MASIGNCLEAN103

Mukjizat Al-Qur'an: Kita Renungkan Bersama



Semua orang Islam tahu bahwa Al-Qur’an adalah salah satu mu’jizat yang sangat agung, yang Allah swt berikan kepada penutup para nabi, Muhammad saw. Tidak hanya sekedar mu’jizat layaknya yang diperoleh oleh Nabi Ibrahim as. yang selamat dari usaha pembakaran yang dilakukan oleh Namrut la’natullah, atau mu’jizat yang diterima nabi Musa as. yang dapat membelah lautan, dan mu’jizat-mu’jizat yang diterima oleh nabi-nabi lain yang bersifat sekali tempo. Dua contoh mu’jizat yang saya sebutkan itu dan mu’jizat-mu’jizat nabi lainnya – bisa saya katakan – kini hanya berupa kisah-kisah yang hanya bisa kita dengar atau kita baca. Mengimani nabi-nabi Allah merupakan salah satu dari rukun iman yang ada, termasuk mengimani mu’jizat-mu’jizat yang dimiliki para nabi-nabi Allah. Jadi, jika seorang muslim berkata “Ah, mana bisa Laut Merah yang begitu luas bisa terbelah hanya dengan sabetan tongkat”, atau “kulit saya terkena puntung rokok saja melepuh, lantas bagaimana mungkin seseorang yang dibakar dengan api yang begitu besarnya tidak terbakar?” akan diragukan keimanannya. Kenapa demikian? Karena, pertama, orang tersebut jelas meragukan ke-Maha Kuasa-an Allah swt. yang jangankan membelah lautan atau menjadikan seseorang tidak terbakar dalam api, menciptakan laut yang begitu luas dengan kandungan di dalamnya yang begitu indah dan menawan saja bisa, apalagi hanya membelahnya. Kedua, bukankah iman itu percaya? Jika berkenaan dengan sesuatu yang diimani – yang dalam hal ini adalah malaikat – saja ia meragukan, bagaimana bisa kemudian disebut iman?
Tulisan ini tidak akan membahas panjang lebar tentang mu’jizat. Poin tekannya adalah tentang salah satu mu’jizat nabi Muhammad, yaitu al-Qur’an. Jika mu’jizat nabi-nabi sebelumnya sudah tidak bisa kita saksikan lagi saat ini, seperti terbelahnya Laut Merah, tidak terbakarnya nabi Ibrahim, atau bisa melihat jenazah yang hidup lagi setelah dipukul dengan ekor sapi, dan lain sebagainya. Tapi tidak dengan al-Qur’an yang meskipun sudah berusia 14 abad sejak diturunkannya pertama kali di Jazirah Arab, keluarbiasaan serta keistimewaannya sangatlah masih bisa kita rasakan sampai detik ini, bahkan sampai Hari Akhir pun akan tetap terasa kemahadahsyatannya.
Apa itu al-Qur’an? Berisi tentang apa? Apa keutamannya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya tentang al-Qur’an bisa kita temukan di internet dalam hitungan menit saja. oleh karena itu, saya tidak akan membahas hal itu dalam tulisan ini. Saya hanya teringat pada pesan seorang ibu yang menasihati anaknya yang teramat nakal. Sang ibu (sebut saja Diana) sangat sedih melihat anak semata wayangnya (sebut saja Irul) begitu nakal. Irul suka bohong, suka berkelahi, menjalihi teman dan kenakalan-kenakalan lainnya. Selain nakal, di sekolah Irul termasuk siswa yang selalu mendapat nilai rendah, termasuk juga Irul tidak bisa mengaji al-Qur’an. Berbagai cara sudah dilakukan ibu Diana dengan harapan Irul tidak nakal lagi. Apa saja informasi yang ia dapatkan selalu di coba, mulai dari memasukkan Irul pada sekolah yang bonafit dengan biaya bulanan yang melebihi biaya anak kuliah, hingga membayar para tentor handal yang tarifnya di atas rata-rata. Hingga pada suatu hari, ibu bercerita pada saya, “lha ya mas, harapan sayaterhadap itu sederhana, saya tidak ingin yang muluk-muluk, saya tidak ingin Irul harus mendapat rangking di kelas, atau menjuarai kejuaraan ini itu dan prestasi-prestasi lainnya. Saya itu hanya ingin dia (Irul) bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan tekun shalat. Urusan prestasi belajar itu kan uruisan dunia yang semu mas, lha kalau shalat dan mengaji al-Qur’an itu kan urusan akhirat yang bersifat kekal. Kalau Irul tidak bisa mengaji, lantas siapa nanti yang akan mengirim doa pada saya ketika saya sudah meninggal. Lantas pertanggungjawaban saya di hadapan Allah swt bagaimana? Saya gagal mendidik anak saya menjadi orang yang rajin menjalankan perintah-Nya, termasuk shalat.”
Mendengar perkataan ibu Diana, saya amat terenyuh. Andai saja semua orang tua seperti ini, menginginkan yang terbaik untuk buah hatinya sesuatu yang kekal, bukan yang semu, yang bersifat ukhrawi, bukan duniawi, pasti dunia ini akan dipenuhi berkah Allah dari langit dan juga bumi. Sayangnya saat ini sudah banyak orangtua yang enggan memberikan pendidikan agama – termasuk dalam membaca al-Qur’an – pada putra-putri mereka. Banyak yang galau jika melihat nilai bahasa Inggris atau nilai  matematika putra-putri mereka mendapat jelek. Tapi tetap tenang dan bahkan tidak peduli jika putra-putri mereka yang jangankan membaca al-Qur’an, kenal huruf hijaiyah saya tidak. Di perkotaan kita akan mudah menemui tempat Bimbingan Belajar (Bimbel) dipenuhi para siswa-siswi yang mengikuti les pelajaran-pelajaran yang bersifat dunia. Tapi bagaimana dengan Tempat Pembelajaran Al-Qur’an (TPA)? Apakah juga seramai Bimbel? Selain itu, banyak Lembaga Pendidikan yang menawarkan jasa les mematok tarif yang mahal dan mungkin sampai di atas kewajaran, dengan iming-iming janji berupa siapa saja yang les di tempat itu akan mendapat nilai bagus ketika ujian. Dan anehnya, meskipun mahal, para orangtua tetap rela merogoh uang yang banyak demi melihat nilai yang membanggakan di dalam rapot  buah hati mereka. Bagaimana dengan biaya TPA? Waduh mas-mbak-pak-buk-pakde-bude, para guru TPA itu melihat TPA-nya penuh saja sudah bahagia sekali. Tidak perlu gaji, asal bisa melihat anak-anak bisa baca al-Qur’an sudah bahagia sekali. Uang satu atau juta itu bisa habis, tapi kalau pahala mengajarkan al-Qur’an itu tidak akan habis-habis. Para guru TPA rela meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mengajarkan putra-putri anda membaca al-Qur’an, cukup semangati serta dukungannya saja itu sudah cukup. Para guru TPA hanya meminta kesediaannya untuk mengatakan pada putra-putri bapak-ibu hanya beberapa kata saja, “Nak, ayo TPA!”. Cukup! Itu saja.
Memang, untuk saat ini akan terlalu dini untuk mengambil kesimpulan bahwa banyak generasi muda yang beragama Islam yang tidak bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Baik dalam tata krama membacanya dan benar dalam hukum-hukum bacaannya. Kenapa? Karena di banyak tempat, pondok-pondok pesantren yang mengajarkan bacaan al-Qur’an masih banyak dengan santri-santrinya yang banyak pula dan masih banyak pula orang yang menganggap penting bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, bukan untuk pamer tapi memang sadar betul bahwa al-Qur’an yang hanya dengan membacanya saja dinilai ibadah itu bukanlah sembarang kitab yang membacanya tanpa aturan, melainkan harus sesuai dengan kaidah hukum-hukum bacaannya. Tapi, tidak menutup kemungkinan beberapa dekade ke depan “bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar” bukanlah hal yang penting lagi, sehingga menemukan orang-orang yang fasih dalam membaca al-Qur’an akan semakin sulit.
Perlu direnungkan bersama! Bukankah nabi Muhammad pernah bersabda bahwa jika kita membaca al-Qur’an, satu hurufnya dinilai sama seperti sepuluh kebaikan? Meskipun tidak sepatutnya kita menghitung-hitung pahala, hanya saja kita perlu memikirkan sejenak apa yang telah dijanjikan Allah melalui Rasul-Nya itu. Kita baca basmalah dalam al-fatihah saja sudah berapa kebiakan yang kita perbuat? Apakah dalam tempo yang sama ketika membaca basmalah itu kita bisa berbuat kebaian yang sama? Jika tidak, bukankah merupakan hal yang sangat rugi jika kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita, saudara-saudara kita tidak bisa membaca al-Qur’an? Ibarat ada ratusn gunung emas di depan kita, tapi kita malah mengabaikannya.
Semoga yang sedikit ini bisa memberi manfaat, khususnya bagi saya sendiri, dan umumnya bagi semua yang membaca tulisan ini. selain itu, tulisan ini juga saya maksudkan sebagai sarana saling mengingatkan bahwa al-Qur’an adalah mu’jizat yang agung, dengan rutin membacanya saja kita bisa mendapat segala kebaikan. Jadi, jangan terlalu dipikirkan jika ada yang mengatakan bahwa “apa gunanya mengkhatamkan al-Qur’an berkali-kali jika tidak tahu maksudnya”. Jangan salah, bahwa memahami al-Qur’an bukan berarti harus tahu semua arti-artinya. Kita cukup yakin saja, bahwa ketika kita membaca al-Qur’an, kita sedang bercakap-cakap dengan Allah. Selain itu, kita juga yakin bahwa Allah punya bermacam-macam cara untuk menjadikan hamba-Nya dapat memahami al-Qur’an, meskipun tidak pernah tahu arti dari al-Qur’an itu sendiri. Wallaahu A’lam. []
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.