MASIGNCLEAN103

Belajar dari PELANGI



Apakah ada yang keberatan jika ada yang mengatakan bahwa perbedaan itu adalah Sunnatullah? Silahkan jika memang ada yang keberatan, karena dengan adanya yang keberatan itu berarti semakin menguatkan bahwa perbedaan memanglah akan selalu menghiasi kehidupan di dunia ini. Berapa banyak perbedaan di dunia ini yang bisa kita sebutkan? 20? 30? 40? Atau berapa? Sudah dapat dipastikan bahwa sebuah kemustahilan jika kita mampu menghitung perbedaan di dunia ini.
Perbedaan memang akan selalu ada dan kita sebagai manusia tak dapat menghindarinya. Tapi apakah perbedaan itu harus dihindari? Perbedaan itu bukan untuk dihindari, tapi dihadapi dengan sikap yang bijak. Berapa kali kita menyaksikan baik di media-media elektronik maupun cetak atau menyaksikan langsung di sekitar kita orang-orang yang menghadapi perbedaan dengan sikap kurang bijak, semisal menghakimi/ menyerang pihak-pihak yang kurang sepaham dengan dirinya. Padahal belum tentu orang yang menghakimi lebih baik dan benar dari pada yang dihakimi.
Kita semua tentu tahu bahwa perbedaan itu bermacam-macam. Ada perbedaan suku, ras, agama, dan lain-lain. Untuk yang terakhir disebutkan – yakni agama – perlu kita renungkan kembali. Berapa banyak kasus-kasus pertikaian sesama umat Islam hanya dikarenakan persoalan perbedaan pendapat dalam memahami Islam – karena pada dasarnya Islam itu tetaplah satu, hanya saja pemahaman tentang Islam dari tiap-tiap muslim/ kelompoklah yang berbeda. Cobalah kita bertanya pada diri kita masing-masing, bagaimana bisa seorang muslim dengan muslim lainnya yang bertuhankan Allah SWT., bernabikan Muhammad SAW., dan mempunyai pedoman yang sama yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah saling mencaci dan menghina? Apakah nabi Muhammad SAW. pernah mengajarkan kepada umatnya untuk menyikapi perbedaan dengan kekerasan?
Sering kita dengar bahwa Islam itu “Rahmatan Lil ‘Alamin”. rahmat bagi seluruh alam. Bisa kita bayangkan bahwa kerahmatan Islam itu bukan hanya untuk orang Islam saja, tapi untuk semua alam,  sekali lagi untuk semua alam. Tapi apa yang kita dapati akhir-akhir ini, alih-alih untuk semua alam, untuk sesama muslim saja kerahmatan itu menjadi hal yang sangat mahal dan langka.
Kita seharusnya dapat belajar dari “pelangi”. Kita tentu tahu apa itu pelangi, fenomena langit yang terjadi setelah hujan turun pada siang hari. Coba kita renungkan betapa cantik dan anggunnya pelangi tersebut, dengan perpaduan warna yang begitu indah. Bukankah kita dapat melihat perbedaan-perbedaan warna yang sangat mencolok pada pelangi? Tapi, bukankah memang dengan perbedaan itulah yang membuat pelangi terlihat cantik dan anggun? Kenapa kita tidak mengambil pelajaran darinya? Apa jadinya jika pelangi itu hanya satu warna, apakah akan tetap seanggun dan secantik ketika beraneka warna? Begitu pun dalam kehidupan Islam ini. Islam itu ibarat pelangi yang di dalamnya memang ada perbedaan-perbedaan warna. Islam itu menjadi cantik dan anggun jika warna-warna dalam Islam tidak saling memaksakan diri untuk mempengaruhi warna-warna yang lain. Apalagi jika kita ingat firman Allah SWT., yang artinya: “tidak ada paksaan dalam agama.”
Selain perbedaan warna, hal lain yang menjadikan pelangi itu cantik dan anggun adalah saling berdampingannya tiap-tiap warna yang berbeda itu. Coba saja kita bayangkan jika pelangi itu warnanya saling menjauh antara satu dengan lainnya. Meskipun tetap kelihatan cantik dan anggun, tapi setidaknya dibandingkan dengan warna yang saling berdampingan, tetaplah lebih cantik dan anggun pelangi yang warnanya saling berdampingan. Islam pun demikian, jika kita sudah menyadari bahwa dalam Islam itu terdapat bermacam warna di dalamnya, maka tugas kita adalah menjadikan warna-warna itu saling berdampingan secara harmonis, bukan saling menjauh. Jadi, ketika kita mampu menjadikan warna-warna dalam Islam itu berdampingan, maka kita akan melihat betapa CANTIK dan ANGGUN-nya Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Kesimpulannya adalah kita hendaknya belajar dari pelangi. Meskipun warnanya berbeda-beda, tapi tetap berdampingan. Ketika perbedaan itu berdampingan, bukan keburukan yang akan nampak, melainkan kecantikan dan keanggunan. Mari kita tunjukkan pada dunia betapa cantik dan anggunnya Islam dengan menjadikan perbedaan itu sebagai perekat, bukan pemisah. []
Share This :
Zacky Muzakkil

Pergi adalah keniscayaan, tapi "dilupakan" atau "melupakan" adalah pilihan. Dan menulis adalah cara terbaik untuk membuat diri kita tak terlupakan oleh waktu.