MASIGNCLEAN103

Kenapa Harus Mencaci?



Saya teringat dengan ceramah sorang ustadz dalam sebuah pengajian. Dalam ceramahnya, ia menceritakan tentang semakin gencarnya upaya “kristenisasi” yang ada di sekitar tempat tinggalnya.  Upaya kristenisasi ini mengambil jalan yang bernama “ekonomi”, jalan yang – bukan hal yang mengherankan – memang sangat mudah dilewati untuk misi keagamaan.
Jadi, awalnya para misionaris yang ada memberikan bantuan-bantuan kepada penduduk sekitar. Bantuan itu memang pure bantuan tanpa adanya ajakan atau paksaan kepada penduduk  sekitar untuk menggadaikan keyakinan mereka yang mayoritas Islam. Bantuan demi bantuan terus diberikan kepada penduduk setempat. Kondisi perekonomian penduduk yang terbilang rendah ditambah dengan pengetahuan yang kurang memang menjadikan upaya kristenisasi ini berjalan layaknya mobil yang melaju kencang di jalan bebas hambatan. Meskipun tidak ada ajakan – dalam arti sebenarnya – untuk berpindah agama, pada akhirmya beberapa penduduk mulai mengkonversi keyakinan mereka yang sebagian beralasan bahwa Tuhan mereka yang baru lebih memperhatikannya dari pada Tuhan sebelumnya (dalam ekonomi). Singkat cerita, di daerah tersebut sekarang telah berdiri gereja yag cukup besar, dan tidak hanya berdiri, tapi tiap minggunya selalu dipenuhi para jamaat.
Ustadz yang berceramah menceritakan itu dengan nada yang menggebu-gebu, dan tidak jarang menyebut para misionaris sebagai orang yang terlaknat dan sebagainya. Aroma kebencian amat terasa dalam kata-kata yang keluar. Layaknya kucing yang kehilangan ikan oleh seekor tikus, ustadz tersebut merasa tidak ridlo atas apa yang dilakukan para misionaris di atas.
Di hari saat saya mendengarkan ceramah tersebut, hati saya sependapat dengan penceramah di atas, tapi malam ini hati saya berkata lain. Bahwa bersikap dengan mencaci, menghina, mencela dan lain sebagainya terhadap orang lain yang berbeda dengan kita bukanlah hal yang terpuji. Harusnya, bukan cacian serta cecaran yang kita jadikan penghibur diri atas rasa kecolongan ini. Beribu caci maki yang kita lontarkan tak akan mengubah kenyataan atas banyaknya orang Islam yang berpindah agama, karena memang ini bukanlah hal yang menjadikan kita layak untuk mengeluarkan caci maki. Seharusnya kita introspeksi diri sebagai umat Islam, kenapa umat Islam saat ini mudah dirongrong keyakinan luar. Kenapa permasalahan ekonomi yang menjerat beberapa umat Islam justru diselesaikan bukan dari golongan Islam sendiri, padahal bukan hal yang sulit untuk menemukan orang kaya yang di KTP nya beragama Islam. Kalau mereka bisa berbuat demikian, yakni memberikan bantuan-bantuan berupa barang atau sebagainya, kenapa kita tidak? Justru dengan mencaci dan menghina, menandakan bahwa diri kita iri atas apa yang mereka kerjakan dan dapatkan.
Benarkah kita iri? Nampaknya kita perlu mengingat kembali salah satu sabda nabi Muhammad yang menyatakan bahwa diperbolehkan iri terhadap dua hal, yaitu kepada orang yang diberi harta dan memanfaatkannya di jalan Allah dan kepada orang berilmu yang memanfaatkan ilmunya. Lantas, bagaiman iri dengan orang non-Islam yang menggunakan hartanya untuk membantu orang lain, apakah itu juga boleh? Secara pribadi – dengan tanpa maksud menafsiri hadist dengan asal-asalan – saya katakan itu boleh-boleh saja, selagi masih dalam konteks iri yang konstruktif. Bukankah kebolehan untuk iri kepada dua orang yang disebutkan Nabi mempunyai semangat agar dengan adanya perasaan iri kepada dua orang tersebut, akan mendorong tiap-tiap pribadi untuk bisa menjadi orang yang berilmu yang memanfaatkan ilmunya dan berharta yang mendermakan hartanya. Jadi, menurut saya sah-sah saja jika kita iri pada orang non-Islam yang dermawan, atau orang non-Islam yang mengamalkan ilmunya, selama iri itu bisa menjadi pemicu untuk membuat kita bisa melakukan seperti apa yang mereka lakukan.
Lantas bagaimana jika iri yang diekspresikan dengan cacian? Mungkin pertanyaan ini terlalu vulgar. Setidaknya pertanyaan apakah yang kita dapatkan dari cacian yang kita lontarkan cukup menjadi bahan renungan ke depan. Karena dilihat dari segi manapun tetap tidak akan kita temukan keuntungan dari cacian.
Dalam hal ini, saya teringat pesan guru saya bahwa ada beberapa cara untuk kita agar dapat selamat dunia akhirat, salah satunya adalah janganlah melakukan sesuatu kepada orang lain, yangmana jika sesuatu tersebut dilakukan kepadamu, kamu tidak menyukainya. Pertanyaannya adalah, apakah kita suka jika kita melakukan sesuatu yang kita anggap benar, kemudian ada orang lain tiba-tiba datang dan menyalahkan tindakan kita diikuti dengan caci makian? []
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.