MASIGNCLEAN103

Agama Kesurupan



“Poso, Kembali Membara” setidaknya itu tema yang meramaikan media Indonesia beberapa hari yang lalu. Konflik yang kembali terulang dengan latar belakang yang masih sama, yaitu sentimen agama. Kejadian ini cukup mencengangkan, pasalnya kejadian ini terjadi saat belum genap satu bulan Presiden SBY memperoleh penghargaan sebagai Negarawan Dunia dalam bidang toleransi umat beragama, utamanya di Indonesia.
Penulis jadi teringat pada pernyataan salah satu koordinator pengungsi Syi’ah di Madura (penulis lupa namanya) saat acara “Mata Najwa”. Acara saat itu menghadirkan Yenni Wahid, Benny Susetyo, anggota DPR bidang HAM dari fraksi Demokrat dan koordinator pengungsi yang telah disebutkan. Tema acara yang dipandu Najwa Shihab malam itu mengangkat tema “Kontroversi Toleransi”, sebagai reaksi dari penerimaan penghargan presiden SBY sebagai Negarawan Dunia.
Dengan gaya seorang Najwa Shihab yang kritis dan juga terkesan blak-blakan ini membuat acara malam itu cukup menarik. Dari beberapa hal menarik yang tersaji malam itu, yang paling menarik adalah ketika Najwa bertanya pada koordinator pengungsi Syi’ah tentang tanggapannya atas penghargaan yang akan diterima oleh SBY, ternyata jawaban yang diberikan amatlah bijak. Ia mengatakan bahwa kita harus tetap bangga kepada bapak Presiden atas prestasi yang telah dicapai, dan semoga ke depannya ia dan para pengungsi Syi’ah dapat kembali ke kampung halamannya lagi sebagai hak warga negara. Sementara itu, Benny Susetyo (dewan GKI) – yang terkesan menolak atas penghargaan yang diterima SBY – di salah satu pernyataannya mengatakan bahwa jika presiden SBY ke depannya tidak dapat membuktika ia pantas mendapatkan penghargaan tersebut, maka itu akan menjadi olok-olok dunia Internasional. Kejadian Poso pun seakan menjawab kekhawatiran Romo Benny Susetyo tersebut. Negara yang dipimpin oleh seorang Negarawan Dunia yang mengedepankan toleransi, faktanya tetap terjadi konflik-konflik bernafas agama.
Politisasi agama adalah istilah yang kemudian terlintas dalam benak penulis. Yah, agama yang dirasuki kepentingan-kepentingan politik. Fenomena kerasukan atau biasa disebut kesurupan ini biasanya menjadikan obyek yang dirasuki akan bertingkah di luar kewajaran. Orang yang kesurupan sering terlihat bringas, brutal, atau meraung-raung tak jelas. Intinya, orang yang kesurupan selalu berperilaku diluar kewajaran. Ini pun berlaku pada agama, maka tidak aneh jika agama sekarang sering terlihat garang, ganas dan sering meraung-meraung meneriakkan kebengisan akibat dari dirasukinya agama tersebut oleh kepentingan-kepentingan politik. Karena memang pada dasarnya, agama itu membawa perdamaian, bukan kebencian apalagi pertikaian. Tapi mau bagaimana lagi, saking seringnya agama ini kerasukan, sehingga kesannya agama itu ya garang seperti sekarang ini.
Penulis ingat salah satu ungkapan – yang lagi-lagi kelupaan siapa yang mengatakan itu – yang menyatakan bahwa bangsa ini sudah terlalu melenceng, sehingga yang melenceng pun sudah terlihat tidak melenceng. Nampaknya ini juga berlaku bagi agama-agama saat ini yang terlihat garang. Sebenarnya agama itu lemah lembut, tapi entah sudah seberapa seringnya agama ini kerasukan hingga penampilan agama menjadi menakutkan dengan berbagai penampakannya.
Biasanya, jika ada orang yang kesurupan, maka perlu dilakukan proses pengeluaran makhluk halus dengan dibacakan doa-doa atau di rukyah. Begitu juga agama yang kerasukan ini perlu dilakukan rukyah. Tapi apakah rukyahnya sama dengan rukyah pada manusia? Tentu beda!  Lalu bagaimana? Hemm... penulis sampai saat ini juga masih berpikir bagaimana caranya. Apakah anda punya ide? ^_^
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.