MASIGNCLEAN103

Hinaan Itu Datang Dari Dalam


Sore ini tak sengaja saya bertemu dengan seseorang yang memakai jaket bertuliskan “Islam Is The Best” dengan Lafadz Allah dan Muhammad – bertuliskan Arab – berada di atas dan di bawah tulisan tersebut. Memang, kita sebagai orang Islam haruslah bangga dengan agama kita, dan salah satu ekspresi kebanggaan tersebut bisa berupa pemakaian atribut yang bercirikan Islam seperti memakai jaket dengan tulisan-tulisan atau gambar dan lain sebagainya yang bernuansakan Islam. Seperti seseorang yang sore ini menarik perhatian saya.
Saya juga ikut bangga ketika ada orang yang juga membanggakan Islam. Tapi, saya juga ikut jengkel semisal ada orang Islam yang mencela Islam. Beberapa waktu yang lalu sedang panas-panasnya menentang beredarnya film “Innocence Of Muslim” yang disinyalir telah merendahkan Nabi Muhammad SAW. selaku nabi orang-orang Islam. Tapi, bukankah itu wajar jika orang non-Islam menjelekkan dan juga menghina Islam. Zaman nabi Muhammad berdakwah pun demikian. Banyak non-Islam yang menghina dan menjelek-jelekkan Islam. Bahkan tidak hanya menghina Nabi, tapi juga sampai melukainya. Masih ingatkah kita tentang riwayat ketika nabi Muhammad berhijrah ke Thaif untuk berdakwah? Saat itu, tidak hanya hinaan dan cacian yang diterima nabi Muhammad, melainkan perlakuan kasar dari penduduk Thaif juga beliau terima. Saking keterlaluannya penghinaan orang-orang Thaif, malaikat Jibril pun tak kuasa melihatnya hingga ia eminta izin kepada Rasul SAW. untuk mengangkat gunung dan menjatuhkannya dari atas orang-orang Thaif yang melampaui batas itu. Tapi Nabi SAW. tidak mengizinkannya dengan alasan bahwa orang Thaif berlaku demikian karena mereka tidak tahu tentang Islam dan juga belum mendapat hidayah dari Allah SWT. Lantas, nabi Muhammad SAW. mendoakan orang-orang Thaif agar mereka segera mendapat hidayah dari Allah SWT. Lantas, ketika ada orang non-Islam yang menghina dan merendahkan umat Islam, kenapa kita tidak meniru keanggunan sifat nabi Muhammad SAW.? Jadi, wajar saja jika non-Islam menghina Islam, seperti halnya – sebagian – orang Islam yang hobi menjelek-jelekkan Amerika, Israel dan sekutunya. Terkadang memang aneh, kita jengkel dan emosi meluap-luap ketika ada yang menghina dan menjelekkan Islam. tapi, di satu pihak kita juga – tanpa sadar – telah melakukan penghinaan juga.
Seharusnya, saat ini kita fokus pada penghinaan-penghinaan Islam yang justru datang dari dalam Islam itu sendiri. Bukan bermaksud menghakimi bahwa perilaku orang yang saya ceritakan di atas itu telah menghina Islam. Tapi, saya hanya nerasa sedikit jengkel ketika orang tersebut yang memakai jaket bertuliskan “Islam is The Best” tiba-tiba melanggar lampu lalu lintas. Itu memanglah hal yang sepele, tapi mbog ya jangan ketika memakai atribut keislaman. Bukankah ini juga penghinaan? Penghinaan bagi Islam yang dilakukan oleh orang Muslim sendiri? Kenapa tidak ada yang protes? Kemudian, korupsi yang menjamur di Indonesia yang kebanyakan adalah orang-orang Islam dan tak jarang sudah berangkat ke tanah suci berkali-kali, bukankan mereka juga menghina dan merendahkan islam? Tapi apa? Apakah kita pernah mendengar demo besar-besaran ormas Islam yang menolak korupsi? Pada dasarnya, ini lebih menghina Islam dibanding dengan hinaan non-Islam terhadap Islam. Sungguh aneh bukan?.
Saya memang menyadari bahwa terkadang saya juga melakukan hal-hal kecil yang ada kemungkinan itu menodai serta menghina Islam. akan tetapi, paling tidak kejadian sore ini menyadarkan saya bahwa terkadang kita memang melupakan hal-hal kecil yang ternyata tanpa kita sadari merupakan hal-hal yang dapat mendatangkan akibat-akibat besar yang tak terbayangkan. Seperti – yang telah saya tulis sebelumnya – tentang baut ban mobil yang sangat kecil itu bisa mengakibatkan kecelakaan  yang sangat fatal jika sesuatu yang kecil itu tidak ada.
Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk mengklaim siapa salah siapa benar. Siapa pantas mengkritik, siapa pantas dikritik. Siapa pantas dijelekkan, siapa yang pantas menjelekkan. Melainkan sebagai introspeksi diri saya sendiri dan semoga juga mampu menular kepada yang lainnya. Bukankah orang yang kita temui itu bisa menjadi cermin pada perilaku diri kita? Jika kita melihat seseorang yang berlaku kurang baik, maka tak seharusnya kita melakukan hal tersebut, karena bisa jadi kritikan kita saat ini suatu saat bisa kembali lagi ke kita jika kita tak mau bercermin. Begitu pun jika kita melihat seseorang yang berperangai baik, maka hendaknya kita mau berperilaku seperti itu. Amiiin. []
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.