MASIGNCLEAN103

Anak Zaman Dulu vs Anak Zaman Sekarang


Perkembangan zaman yang semakin pesat ini, menuntut kita untuk tetap selalu eksis dalam kancah persaingan yang semakin gila. Tak hanya orang dewasa saja yang dituntut untuk bersaing, anak-anak pun sekarang ini mau tidak mau harus ikut dalam persaingan yang semakin ketat.
Kita bisa lihat, anak-anak sekolah saat ini dihadapkan pada beberapa beban pelajaran yang semakin banyak. Tidak hanya banyak sejara mata pelajarannya, melainkan juga banyak atau tingginya standar kelulusan. Ini diperparah dengan masih kokohnya persepsi masyarakat luas tentang anak yang pintar adalah anak yang memilki nilai ujian tinggi. Padahal, ujian yang ada di sekolah-sekolah – sampai saat ini – kebanyakan masih berkutat di dalam ranah kognitif.
Demi mencapai hasil yang memuaskan dalam ujian, terutama Ujian Akhir nasional (UAN) yang masih terpelihara di negeri ini, mereka  (para anak-anak sekolah) rela berpacu dengan waktu. Mereka, di samping mengikuti Proses Belajar mengajar (PBM) di kelas masing-masing , juga mengikuti les-les lainnya. Dan, motivasi mengikuti les tersebut tidak jauh dari upaya mendapat nilai yang bagus dalam UAN. Maka tidak heran jika saat ini, lembaga-lembaga les pendidikan semakin hari semakin banyak peminatnya. Lembaga-lembaga ini pun menggunakan janji-janji atau semacam jaminan akan nilai rata-rata yang sangat bagus saat ujian, bahkan tak jarang pula lembaga-lembaga tersebut rela mengembalikan uang yang telah dibayarkan oleh orangtua siswa jika putra-putri mereka tidak lulus atau tidak mendapatkan nilai yang di atas standar. Atau minimal dapat mengikuti program les lagi dengan cuma-Cuma.
Sepintas memang sangat membanggakan, melihat para anak-anak sekolah yang sangat rajin datang berbondong-bondong mengikuti les dan sebagainya. Bagaimana tidak rajin? Mereka dari pagi sampai siang berjibaku di bangku sekolah, kemudian sorenya mengikuti les-les lainnya. Kalau bukan rajin, lantas sebutan apa yang pantas bagi anak-anak yang dari pagi hingga malam selalu belajar?
Penulis teringat pada lirik lagu yang dinyanyikan Chrisye dan Ahmad Dhani, “Jika Surga dan Neraka, tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadanya?”. Memang sih, lagu ini tidak ada dengan sangkut pautnya dengan tema di atas. Tapi, penulis mencoba menggubah lagu tersebut menjadi “Jika UAN dan UAS tak pernah ada, masihkah kau serajin itu?”.
Tulisan ini bukan untuk mendeskriditkan atau berburuk sangka pada para anak sekolah yang rajin-rajin itu. Tapi, lebih kepada pendapat pribadi yang mencoba menyoroti fenomena akan-anak sekarang ini, terlebih yang hidup di kota-kota besar, dengan anak-anak zaman dulu.
Anak zaman dulu, meskipun tidak sepintar anak zaman sekarang, pintar dalam arti standar pencapaian nilai atau pintar di atas kertas. Akan tetapi, anak-anak zaman dulu – menurut penulis – lebih memiliki hidup yang lebih berwarna daripada anak-anak zaman sekarang. Ketatnya persaingan yang telah dimulai sejak masa anak-anak, mau tidak mau harus mengorbankan hal-hal yang “dianggap” tidak menjadikan anak menjadi “pesaing” yang tangguh, seperti banyak bermain.
Mungkin pendapat ini terlalu subyektif, tapi terlepas dari itu, penulis merasakan sendiri betapa masa anak-anak saat ini kurang memiliki warna. Memang, zaman dulu tidak ada game online, tidak ada handphone, tidak ada PS (play-Station), dan lain-lain. Tapi, anak-anak dulu punya permainan-permainan yang lebih alami. Delik an (petak-umpet), cublek-cublek suweng, banggalan, setinan (kelereng), dan lain sebagainya.
Hampir semua mainan anak-anak zaman dulu, tidak bisa lepas dari “kebersamaan”. Tak hanya itu, permainan-permainan itu pun tidak membutuhkan biaya yang mahal. Singkatnya, permainan zaman dulu itu “murah meriah”. Tidak seperti permainan-permainan yang ada saat ini, yang meskipun terlihat lebih keren dan sangar, tapi  lebih mahal dan juga lebih cenderung pada individualitas. Artinya, jika permainan-permainan zaman dulu murah meriah, maka permainan saat ini “mahal egois”.
Akan tetapi, terlepas dari semua itu. Masa anak-anak, entah itu zaman dulu, atau zaman sekarang tetaplah merupakan masa pembentukan karakter. Persaingan yang ketat memanglah baik untuk memacu semangat, tapi persaingan tersebut tentunya akan menjadi hal yang tidak baik, jika persaingan yang ketat itu justru menumbuhkembangkan karakter yang tidak terpuji. Sebut saja, kasus-kasus yang menjadi menu wajib ketika UAN berlangsung di negeri ini. Kasus-kasus menyontek masal dan lain sebagainya sudah menjadi rahasia publik. Langsung atau tidak langsung, persaingan yang ketat dengan standar kelulusan yang tinggi ikut memicu munculnya kasus-kasus tersebut. Wallahu A’lam [].
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.