Banner

Keberagaman Agama (Part 2): Kristenisasi

   Pada tulisan sebelumnya, saya berhenti pada pengistilahan “sentimen keirian”. (Baca: Keberagaman Agama: Sebuah Refleksi) Dari segi terminology, kita bisa bicarakan panjang lebar tentang istilah tersebut, bahwa kata sentimen bisa kita pahami sebagai sikap yang didasarkan pada perasaan yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu. Sementara iri sendiri, pemahaman sederhananya ialah sikap tidak suka melihat kelebihan orang lain. Artinya, sentimen keirian bisa kita pahami sebagai sikap berlebih-lebihan terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain. Jadi, tidak hanya tidak suka, tapi sampai pada kemudian timbul upaya-upaya kurang terpuji untuk menjatuhkan orang lain yang memiliki kelebihan. Contoh pada kasus orang yang berupaya mengharamkan musik, karena pada dasarnya dia tidak memiliki potensi untuk bermusik.   
    Dalam hal beragama pun, nampaknya “sentimen keirian” ini juga ada, yakni perasaan yang amat berlebihan melihat pemeluk agama lain memiliki kelebihan dari kita. Kelebihan ini bisa berupa apa saja yang sekiranya memang memunculkan perasaan ketidaksukaan, bisa materi, bisa perbuatan baik atau bahkan keirian melihat kesuksesan dakwah agama lain. Untuk yang terakhir ini, “sentimen keirian”nya saya kira akan amat tinggi, apa pasal? Pasalnya, jika agama lain mengalami dakwah yang sukses, yakni mampu mengajak yang belum seagama agar mau memeluk agama yang sama, mengindikasikan bahwa akan akan ada agama lain yang kemudian “kecolongan” umat, di saat prosentase pemeluk agama lain meningkat, maka di sisi satunya aka nada penurunan, dan memang begitulah yang terjadi. Kita bisa buktikan melalui data-data yang ada, bahwa ada kecenderungan penurunan jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia yang sudah pasti diikuti dengan peningkatan jumlah pemeluk agama lain.

    Sebagian umat Islam memang tidak terlalu memperhatikan adanya tren yang menunjukkan penurunan jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia ini, apalagi di daerah yang memang secara mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Pun begitu, tetap ada dari sebagian yang lain, yang mulai menyadari ini. Sebagian yang mulai menyadari ini pun kemudian memiliki ekspresi kesadarannya secara berbeda, ada yang cenderung cuek saja, dan ada pula yang reaktif atau bahkan sangat reaktif. Sekali lagi, yang reaktif ini pun ada yang slow tapi juga ada yang memang sangat nampak sikap reaktifnya atau bahkan cenderung konfrontatif dan destruktif.
    Dalam tulisan selanjutnya, saya akan lebih tertarik membicarakan kelompok yang terakhir ini. Namun sebelum itu, saya ingin memberikan analogi terlebih dahulu untuk agama Islam (yang saya peluk dan saya yakini kebenarannya). Bahwa agama Islam adalah agama yang memiliki konsep dasar tentang tauhid, bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, kemudian Nabi Muhammad SAW. adalah nabi dan Rasul-Nya, dengan sumber ajaran Islam yang pokok adalah al-Qur’an dan Hadist, di mana dalam keduanya terkandung muatan-muatan sarat makna untuk dijadikan pedoman memperoleh sa’adatu al-daraini (kebahagiaan dunia-akhirat), yang akan selalu relefan di segala zaman. Keduanya memuat segala sesuatu yang dibutuhkan manusia, bicara ekonomi ,ada; hukum, ada; sosial, ada; pendidikan, ada; militer, ada; psikologi, ada; dan segalanya yang dibutuhkan manusia semua termuat dalam dua sumber pokok itu. Singkatnya, agama Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan ini kemudian saya ibaratkan seperti Warung Makan yang amat mewah dengan segala fasilitasnya yang sangat mewah, menu yang mewah, interior yang mewah, eksterior yang mewah dan segalanya yang serba mewah yang kemudian menjadikan kita enggan menolak jika diminta untuk mengatakan bahwa Warung Makan ini “sempurna”.
    Namun, kesempurnaan ini akan menjadi aneh jika kita menemukan adanya orang-orang yang awalnya sudah menjadi bagian dari Warung Makan Sempurna ini, tiba-tiba mau keluar dan justru lebih memilih Warung Makan lain yang dalam pandangan kita kurang baik. Akan ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul memang, jika kita temukan fakta ada orang Islam yang kemudian keluar Islam kemudian memeluk agama lain.
    Sebagian mengatakan bahwa berkurangnya jumlah pemeluk agama Islam adaah karena misi Kristenisasi makin gencar digalakkan dengan metode pemberian bantuan-bantuan kepada orang-orang miskin, yang kemudian diajak untuk meninggalkan agama Islam untuk diarahkan memeluk agama yang didakwahkan oleh pemberi bantuan ini. Pertenyaanya kemudian, apakah yang dua belak pihak ini salah? Apakah salah jika umat Kristen berdakwah menggunakan metode memberi? Ataukah salah jika kemudian yang diberi pun mau mengikuti ajakan yang memberi? Sebagian umat Islam akan mengatakan bahwa keduanya salah, terlebih umat Islam yang mau menukar keimanannya dengan perkara dunia. Bahkan tanpa ragu kemudian membacakan nash-nash agama sebagai legitimasi bahwa mereka menghukumi berdasarkan ketentuan dari otoritas tertinggi dalam Islam. Sementara, bagi pihak pemberi lantas dibenci-benci dan disudutkan, bahkan tidak jarang kemudian mereka diperlakukan sekehendak hati dengan alasan membahayakan umat Islam.
    Beberapa kali saya diajak untuk aksi menolak Kristenisasi di suatu daerah, tapi saya memang enggan ikut. Keengganan ini tentu bukan tanpa alasan. Lantas apa alasannya? Sebelum menjawab itu, saya ingin bertanya kepada yang mengajak saya atau mungkin dalam kesempatan ini saya juga ingin bertanya kepada para pembaca, andaikan pengusiran itu dilakukan, lalu apakah ada jaminan bahwa umat Islam yang miskin yang kemudian dibantu oleh non-Islam itu akan ditanggung kebutuhannya oleh umat Islam lainnya? Ataukah kita merasa hanya cukup mengusir saja, setelah terusir, yang miskin tadi diapakan? Apakah kita akan mengatakan dengan sombong “Yang penting kita sudah selamatkan akidah mereka.” (Baca: Kenapa Harus Mencaci?)
    Memang, terkait isu satu ini, yakni Kristenisasi, saya tidak terlalu setuju jika kemudian respon kita sebagai umat Islam adalah menghardik, memojokkan atau bahkan sampai melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji terhadap kelompok lain yang notabene nya sedang menjalankan perintah agamanya. Lalu, kalau demikian tidak boleh, apakah kita lantas diam saja melihat pemeluk agama Islam semakin hari semakin berkurang? Jawabannya tentu tidak. Tapi ketidakmauan ini bukan berarti bisa dijadikan alasan untuk kita boleh menyakiti yang lain.
    Kenapa kita harus mencari “kambing hitam”? kenapa tak coba kita cari apa yang sebenarnya salah dalam diri kita. Sebagai pengelola Warung Makan Spesial, sudah seharusnya disibukkan dengan mencari jawaban dari rasa penasaran d kenapa pelanggannya pada lebih memilih keluar dari Warung Makan yang Spesial ini? Bukan melulu mencari kesalahan-keselahan pihak lain, tidak lantas mengatakan “ah, warung itu memakai jimat; warung itu menggunakan guna-guna atau apalah itu yang sekiranya kita bisa mengatakan bahwa itu salah mereka. Atau jangan-jangan sikap mencari-cari kesalahan ini adalah salah satu ciri munculnya “sentimen keirian” yang tanpa sadar mulai merasuki diri kita sebagai umat Islam? Jika iya, bukankah tanpa sadar kita telah menerima bahwa mereka lebih baik dari kita? Kog bisa? bagaimana tidak bisa, bukankah iri adalah sikap tidak suka melihat pihak lain memiliki kelebihan? Artinya, tanpa sadar kita sedang mengakui kelebihan pihak yang padanya kita iri.
Bersambung...
Kartasura, 14/03/2018, 23:17

Subscribe to receive free email updates: