan tersebut tidak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Karena saya mengalami sendiri menyaksikan beberapa orang yang dengan tanpa kompromi membasmi semut-semut yang mengerubuti makanan yang ada. Beberapa alasan mungkin bisa kita pakai untuk membenarkan tindakan kita itu, misal kita kecewa melihat makanan kita dijajah oleh koloni semut-semut nakal itu. Ok, mungkin itu alasan kita kemudian menyingkirkan koloni semut dengan berbagai cara. Tapi seandainya kita ubah obyek yang menjadi jajahan semut, katakanlah bukan makanan yang kita sukai, melainkan bangkai cicak atau serangga yang tak tahu dari mana asalnya ada di kamar kita. Kemudian datanglah itu koloni semut yang mengerubuti bangkai itu. Apakah akan kita biarkan?
Kemudian, terkait dengan kucing. Sekarang coba kita bertanya pada diri kita. Apa yang paling disukai kucing? Apakah rumput? Apakah buah-buahan? Apakah nasi goreng? Nasi liwet? Meskipun ada beberapa kucing yang dikecualikan, tetap saja semua orang tahu bahwa kucing sangat suka dengan yang namanya ikan, di samping juga suka dengan tikus dan beberapa binatang kecil lainnya. Lantas apakah sebuah kesalahan jika kemudian kucing itu mengambil ikan yang ada di meja yang kebetulan luput dari pengawasan kita? Apakah sepantasnya kucing mendapat perlakuan kasar kita – entah itu dipukul atau sekedar sumpah serapah kita – gara-gara mencuri ikan kita.
Kemudian lalat yang dengan begitu lincahnya menari-menari di sekitar kita dengan sesekali hinggap di mata kita, hidung, pipi dan lainnya. Dengan serta merta kita mengusirnya, bahkan jika masih tetap mengganggu, kita tak segan-segan membasminya.
Terkadang saya berpikir, bahwa manusia adalah makhluk yang paling egois. Kenapa? Kita lihat saja pada tiga pertanyaan dan tiga jawban di atas. Jika dipikir-pikir, apakah salah semut jika dia mengambil makanan yang memang makanan itu adalah kesukaan dia? Adapun jika makanan itu kebetulan ada di kamar kita, apakah salah semut juga jika kemudian semut-semut itu merayap di sepanjang dinding dan lantai di kamar kita? Bukankah itu salah kita yang membiarkan makanan berserakan atau tak tertutup dengan benar. Jika saja kita bisa mendenngar bahasa semut, mungkin kita bisa mendengar keluhan si semut atas ulah kesewenangan kita. Sama halnya keluhan kita jika ada pihak yang mengganggu usaha kita yang sebenarnya adalah hak kita. Misalnya, kita ada di sebuah pameran barang bekas yangmana kita diperbolehkan mengambil barabg-barang bekas layak pakai itu secara Cuma-Cuma, ketika kita sudah mendapatkan barang yang kita inginkan tiba-tiba ada orang yang memukul kita dan mengambil barang yang telah kita pilih, padahal barang itu sudah sangat anda sukai dan hanya ada satu. Perumpamaan itu memang lebih kompleks dari kasus semut, karena memang sangat berbeda antara manusia dan semut.
Ketika saya menyadari akan hal ini, yaitu tentang sikap kita terhadap beberapa makhluk yang kita anggap mengganggu ini, saya mencoba bersikap lebih fleksibel dan lebih positive thinking dalam menghadapinya. Seperti pada kasus semut yang tiba-tiba menjajah kamar saya karena ada sisa makan yang saya makan, saya mencoba tidak serta mengusirnya. Saya biarkan saja semut itu datang dengan koloninya, beberapa saat kemudian saya dapati bahwa semut-semut itu sudah tidak ada, bahkan sisa-sisa makanan yang tercecer pun juga lenyap tak berbekas. Semut yang awalnya saya anggap pengganggu ternyata justru membantu kita membersihkan kamar saya. Indah bukan?
Yah, itulah manusia. Terkadang prasangka burul kita jauh lebih cepat mendahului logika serta hati nurani. Saya ingat salah satu pesan guru saya, bahwa untuk mendapatkan dunia yang indah kita perlu memegang dua prinsip, pertama, jangan lakukan sesuatu yang jika perlakuan itu ditujukan kepadakita, kita tidak suka. Misalnya, kita tidak suka jika kita di caci maki, maka janganlah kita mencaci orang lain bahkan ketilka orang itu pantas mendapat cacian, dan sebagainya. Kedua, selalu berprasangka baik pada siapapun, kepada keluarga kita, tetangga kita, guru kita, dan kepada siapapun tak terkecuali makhluk-makhluk ciptaan Tuhan selain manusia, sebut saja hewan-hewan dan tumbuhan, bahkan kita juga perlu berpikir yang positif terhadap Tuhan Semesta Alam yang sampai detik ini masih memberikan karunia terbaik-Nya pada kita.
Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi saya pribadi dan para pembaca agar senantiasa berpikir positif terhadap apapun dan siapapun. ^_^
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.