Banner

Pengajaran Sejarah

“Sejarah sama sekali bukan bidang studi, melainkan sebuah rumah yang didiami oleh semua bidang studi.”
            Penggalan kalimat yang cukup menggelikan di atas diutarakan oleh Trevelyan. Secara sederhana, kalimat yang diutarakan oleh Travelen ini bisa bermakna bahwa sejarah adalah rumah bagi segala bidang studi, karena memang sejarah adalah penghubung antara ilmu sosial dan ilmu alam. Cukup menggelikan dikarenakan jika melihat realita saat ini, ungkapan di atas sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di lapangan. Sejarah yang seharusnya menjadi rumah bagi segala bidang studi ini justru kurang diminati oleh para peserta didik. Karena tidak dapat dipungkiri, di sekolah-sekolah umum atau swasta dan disegala jenjang pendidikan, sejarah seakan-akan menjadi mata pelajaran yang dianak-tirikan dan membosankan.
            Entah siapa yang perlu disalahkan, guru atau peserta didik yang bisa dibilang sangat acuh terhadap mata pelajaran sejarah. Mungkin, secara kasat mata peserta didiklah yang memang salah karena mereka setiap kali diajar sejarah selalu mencari kesibukan sendiri, mereka mengacuhkan guru sejarah yang sedang mengajar. Akan tetapi, pengambilan kesimpulan yang seperti itu sangatlah terlalu dini. Seharusnya guru yang memang mempunyai dedikasi tinggi mampu memecahkan masalah ini dengan tidak menyalahkan si anak. Bisa saja metode yang dipakai guru tersebut tidak tepat diterapkan untuk anak didiknya.
            Mengajarkan sejarah bukanlah hal yang mudah, karena memang objek yang dikaji dalam sejarah sangatlah abstrak, yakni mencakup kejadian-kejadian masa lampau. Terdapat beberapa kemungkinan yang menjadikan mata pelajaran sejaran kurang diminati peserta didik:
1)      Cakupan sejarah yang diajarkan selalu sama dari setiap jenjang yang berbeda.
2)      Terkadang, materi sejarah yang diajarkan tidak sesuai dengan kemampuan peserta didik dalam menerima materi ajar.
3)      Kurangnya kreatifitas guru dalam mengintegrasikan bidang studi sejarah dengan bidang studi lainnya. Sehingga materi sejarah terasa membosankan, karena sejarah hanya berputar-putar pada masa lalu saja.
4)      Tidak digunakannya alat bantu pembelajaran, seperti peralatan audio, visual, audio-visual, grafik, peta, album dan alat-alat pendukung lainnya. Sehingga, suasana pembelajaran sejarah terasa statis.
5)      Lemahnya kemampuan guru mensinkronkan isu-isu kontemporer dengan sejarah. Karena yang sering terjadi,  guru mengajarkan materi yang sama dari tahun ke tahun, meskipun yang diajar tidak sama dari tahun ke tahun. Akan tetapi, hal seperti ini sangatlah perlu dihindari. Hendaknya guru mampu mengangkat isu-isu kontemporer yang kemudian disinkronkan dengan sejarah. Hal ini dimaksudkan untuk menarik minat peserta didik untuk mempelajari sejarah. Selain itu, pengankatan isu-isu kontemporer ini bertujuan untuk membangun citra yang positif terhadap sejarah. Yang dimaksud citra positif disini adalah menimbulkan kesadaran yang penuh bagi peserta didik bahwasanya sejarah adalah bukan semata-mata ilmu yang mempelajari kejadian-kejadian masa lalu dan tidak mempunyai andil dalam permasalahan masa kini. Akan tetapi sejarah juga punya andil besar dalam memnghadapi isu-isu kontemporer.
6)      Dan masih banyak lagi sebab-sebab lainnya.
Pembelajaran sejarah dewasa ini memang sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak? Kedudukan mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah antara ada dan tiada. Ada karena memang mata pelajaran ini terjadwal, terdapat pula silabinya, dan diajarkan dalam kelas. Tidak ada karena ketika peserta didik ditanya tentang sejarah-sejarah yang sudah diajarkan, mereka seakan-akan tak pernah mendapatkan pengetahuan tentang sejarah itu.
Disamping sebab-sebab yang telah disebutkan di atas, penggunaan metode yang kurang tepat ditambah lagi guru kurang menguasai materi yang diajarkan disinyalir sebagai penyebab utama kurangnya minat belajar anak pada sejarah. Secara sederhana, metode adalah sebuah cara atau alat untuk mencapai tujuan. Sedangkan menurut S.K. Kochhar, metode ialah mata rantai tengah yang menghubungkan tujuan dengan hasil atau nilai metode tersebut.
Penggunaan metode yang tepat dalam pembelajaran adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Ilmu dapat berkembang jika dikembangkan dengan metode yang tepat. Abuddin nata menjelaskan dalam bukunya Metodologi Studi Islam, seorang yang sangat cerdas dan genius akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan kecerdasannya itu jika orang tersebut belum menemukan metode yang tepat. Sedangkan orang yang tidak begitu cerdas, namun telah menemukan metode yang tepat, dapat dengan mudah mengembangkan pengetahuannya, dan tidak menutup kemungkinan orang ini dikemudian hari akan menjadi orang yang lebih sukses dibandingkan orang yang sangat cerdas tadi. Kami mencoba memberikan analogi sederhana dari pernyataan Abuddin Nata tersebut. Orang yang cerdas dan genius diibaratkan seorang pembalap yang mengendarai mobil balap dengan kekuatan seribu kali tenaga kuda, sedangkan orang yang tidak terlalu pintar tadi adalah pembalap yang mengendarai mobil sederhana. Kemudian keduanya bertanding untuk sampai pada garis finish lebih dulu. Jarak yang ditempuh keduanya sama. Secara logika, pembalap dngan mobil sederhananya tidak akan mampu mencapai garis finish lebih dulu. Namun, pada kenyataannya pembalap dengan mobil sederhananya itu lah yang mencapai garis finish lebih dulu. Ada apa dengan pembalap dengan mobil berkekuatan seribu kali tenaga kuda?, dan mengapa justru pembalap yang memakai mobil sederhana keluar sebagai pemenang? Jawabannya ada pada metode yang digunakan keduanya. Memang benar mobil balap dengan kekuatan seribu kali tenaga kuda sangat berpotensi untuk menjadi pemenang, tapi apa daya jika potensi ini tidak didukung dengan metode balap yang tepat. Sebaliknya, mobil yang tidak berpotensi menang justru keluar sebagai pemenang, ini dikarenakan pembalap dengan mobil yang sederhana itu dikolaborasikan dengan metode yang tepat ketika betanding.
Bisa jadi analogi di atas kurang masuk akal dan bahkan tidak nyampung dengan pembelajaran sejarah. Namun disini kami tidak ingin membahas tentang nyambung atau tidaknya analogi di atas dengan pembelajaran sejarah. Yang terpenting dan perlu digaris bawahi di sini adalah metode yang tepat akan menghasilkan hasil yang memuaskan. Seperti penyataan S.K. Kochhar, “Metode adalah penentu kualitas sebuah hasil.” Dan yang perlu diingat, metode adalah sebuah jalan, jalan menuju pembelajaran yang sukses tidak hanya satu.
Lantas bagaimana dengan metode pengajaran sejarah yang dipakai guru-guru sejarah saat ini dalam menyampaikan materi sejarah? sudah tepatkah metode yang dipakai atau masih jauh dari tepat? Nampaknya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa metode yang digunakan para guru sejarah sudah tepat, mengingat realita yang terjadi, yakni sikap apatis peserta didik dalam mata pelajaran sejarah. Karena metode yang tepat itu ialah metode yang mempunyai konsekwensi membangkitkan kebutuhan untuk belajar. Selain itu, metode yang baik juga dapat membangkitkan berbagai macam minat dalam diri siswa dan menanamkan nilai serta perilaku pada siswa.
Terdapat sejumlah metode pembelajaran sejarah yang dapat digunakan, misalnya buku cetak, bercerita, biografi, ceramah, mendiktekan catatan, metode percakapan atau tanya-jawab, unit diskusi, tugas, proyek, penghafalan yang disosialisasikan, belajar dengan diawasi, metode sumber, dan lain-lain. Tidak ada satu metode yang dapat direkomendasikan untuk semua topik dan situasi.

Pembelajaran sejarah
            Pembelajaran kronologi adalah kunci pokok dalam memahami masa lampau dan masa sekarang. Kronologi bukanlah sejarah, karena kronologi adalah tempat sejarah tergantung. Adapun dalam kelompok sekuen bahan ajar, kronologi mempunyai pengertian susunan materi yang mengandung urutan waktu.
            Sekurang-kurangnya terdapat tujuh sekuen bahan ajar yang ada pada saat ini, salah satunya seperti yang telah disebutkan di atas tadi, yaitu sekuen kronologi. Selain kronologi, juga ada sekuen kausal, struktural, logis dan psikologis (deduktif-induktif), spiral, rangkaian ke belakang, dan hirarki belajar.
            Selama ini sekuen yang dipakai dalam pembelajaran sejarah adalah sekuen kronologi, karena memang kronologi adalah tempat sejarah tergantung. Tapi apa ini efektif diterapkan bagi peserta didik dari jenjang sekolah dasar sampai menengah atas. Kenyataannya, pemakaian sekuen ini tidak mampu menghidupkan sejarah dalam kelas sejarah.
            Seperti yang telah diketahui, perkembangan intelektual anak berbeda dari tiap jenjang pendidikannya. Maka terlalu sulit memahamkan anak pada sekolah dasar jika sekuen yang dipakai adalah kronologi. Menjejalkan fakta-fakta sejarah tidak akan membantu dalam penguasaan pengetahuan sejarah.
Menengok kembali pada teori belajar Imam al-Ghazali yang menyatakan bahwa penyampaian materi pelajaran harus disesuaiakan dengan kemampuan anak, dan mngajarkan materi dari yang umum ke yang khusus, dari yang sederhana ke yang komplek.  Lantas, mengapa guru sejarah tidak mencoba menerapkan teori belajar Imam al-Ghazali di atas dalam pembelajaran sejarah?.
Jika dilihat dari kaca mata sekuen bahan ajar, teori Imam al-Ghazali ini masuk pada sekuen logis.  S.K. Kochhar menjelaskan ada tiga tahap penyeleksian materi dalam pengajaran sejarah:
a)      Anak-anak di sekolah dasar belajar sejarah melalui tokoh-tokoh.
b)      Anak-anak yang lebih besar di sekolah menengah pertama belajar sejarah melalui peristiwa-peristiwa.
c)      Anak-anak yang lebih besar di sekolah menengah atas belajar sejarah melalui gagasan-gagasan.
Secara kebetulan, ketiga tahapan di atas nampaknya menjadi implementasi dari teori belajar Imam al-Ghozali. Karena pendekatan yang dipakai dalam pembentukan tiga tahapan di atas adalah pendekatan psikologi.
Misalnya kita ambil contoh pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Pada jenjang sekolah dasar, hendaknya guru memperkenalkan tokoh-tokoh sentral dalam awal kemunculan Islam. Supaya lebih jelas, kami spesifikasikan tokoh yang akan dipelajari yaitu nabi Muhammad SAW. Perlu diingat, pengenalan tokoh ini sebatas mengenalkan, tanpa memasukkan unsur-unsur peristiwa. Jadi benar-benar mengenalkan secara personal, bisa jadi menjelaskan pada anak sekolah dasar tentang sifat-sifat nabi. Sekarang ini umumnya dipercaya bahwa untuk kelompok usia delapan sampai sepuluh tahun (usia sekolah dasar), sejarah sebaiknya sebagian besar berupa rangkaian cerita yang dipilih secara teliti dan digolong-golongkan, dan dijalin dengan detail yang atraktif dan deskriptif. Cara ini dapat membangkitkan minat anak dan memberi ruang bagi pemahaman yang imajinatif dan kesenangan yang tidak tanggung-tanggung. Jadi, metode yang dipakai pada jenjang sekolah dasar ini hendaknya memakai metode bercerita dan biografi, serta bisa juga dimasukkan metode mendiktekan catatan. Hal yang tidak kalah pentingnya dari pemilihan metode pembelajaran yang tepat adalah penggunaan  alat bantu pembelajaran seperti proyektor film untuk memutar filmstrip tentang tokoh yang diajarkan dan alat bantu lainnya supaya pembelajaran sejarah bisa lebih hidup.
Kemudian setelah anak yang telah mengenal sosok nabi Muhammad masuk pada jenjang sekolah menengah pertama, barulah guru sejarah menambahkan pengetahuan anak tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada awal kedatangan Islam yang di dalamnya terdapat tokoh nabi Muhammad yang telah mereka kenal pada sekolah dasar. Jadi, pengetahuan peserta didik ini akan bertambah dan tidak ada yang hilang. Jika awalnya mereka hanya mengenal nabi Muhammad secara personal, kini mereka telah mengenal nabi tidak hanya secara personal saja, namun juga interpersonal melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dialami tokoh yang telah mereka kenal di sekolah dasar. Pada tahap ini juga ditekankan untuk memggunakan alat bantu pembelajaran untuk menghidupkan pengajaran sejarah. Mungkin metode yang digunakan pada jenjang inni tidak lagi bercerita layaknya cerita bagi anak-anak sekolah dasar. Metode cerita masih tetap dipakai, namun penceritaannya lebih pada pemberian stimulus pada peserta didik, agar peserta didik ikut berpikir atau menjadi peserta didik yang aktif bukan pasif. Karena pada usia sekolah menengah pertama peserta didik telah mampu menggunakan pikirannya, maka metode yang yang dipakai antara lain metode percakapan atau tanya-jawab, unit diskusi, tugas, proyek, penghafalan yang disosialisasikan, dan belajar dengan diawasi. Yang pasti metode yang digunakan pada tingkat ini sudah mulai mengajak siswa untuk aktif dengan menggunakan secara optimal kemampuan berpikir yang dimiliki.
Tahap selanjutnya adalah mengajarkan gagasan. Setelah sebelumnya mengenal tokoh serta pristiwanya, maka kini peserta didik pada tingkat menengah atas belajar gagsan melalui gagasan. Penggunaan alat bantu ajar tetap digunakan untuk menghiduokan pengajaran sejarah. Metode yang dipakai hampir sama dengan sekolah menengah atas, namun pada tahap ini metode yang dipakai harus lebih mendorong siswa untuk menggunakan intelegensi mereka dalam pengajaran memahami sejarah.
Ketiga tahapan di atas saling berkaitan erat. Sebelum ke tahap yang kedua, harus melewati tahap pertama terlebih dahulu, begitu juga pada tahap ketiga. Jadi, kesimpulannya adalah tak kan ada gagasan tanpa adanya peristiwa, begitu juga dengan peristiwa, suatu peristiwa tidak akan ada tanpa adanya tokoh. Inilah yang disebut dengan sekuen logis. Mengajarkan yang sederhana, baru setelahnya mengajarkan yang komplek.
            Pembelajaran sejarah dengan sekuen logis ini sama halnya dengan penyebaran Islam pada masa permulaan. Ketika nabi berada di Mekkah pra-hijrah. Beliau menekankan pengajaran tentang ketauhidan (hablun min Allah) dan belum mengajarkan tentang muamalah (hablun min al-Naas) serta belum mengeluarkan larangan-larangan atau perintah. Ini disebabkan karena pemahaman orang Islam pada awal-awal Islam datang ibarat anak sekolah dasar yang belum bisa di ajarkan sesuatu yang komplek. Maka, nabi mengajarkan sesuatu yang global terlebih dahulu. Karena tidak akan ada yang namanya ibadah tanpa ada yang disembah, dan seterusnya. Setelah Islam tertanam dengan kuat dalam diri orang Muslim (ibarat anak yang sudah memasuki usia sekolah menengah pertama dan menengah atas), barulah nabi mengeluarkan larangan-larangan berkaitan dengan hal-hal yang tidak baik, dan menyuruh untuk mengerjakan kebaikan dan mengajarkan bagaimana cara bermuamalah yang benar.
            Kesimpulannya, sejarah tidak selamanya harus diajarkan secara kronologi. Pemakaian sekuen selain kronologi dalam pengajaran sejarah masih tetap terbuka lebar. Tidak ada yang tahu bila ternyata pengajaran sejarah akan lebih hidup dengan sekuen yang tak pernak disangka-sangka digunakan dalam mengajar sejarah.

Subscribe to receive free email updates: