MASIGNCLEAN103

Ketika CINTA Bertanya?


“Aku cinta sama kamu, mau gak kamu jadi pacarku?”

Ada yang pernah dengar kata di atas? Atau bagi yang cowok apakah pernah bilang seperti kata tersebut? Setiap orang tentu bisa berkata demikian, kalau memang perkataan itu hanya sekedar suara yang keluar dari mulut. Tapi, ada saat dimana perkataan itu bisa jadi membuat hati si pendengar/ yang diajak bicara jadi berbunga-bunga, sedih atau biasa-biasa saja. Karena bisa jadi perkataan yang sama akan mempunyai makna yang berbeda bagi kita tergantung dari siapa yang mengatakannya.
Jika kita mendengar perkataan di atas dari orang yang ternyata  kita juga memiliki perasaan yang sama. Maka yang terjadi adalah kita  merasa betapa lengkap dan indahnya hidup ini. Seseorang yang memang kita kagumi dan bahkan cintai ternyata juga memiliki perasaan yang sama. Untuk menjawab pertanyaan itu pun tak perlu pikir panjang lagi, meskipun ada juga sebagian wanita yang pada dasarnya telah mengiyakan pertanyaan tersebut tapi basa-basi terlebih dahulu dengan meminta waktu untuk berpikir. Ya, itu memang wajar. Karena memang harus diakui salah satu daya tarik dari seorang wanita adalah ketika ia mampu membuat penasaran seseorang yang menaruh perasaan cinta padanya. Jadi, jika pertanyaan di atas keluar dari mulut orang yang – diam-diam – kita cintai, maka saat itulah hati kita akan berubah menjadi taman bunga.
Kemudian, jika saja pernyataan tersebut keluar dari orang yang tidak pernah terlintas dala benak kita untuk menambatkan hati padanya. Maka, bisa jadi dunia saat itu telah menghimpit tubuh kita. Apalagi – katakanlah – ia adalah teman dekat kita. Ingin dijawab tidak, tapi takutnya dia sakit hati dan tidak mau berteman dengan kita lagi. Dijawab iya tapi dalam hati tak ada sedikit pun perasaan cinta, dan takutnya ketika dipaksa nanti akan lebih menyakiti karena telah memberi harapan palsu. Jadi, pernyataan di atas akan menjadi pertanyaan yang cukup berat ketika itu keluar dari teman baik kita, sementara kita tak ada sedikit pun rasa suka lebih dari teman. Saat itulah kita seakan-akan dihadapkan pada dua pilihan yang benar-benar sulit.
Yang selanjutnya adalah kita merasa biasa-biasa saja ketika mendengar pernyataan dan pertanyaan tersebut jika yang mengatakan itu adalah orang yang asing buat kita, atau hanya sebatas kenal saja. Jika pada posisi ini, sudah pasti jawabannya adalah tidak, meskipun tidak menutup kemungkinan ada jawaban yang lain.
Dari kesemuanya itu, tidaklah begitu penting untuk dipermasalahkan siapa yang bertanya seperti itu kepada kita. Karena “Tidak Ada Yang Salah Cinta”. Kita tidak bisa menyalahkan jika orang yang menyatakan cinta pada kita bukanlah orang yang kita cintai. Atau kita juga tidak bisa menyalahkan jika orang yang kita cintai ternyata mencintai orang lain. Karena cinta itu memang aneh, dan aneh itu bisa berarti tak terduga, tak bisa direncanakan, tak bisa diatur kapan datang dan perginya, kepada siapa ia menambatkan hati, kepada siapa ia hendak menyerahkan separuh jiwanya, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah ketika kita mendapatkan pernyataan dan pertanyaan seperti itu, kita harus memberi jawaban yang tegas. Jika memang iya, katakan dengan jelas bahwa kita bersedia menjadi belahan jiwanya. Jika tidak, maka katakanlah tidak dengan tegas, mungkin awalnya dia sakit hati, tapi seiring berjalannya waktu sakit itu akan hilang tergantikan oleh kecintaan yang lainnya setelah nikah.
Yang terpenting juga adalah jangan pernah kita coba-coba dalam menerima cinta. Semisal kita menerima pernyataan cinta seseorang dengan dalih “siapa tau cocok” (STC), padahal dalam hati kita tidak ada sebutir pasir pun untuk mencintainya juga. Sementara kita masih dalam fase STC, orang yang mencintai kita sudah merawat serta menjaga cintanya hingga dari ke hari cinta itu semakin tumbuh besar. Setelah berjalan beberapa waktu dan cinta itu telah tumbuh besar, tiba-tiba kita mutusin dia karena ternyata hipotesis STC tidak terbukti. Ketika akhirnya putus, kita mungkin tak akan merasakan sakit yang begitu dalam. Tapi bagaimana dengan yang mencintai kita? Bisakah kita bayangkan jika kita berada di posisinya, mencintai dengan sepenuh hati, kemudian kita dijatuhkan setelah sebelumnya kita dimuliakan dengan menjadi pacarnya. Apa yang kita rasakan itu lah yang dirasakan orang yang kita labeli STC. Jadi, lebih baik menyakiti di awal dengan mengatakan yang sejujurnya terkait dengan perasaan kita daripada di belakang timbul masalah lagi.
Kesimpulannya adalah cinta itu ajaib. Karena di dalamnya penuh dengan kejutan. Semisal pada pernyataan di atas, jika tidak ajaib tentu pernyataan dan pertanyaan yang sama tidak akan mengandung makna berbeda. Tegas dalam memberikan jawaban juga harus selalu diperhatikan. Karena seperti yang telah disebutkan di atas, lebih baik menyakitinya di awal daripada kita membuat senang dia dan menciptakan kenangan-kenangan indah bersamanya namun tak berakhir dengan indah.
“Tidak ada yang salah dalam Cinta, yang salah adalah ketika Cinta itu hanya bersembunyi pada kegelapan yang penuh penantian”.
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.