Banner

Edisi Ramadlan: Terserah Anda Sedekah Untuk Siapa?


Kalau kita sama-sama bersedekah, katakanlah seribu rupiah. Sedekah kita itu tadi di satu kesempatan mendatangkan pahala untuk kita sendiri, dan di lain kesempatan – sedekah seribu tadi – memdatangkan pahala tidak hanya untuk kita, tapi juga orang tua kita. Manakah yang akan kita pilih? Yang pertama atau yang kedua? Yang pahalanya untuk kita saja, atau untuk orang tua kita juga?
Terkait dengan sedekah ini, bukankah Allah swt telah menjanjikan akan melipatgandakan pahala orang yang bersedekah berkali-kali lipat dalam firman-Nya, yang artinya:  “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Nah, jika sedekah itu bisa memberikan pahala tidak hanya bagi diri orang bersedekah, tapi juga orangtuanya, berarti pelipatgandaan pahala itu akan berlipat dua kali lagi. Pertanyaannya, apakah bisa dalam sekali sedekah bisa mendatangkan pahala bagi diri pesedekah dan orangtuanya? Mari kita bersama-sama merenungkan hadist Nabi saw di bawah ini.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِذَا تَصَدَّقَ أَحَدُكُمْ بِصَدَقَةٍ تَطَوًّعًا فَالْيَجْعَلْهَا عَنْ أَبَوَيْهِ , فَيَكُوْنُ لَهُمَا أَجْرُهَا وَلَا يَنْتَقِصُ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا . (رواه الطبراني والديلامي)
“Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Jika seseorang bersedekah dengan shodaqoh sunnah, maka jadikanlah sedekah sunnah itu untuk kedua orangtuamu. Maka pahala sedekah sunnah itu akan diberikan pula kepada kedua orangtuamu, dan tidak menjadikan pahala orang yang bersedekah itu berkurang.’ (HR. Al-Thabrani dan Al-Dailami).
Sabda Nabi saw di atas nampaknya sudah bisa menjawab pertanyaan di atas, yakni apakah bisa sedekah mendatangkan dua pahala sekaligus untuk pribadi yang bersedekah dan orangtuanya. Maka, berlakulah apa yang menjadi judul dari tulisan ini “terserah anda”. Terserah apakah anda memilih sedekah yang hanya untuk diri anda, atau juga untuk orangtua anda? Yang tidak kalah penting adalah pada akhir hadist itu diakhiri dengan penegasan bahwa ketika sedekah itu diatasnamakan orangtua pesedekah, bukan berarti pahala yang bersedekah itu berkurang. Karena memang ada yang beranggapan bahwa ketika bersedekah yang demikian, meskipun terkesan agak menampilkan kecenderungan sedekahnya hanya karena imbalan. Tapi tidak perlu khawatir, bukankah saat ini kita tidak asing dengan dunia per-bluetooth-an yang ketika berbagi gambar atau musik kepada orang lain, yang membagi gambar tetap mempunyai file itu. Kalau manusia saja bisa melakukan hal seperti itu, yaitu berbagi tanpa harus kehilangan, maka Tuhan pun bisa melakukan lebih dari itu. Karena Tuhan kan Maha Kuasa. Dengan demikian, bukankah ini cukup dijadikan alasan kuat untuk lebih memilih bersedekah yang tidak hanya diri sendiri tapi juga orangtua kita?
Pertanyaan selanjutnya, apakah orangtua yang dimaksud di atas adalah orangtua yang masih hidup, yang sudah wafat, atau berlaku secara umum baik yang masih hidup atau yang sudah wafat? Kalau kita perhatikan sekali lagi hadist di atas, tidak kita temua penjelasan akan maksud orangtua itu adalah yang masih hidup atau yang sudah wafat. Jadi, bisa dikatakan bahwa orangtua di atas berlaku secara umum, baik yang masih hidup atau sudah meninggal. Karena jika itu berlaku hanya bagi orangtua masih hidup, maka bagi yang orangtuanya sudah wafat akan kehilangan kesempatan yang sangat bergharga ini.
Tapi, pertanyaan selanjutnya, apakah pahala sedekah itu akan sampai pada seseorang yang telah meninggal? Pertanyan ini sebenarnya terus menjadi perdebatan yang abadi. Kenapa penulis katakan demikian? Karena memang penulis sendiri masih menemukan – sampai saat tulisn ini dibuat – pihak-pihak yang masih mempertanyakan perihal sampai tidaknya pahala yang dikirimkan orang yang masih hidup pada yang telah wafat. Bahkan tidak hanya mempertanyakan, tapi ada juga yang sampai menganggapnya sebagai perbuatan yang sia-sia. Sebagian yang menganggap sia-sia beralasan karena itu tidak ada tuntunannya, dan berbagai alasan lainnya. Di sini penulis tidak ingin menambah daftar tulisan yang memperdebatkan hal ini. Tapi, penulis merasa perlu menampilkan hadist Nabi saw ini untuk kita renungkan bersama-sama.
Dari Aisyah r.a., bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada nabi Muhammad saw.
إِنّ أُمِّيْ أفتُلِتَتْ نَفْسهَا وَلَمْ تُوْصِ , وَأَظَنًّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ , أَفَلَهَا أَجْرٌ إنْ تَصَدَّقت عَنْهَا ؟ قَال : نَعَمْ , تَصَدَّقَ عَنْهَا .
“Sesungguhnya ibuku wafat mendadak, sementara beliau belum berwasiat. Dan saya menyangka andaikan beliau sempat berbicara, beliau akan bersedekah. Apakah beliau akan mendapat aliran pahala, jika saya bersedekah atas nama beliau? Nabi saw menjawab: ya, bersedekahlah atas nama ibumu”. (HR. Bukhori, 1388 dan Muslim 1004).
Lantas, apakah hadist ini menggambarkan bahwa sedekah untuk orang mati adalah perbuatan yang sia-sia? Ada sebagian orang yang biasanya sudah terlanjur fanatik menganggap sedekah kepada orang yang sudah yang meninggal itu sia-sia. Maka, ketika orang seperti itu disuguhi hadist di atas, pasti pertanyaan selanjutnya – dari dulu sampai sekarang bahkan sampai besuk pun – tetap sama, yaitu berkisar pada itu hadist rowinya siapa? tingkatannya apa? Shohih, apa dloif? Dan sebagainya yang – kalau menurut penulis – tekesan tidak mau “menerima kenyataan”.
Jika hadist di atas kurang meyakinkan, penulis tambahkan satu lagi hadist Nabi saw.  Dari Ibnu Abbas r.a., bahwa ibunda Sa’d bin Ubadah meninggal dunia ketika Sa’d tidak ada di rumah. Sa’d bertanya pada nabi Muhammad saw.
يا رسول الله , إِنَّ أُمِّيْ تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا , أَيَنْفَعُهَا شَيْئٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا ؟ قَال : نَعَمْ .
“Ya Rasulallah, sesungguhnya ibuku telah wafat dan saya tidak ada bersamanya. Apakah dia mendapat pahala jika aku bersedekah atas nama beliau? Nabi saw menjawab: Ya. (HR. Bukhori 2756).”
Jika hadist kedua ini masih belum bisa meruntuhkan anggapan “sia-sia” bersedekah atas nama orang yang meninggal, maka kembali lagi pada judul tulisan ini, yaitu “terserah anda”. Menganggap pahala itu sampai pada si mayit, atau menganggapnya sebagai sesuatu yang sia-sia itu hak anda. Kedua-duanya sama-sama mempunyai kemungkinan benar, juga mungkin salah. Karena apa? Karena kita sama-sama belum meninggal dunia, sedangkan yang sudah meninggal dunia pun tidak bisa bercerita kepada kita perihal sampai atau tidaknya sedekah itu tadi.
Semuanya “terserah anda”, termasuk yang di awal tadi. Memilih sedekah yang mendatangkan pahala bagi diri kita sendiri, atau yang mendatangkan pahala bagi kita dan orangtua kita. []

Subscribe to receive free email updates: