Banner

Cinta Segitiga dan Ekspresi Cinta



Pernahkah anda mengalami – apa yang sering disebut dengan – cinta segitiga? Ya, kisah cinta yang melibatkan tiga pihak, anda mencintai dia, tapi dia ternyata mencintai orang lain, itu pemaknaan yang paling sederhana. Cinta jenis ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Bisa jadi kisah cinta segitiga si A berbeda dengan kisah cinta segitiga si B, dan seterusnya. Jika anda penggemar drama korea dan sudah menonton drama berjudul “Angel Eye”, maka di situlah nampak adanya kisah cinta segitiga. Cinta segitiga antara Park Dong Jo, Yoon Soo Wan dan Kang Ji Woon. Awalnya Park Dong Jo adalah kekasih Yoon Soo Wan, keduanya merupakan cinta pertama satu sama lain, saat keduanya menjalin cinta, Yoon Soo Wan tidak dapat melihat (buta), ia mencintai Park Dong Joo karena kenyamanan yang ia dapat saat bersama Park Dong Joo. Namun singkat cerita keduanya terpisah selama 12 tahun dengan tanpa ada kabar satu sama lain, begitu pun dengan kisah cinta mereka tak jelas. Parahnya, perpisahan itu di saat Yoon Soo Wan menjalani operasi mata yang dari operasi itu akhirnya Yoon Soo Wan bisa melihat kembali. Dalam 12 tahun itu, Yoon Soo Wan bertemu dengan Kang Ji Woon. Dan keduanya menjalin hubungan hingga pada tahap pertunangan. Akan tetapi, dalam hati Yoon Soo Wan, dia belum bisa melupakan Park Dong Joo, meskipun ia belum pernah melihat Park Dong Jo.
Di saat Kang Ji Won dan Yoon Soo Wan menjalin hubungan itu, tiba-tiba Park Dong Joo hadir di antara mereka. Singkat cerita, Yoon Soo Wan akhirnya menyadari bahwa lelaki yang menjadi cinta pertamanya telah kembali. Kemudian apa yang terjadi dengan hubungan Kang Ji Won dan Yoon So Wan? Sudah dipastikan Yoon Soo Wan meminta pertunangannya dengan Kang Ji Won dibatalkan, karena bagaimana pun juga hati Yoon Soo Wan tak pernah sekali pun terbuka untuk lelaki lain. Inilah cinta segitiga, ada tiga pihak yang terlibat.
Kemudian, ada pula kisah segitiga yang seakan-akan ada pihak ketiga yang menghancurkan sebuah hubungan. Katakanalah A berpacaran dengan B, kemudian entah karena A mulai bosan dengan B, atau B yang mulai membosankan, A bertemu dengan C yang menurutnya lebih baik dan lebih bisa memahami dirinya dibanding B. Hingaga pada akhirnya A memutuskan untuk memilih C dan meninggalkan B, sedangkan dari pihak B tetap bersikukuh akan mencintai A meskipun A teloah memutuskan B. Inilah cinta segitiga.
Memang, berbicara tentang cinta dari hari ke hari nampaknya tak akan pernah selesai. Entah karena dunia ini dipenuhi cinta atau karena memang cinta adalah jiwa yang bersemayam dalam setiap manusia, sehingga ia akan tetap selalu menarik untuk dibicarakan.
Banyak orang yang mengaku bahwa dia sangat mencintai seseorang, namun ekspresi cinta yang ditunjukkan terkadang malah bukan membahagiakan pihak yang dicintai, melainkan membawa luka. Untuk menyebut satu contoh, seorang suami yang begitu mencintai istrinya, melarang si istri untuk beraktifitas di luar dengan alasan ia tidak mau istrinya kenapa-kenapa. Memang benar, maksud suami baik dan itu merupakan ekspresi cintanya kepada sang istri. Akan tetapi, dari pihak istri merasa larangan itu tidak adil, karena bagaimana pun juga ia adalah manusia merdeka yang mempunyai hak untuk bersosialisasi di luar. Maka, cinta yang diwujudkan sang suami ini adalah cinta yang egois, cinta dengan komunikasi sepihak.
Cinta itu sebenarnya tak pernah menyakiti, tak akan bertindak tidak adil dan pasti selalu mendatangkan kebahagiaan. Meskipun ada yang mengatakan bahwa cinta itu juga mengandung kesedihan, itu menurut penulis bukanlah wujud dari cinta itu, ia hanya bayangan dari cinta, karena ia merupakan bayangan, maka tidak selayaknya ia dimasukkan sebagai bagian inti dari cinta. Atau jika ada cinta yang menyakitkan, itu bukan cintanya yang menyakitkan, namun orang yang memiliki cinta salah mengekspresikannya kepada yang dicintai. Maka dari itu, cinta yang diterima oleh yang dicintai terasa menyakitkan.
Pada dasarnya, mengekspresikan cinta itu tidak sulit. Cukup perlakukan orang yang kita cintai sebagaimana kita memperlakukan diri kita. Jangan pernah memaksakan kehendak kepada orang yang kita cintai jika kita pun enggan dipaksa. Jangan pernah mengatur tentang bagaimana seharusnya dia bahagia, jika diri kita sendiri juga tak mau ada yang banyak mengintervensi bagaimana seharusnya kita bahagia.jangan pernah melarang orang yang kita cintai melakukan sesuatu jika kita sendiri justru rutin melakukannya.
Cinta bukan menyuruh tapi mendengar, cinta bukan menghakimi tapi memahami. Maka jangan salahkan dia jika ternyata dia lebih memilih meninggalkan kita dan memilih orang lain, jika sikap kita arogan, egois dan otoriter. Jika kita tak pernah mendengarnya, maka dia akan mencari seseorang yang bisa menjadi pendengar yang baik. Jika kita selalu egois, dengan memaksakan apa yang kita anggap baik untuknya tanpa ada kesempatan untuknya menentukan mana yang baik untuk dirinya sendiri, maka jangan salahkan jika dia akan lebih nyaman jauh darimu, dan pada akhirnya ia akan berpaling kepada orang lain yang bisa lebih mengerti dan memahami keinginanya.[]

Subscribe to receive free email updates: