Banner

Berawal Dari Youtube: Antara Hj. Irena (mantan Biarawati) dan Gus Dur


Hanya ingin sekedar curhat.
Beberapa hari yang lalu, dengan tanpa sengaja, saya membuka youtube dari telfon genggam. Saya masih ingat malam itu mendekati tanggal 14 Februari yang oleh kebanyakan orang, utamanya para muda-mudi mengenalnya sebagai hari kasih sayang. Dari beberapa video yang ditampilkan, ada video tausiah Hj. Irena Handono, mantan biarawati yang menjadi muallaf. Akan tetapi bukan tentang valentine yang saya lihat, melainkan cerita beliau tentang upaya Kristenisasi. Bermodalkan kuota internet gratisan, saya pun memilih video tersebut. Menit-menit pertama saya dibuat kagum akan penuturan-penuturan beliau. Terlebih awal mula bisa berkenalan dengan Islam.
Akan tetapi, lama kelamaan saya merasa ada sesuatu yang agak mengganjal di hati saya. Entah ini hanya perasaan saya saja atau memang ada yang – dalam bahasa saya – kurang tepat dari ekspresi serta luapan emosi mantan biarawati tersebut. Terlebih saat menceritakan tentang taktik Kristenisasi yang begitu canggih. Mulai dari misi “menyelamatkan domba tersesat”, yaitu istilah bagi siapa saja yang belum masuk ke dalam agama Kristen, kemudian tentang Natal yang diubah penyebutannya menjadi “milad nabi Isa”, hingga menyinggung masalah krusial terkait dengan isu pluralisme agama. 
Melalui tulisan ini, saya bukan bermaksud mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh beliau, Hj. Irena Handono ini salah, melainkan ada yang kurang pas dalam pemilihan kata serta luapan emosi yang – sekali lagi – menurut saya rentan menimbulkan kebencian dalam komunitas Islam terhadap agama Kristen, terlebih bagi muslim awam. Dan dari video inilah saya mulai menemukan jawaban atas pertanyaan kenapa ada seorang pendakwah yang begitu menggebu-gebu menjelek-jelekkan agama Kristen, terlebih dalam upaya Kristenisasi, dan bagaimana bisa seorang yang digadang-gadang sebagai pewaris Nabi saw. Justru menyebarkan kebencian di atas mimbar yang mulia. Saya hanya menduga, bisa jadi – sekali lagi – bisa jadi da’i tersebut sudah menonton video yang bisa diakses dengan mudah di dunia maya ini, kemudian merasa punya kewajiban untuk memberitahukan pada umat Islam, bahwasanya “ini lho orang Kristen berusaha memurtadkan orang-orang islam”. Apakah hal itu salah? Tergantung! Dari mana kita mencoba menjawab pertanyaan itu. Memberitahukan tentang kebenaran itu sudah jelas sangatlah benar, tapi jika pemberitahuan itu berujung pada kebencian, mana mungkin kita akan mengatakan itu benar. Bagaimana bisa kita membenci orang yang memusuhi kita dengan cara yang sama, yaitu dengan memusuhi mereka? Ah, yang benar saja, kita mengharamkan minuman keras bagi orang lain, tapi kita dengan sengaja meminumnya?
Selang beberapa hari kemudian, saya kembali memutar video Gus Dur dalam acara Kick Andi. Meskipun tidak sepenuhnya membahas tentang agama Kristen, dalam acara tersebut Gus Dur secara tersirat mencontohkan, meneladankan serta mengajak para penonton untuk tidak membenci terhadap siapapun. Dalam menilai sosok almarhum Gus Dur ini, saya sempat dikatakan tidak obyektif, dikarenakan saya sudah terlalu mengidolakan sosok yang terkenal kontroversi ini, sehingga semua penilaian akan terasa sangat subyektik karena dari awal saya memang mengidolakan sosok yang satu ini. Tapi terlepas dari itu, apakah penilaian saya ini subyektif atau obyektif. Gus Dur tetaplah sosok yang sangatlah wajar dan sangat patut untuk dikagumi.
Masih dalam petualangan saya di Youtube, saya kemudian memasukkan keyword “Gus Dur pada kolom search. Kemudian muncullah itu beberapa video terkait Gus Dur. Dari sekian banyak video, saya tertarik dengan ceramah dua tokoh intelektual yang sangat terkenal dalam acara peringatan 1000 hari wafatnya Gus Dur, yaitu Prof. Dr. H. Quraish Shihab dan Gus Mus (KH. Mustofa Bisri).  Kesimpulan yang saya dapat? Saya bangga menjadi pengagum Gus Dur, bukan karena saya dari kalangan Nahdliyin, melainkan karena proses panjang untuk mengenal beliau melalui tulisan-tulisannya.
Lantas apa yang dapat saya simpulkan dari proses menonton video di Youtube kali ini? Saya –  dan bagi anda yang pernah menonton –  cukup tahu saja dengan apa yang dikemukakan oleh beliau Hj. Irena tentang upaya Kristenisasi, karena bagaimana pun beliau memang mantan orang dalam yang begitu tahu apa saja yang dilakukan dalam – yang saya sebut sebagai – organisasi keagamaan. Dengan tahu labih awal, kita bisa mengantisipasinya sejak dini. Tapi,  apakah langkah antisipasinya dengan cara mengobarkan kebencian? Saya kira tidak begitu. Jika kita membaca siroh nabawiyyah, apakah nabi Muhammad saw. tidak tahu  akan keberadaan orang munafiq – yang menjadi musuh dalam selimut – di sekitar beliau? Tentulah Nabi tahu. Tapi apakah kemudian Nabi memerintahkan untuk menumpas mereka?
Dalam tulisan saya sebelumnya, saya membahas tentang egoisme manusia yang suka mencari-cari kesalahan pihak lain. Dalam hal ini pun bisa jadi demikian. Karena faktanya, seperti yang diungkapkan Hj. Irena handono, bahwa jumlah pemeluk agama Islam mulai menurun. Melihat fenomena ini, lantas oleh sebagian kalangan muslim mencari-cari apa yang salah dengan orang Islam saat ini, apa yang menjadikan pemeluk Islam - khususnya di Indonesia - menurun? Ketika isu Kristenisasi mencuat, kita seakan-akan mendapat jawaban “oh, ini dia yang menyebabkan pemeluk agama Islam menurun”. Maka ramailah itu aksi-aksi anti Kristen dan sebagainya. Sebagian Muslim merasa tidak suka ketika ada orang non-Islam memberi sumbangan sembako di daerah pinggiran yang mayoritas penduduknya Islam, lantas sebagian Muslim yang kebetulan berkecukupan secara ekonomi yang di dalam hatinya sudah tumbuh benih kebencian terhadap orang non-Islam, ditambah lagi dengan merasa dirinya paling benar dan parahnya lagi berdalih atas nama agama, atas kehendak Tuhan menuduhnya sebagai aksi Kristenisasi. Ada pengobatan gratis yang diselenggarakan gereja, kita lantas memblokade jalan agar tidak ada yang datang ke pengobatan gratis. Saya sadari bahwa saya pribadi dan beberapa dari kita, umat Islam, seakan menutup mata, seakan tak lagi mau bersimpati apalagi empati terhadap orang kecil. Bukan karena kita diberi rizki yang cukup dari Tuhan, lantas kita dengan brutal menghalang-halangi rizki orang lain yang kebetulan Tuhan berikan melalui perantara orang yang tak seiman dengan kita. Bukankah kita seharusnya tidak lagi mencari kesalahan-kesalahan orang lain? Alangkah baiknya jika kita menengok ke dalam sebelum mencampuri urusan orang lain.
Dulu, awal-awal penyebaran Islam di Makkah dan Islam di Jawa, orang-orang kecil menjadi sasaran pertama yang di ajak memeluk Islam. Ya, mungkin karena memang orang-orang kecil ini mudah untuk di ajak berpindah ideologinya, ditambah lagi kebanyakan mereka tak punya pilihan untuk memilih yang terbaik diantara beberapa yang baik. Kita tengok pada masa Jahiliyah di Jazirah Arab yang sangat tidak menghargai rakyat kecil. Kemudian datanglah Islam dengan misi kemanusiaan yang menganggap semua manusia mempunyai derajat sama. Apa yang terjadi kemudian? Bukankah para pemberontak ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ini adalah kalangan elit? Apakah ada literatur yang menyebutkan bahwa pimpinan-pimpinan pemberontak Islam adalah rakyat kecil? Meskipun ada, sudah barang tentu ada imbalan yang begitu menggiurkan sehingga orang kecil ini memusuhi Islam.
Nah, sekarang nampaknya hal tersebut terulang kembali, setidaknya di Indonesia. Hanya saja, bukan orang Islam yang mendekati para rakyat kecil, melainkan para non-Islam yang dalam ajaran mereka pun ada perintah dakwah mulai mendekati rakyat kecil ini dengan memberikan kepada mereka bantuan-bantuan materi yang sangat dibutuhk. Memang, mungkin saat ini kita diberi rizki yang cukup oleh Allah swt., tapi cobalah kita posisikan diri kita menjadi orang yang kurang berpunya, kita menyaksikan di media-media para koruptor adalah seorang muslim, bahkan ada yang sudah bergelar haji. Kemudian datanglah seseorang yang tidak seiman dengan kita datang dengan membawa sembako, memberikan uang dan kebutuhan lainnya. Apakah salah jika kita yang miskin, di tambah dengan pemahaman agama yang dangkal dengan diperparah dengan sajian media massa yang tak pernah berhenti menayangkan para perampok uang rakyat yang kebanyakan orang Islam yang pada akhirnya membuat kita kecewa, dan lebih memilih memilih untuk menerima bantuan dari orang yang tak seiman dan berada dipihaknya?
Kalau rumah kita kemalingan, apakah kita lantas menyalahkan maling tersebut? Upz, nanti dulu! Bukankah lebih baik kita lihat kembali keadaan rumah kita saat kita tinggalkan, apakah sudah kita kunci atau jangan-jangan kita biarkan terbuka sehingga siapa saja bisa masuk dan mengambil barang-barang berharga yang kita miliki? Sama halnya – seperti pada tulisan saya sebelumnya (Semut, Kucing dan Lalat), ketika ada kucing yang mencuri ikan di atas meja, apakah lantas kita menyalahkan kucingnya? Nanti dulu! Kalau rumah kita tak terkunci, kemudian di satroni maling, bagaimana kita melimpahkan kesalahan pada si maling? Kalau kita biarkan ikan kita di atas meja diambil kucing, bagaimana kita lantas mengumpat si kucing? Bukankah kita juga salah? Membiarkan rumah tak terkunci. Bukankah kita juga salah membiarkan ikan tersaji di atas meja tanpa penutup atau sejenisnya? Kurang lebihnya seperti itulah, bisa jadi umat Islam saat ini kecolongan. Tapi bukankah kurang bijak jika kita mencari-cari kesalahan orang lain tanpa melihat ke dalam diri kita terlebih dahulu?
Jika mereka rela mengorbankan harta benda demi dakwah, kenapa kita tidak? Jika mereka begitu gigihnya melakukan pemurtadan, kenapa kita hanya bisa mencari-cari kesalahan orang lain? Bukankah ada baiknya jika mulai kembali memagari agama ini dengan pagar yang indah? Kenapa harus memakai pagar dengan kawat berduri jika kita bisa memagari pagar rumah kita dengan pagar yang anggun, yang berkilau dan enak dipandang?
Wallahu A’lam....^_^

Subscribe to receive free email updates: