MASIGNCLEAN103

Indonesia dan Drama Korea



“Apa aneh cowok nonton drama korea?, pasti selalu diejek teman-teman gara-gara suka drama Korea”.
“Ya kalau aku pribadi sih bukannya aneh, Cuma ya agak aneh sedikit. Karena yang namanya film Korea atau India itu kan mendramatisir. Jadi, kayak itu nggak cocok, biasanya cowok sukanya film action. Tapi tenang aja, masih banyak cowok di luar sana yang suka juga. Hihihi.”
Di atas adalah dialog SMS singkat antara saya dengan salah seorang teman, sebut saja Intan, yang juga sama seperti saya pecinta drama Korea. Kalau dipikir-pikir memang agak aneh jika ada cowok yang suka drama Korea yang pastinya tidak cukup hanya satu atau dua episode saja. Karena dari beberapa drama Korea yang sudah saya tonton, episode yang paling sedikit adalah 14 episode. Sedangkan drama Korea dengan episode terbanyak yang saya ketahui adalah 30 episode.
Karena terdiri dari beberapa episode ini, lantas ada yang menyamakannya dengan sinetron-sinetron yang ada di Indonesia. Penilaian semacam itu wajar-wajar saja mengingat dunia pen-sinetronan Indonesia yang – bisa dikatakan – mulai “mengular” dengan episode-episode yang selalu menyajikan substansi isi yang selalu sama. Akan tetapi, menurut saya pribadi, drama Korea dengan sinetron ala Indonesia tidaklah sama, meskipun sama-sama menyajikan beberapa episdode. Drama Korea walaupun terdiri dari beberapa episode selalu menyajikan sesuatu yang baru. Tidak ada cerita yang diulang dari episode satu dengan episode lainnya. Ini tentu berbeda dengan sinetron Indonesia yang selalu mengulang isi cerita, ditambah lagi fakta akan adanya penyeragaman cerita dari sinetron satu dengan sinetron lainnya. Yang tak kalah menggelikan adalah tak jarang sinetron Indonesia mengambil konsep dari cerita layar lebar yang kemudian diproduksi ala sinetron layar TV. Saya kemudian bertanya-tanya, apakah hanya sampai di situ tingkat kreatifitas insan persinetronan Indonesia? pertanyaan saya itu mungkin bisa berbalik ke diri saya sendiri, karena memang bagaimana pun juga, sebanyak saya mengkritik semua itu tetap saja tidak bisa memproduksi sinetron-sinetron seperti itu.
Memang, saya bukanlah produser film, saya juga bukanseorang sutradara, bukan pula artis yang pintar berakting di depan kamera. Saya hanya konsumen biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika menyaksikan tayangan televisi yang terkadang tidak sesuai dengan – kalau tidak salah sebut – sesuai dengan hati nurani saya. Ada banyak ketidaknyamanan ketika menyaksikan acara-acara televisi di negeri ini akhir-akhir ini. Ada chanel yang dengan teguhnya menanyangkan sinetron-sinetron dengan episode “mengular”, ada pula yang menayangkan berita-berita yang memang jika dibandingkan dengan sinetron-sinetron tadi lebih berbobot, hanya saja unsur konsistensi isinya tetap ada, yaitu berkisar korupsi dan kejahatan-kejahatan lainnya.
Bukankah sesuatu kewajaran jika seseorang mencari sebuah kepuasaan lainnya di saat merasa apa yang tersaji tidak mampu memberikan kepuasan tersendiri, termasuk dalam kepuasan menyaksikan film. Jika sinetron Indonesia tidak mampu memberikan hiburan yang memuaskan, maka kecenderungan untuk mencari hiburan atau tontonan yang memuaskan akan ada. Nah, kebetulan hal itu saya temukan dalam film-film atau drama Korea lainnya. Standar yang saya pakai untuk menilai puas atau tidaknya sesuatu yang saya tonton adalah jika saya tidak merasa bosan dan dalam benak saya timbul rasa penasaran akan kelanjutan tiap-tiap episode. Dan itu saya temukan dalam drama Korea.
Selain itu, dari beberapa drama Korea yang sudah saya saksikan, pasti ada di dalamnya terdapat pelajaran yang – tanpa bermaksud melebih-lebihkan – amat berharga. Dalam setiap drama selalu ada nilai-nilai lokal yang selalu ditonjolkan, semisal makanan khas Korea atau budaya-budaya lainnya. Bahkan tak jarang sejarah-sejarah bangsa ini dikemas dalam drama yang meskipun mengambil latarbelakang tempo dulu, yakni pada zaman dinasti-dinasti kerajaan, tayangan itu masih nyaman dilihat oleh kita yang hidup di zaman modern ini. Kesan kolosal begitu  nyata dan jika pun ada efek visualisasinya, ia tak begitu nampak. Tentu ini berbeda dengan drama kolosal di Indonesia yang selain memiliki episode panjang, setting tempat dan adegannya pun terkesan asal-asalan. Asalkan laku dan bisa ditonton, saya kira itu yang ada dalam benak Rumah Produksi yang memproduksi drama kolosal itu. Bahkan dalam visualisasinya juga terkesan setengah hati.
Bangsa Korea tidak setengah hati menampilkan sejarah bangsanya tempo dulu. Meskipun memang tidak bisa dipungkiri bahwa drama Korea, khususnya kolosal belum bisa menandingi Hollywood, tapi tetap saja itu lebih maju dibanding dengan drama kolosal kepunyaan bangsa ini.
Kemudian, saya melanjutkan sms dengan Intan dan mengirimkannya pesan “yang penting happy, dibuat referensi juga bisa, yen film action-kan nggak bisa untuk referensi dalam mengarungi hidup.” Kemudian Intan membalas “itu dia ponnya, nonton drama itu banyak pelajarannya.” Mungkin akan ada yang mencibir, pelajaran apa? Lha filmnya saja lebay gitu. Saya yakin yang mencibir seperti itu karena memang belum pernah melihat drama Korea, tapi saya yakin bagi yang sudah sering menonton akan sependapat dengan Intan, termasuk saya yang juga sependapat dengannya. Entah kenapa, saya merasa apa yang disajikan dalam drama-drama Korea lebih realistis, dan saya merasa banyak belajar darinya. Banyak sisi positif yang diajarkan, sebut saja budaya menghormati dengan menundukkan kepala tiap bertemu, meskipun itu adalah seorang musuh. Setidaknya, meskipun saya tidak tahu apakah budaya tersebut juga berlaku dalam keseharian atau hanya dalam drama, tapi yang pasti itu adalah sisi positif yang perlu kita renungkan bersama. Bukankah bangsa kita ini bangsa yang berbudaya, lantas kenapa masih kita temui akhir-akhir ini kekuranghormatan seseorang terhadap orang lainnya. Kurang apa coba kita ini? hidup dalam negara yang berbudaya ditambah lagi kita hidup sebagai warga suatu negara yang berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi mulai lupa dengan etika sopan dan santun.
Saya bukan bermaksud menjelek-jelekkan bangsa ini. Karena bagaimana pun juga bangsa ini adalah tempat kelahiran saya, tempat dimana Tuhan menakdirkan saya untuk menjadi kholifah. Ya, di Indonesia dan bukan Korea. Tulisan saya ini hanya sebatas kerisauan dan kegundahan dalam hati melihat fenomena-fenomena yang terjadi di Indonesia, entah fenomena apa yang paliang merisaukan saya sendiri tidak tahu. Terkadang saya juga berpikir bahwa apakah kerisauan ini merupakan akibat kekecewaan dari diri sendiri yang hanya bisa jadi penonton yang hanya bisa berkomentar tanpa bisa melakukan hal yang konkrit. Entahlah! Saya tidak tahu, yang saya tahu bahwa saya ingin melihat Indonesia yang kuat, menjunjung tinggi budaya, tak pernah malu untuk mengatakan “Akulah Indonesia”. Hari ini, esok, lusa, minggu depan, tahun depan dan selamanya saya hanya ingin selalu bangga mengatakan “AKULAH INDONESIA”.
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.