Banner

Proses Penciptaan Manusia Dalam Perspektif Al-Qur’an


            Dari pengamatan yang mendalam, dapat disimpulkan bahwasanya penciptaan manusia mengandung dua unsur, yaitu benda padat dan cair. Benda padat tersebut antara lain adalah tanah (turab), tanah liat (tiin), dan tembikar (salsal). Sedangkan benda cairnya adalah air dan mani. Ayat al-Qur’an yang mempertegas pernyataan di atas adalah Q.S. al-Kahfi [18]: 37.
....... أكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ……….
Artinya: “…….Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani…….”.
Dan pada Q.S. al-Mukminun [23]: 12
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِيْنٍ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah
            Berbicara tentang proses penciptaan manusia, al-Qur’an telah membicarakannya secara panjang lebar. Terdapat beberapa ayat yang menyatakan tentang proses penciptaan manusia, diantaranya Q.S. Ali-Imran [3]: 59.
إنَّ مَثَلَ عِيْسَى عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya: Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.
            Pada dasarnya, konteks ayat ini adalah untuk menyangkal kaum Yahudi yang mempertuhankan nabi Isi. Ayat ini jelas mengungkapkan bahwa penciptaan nabi Isa sama dengan nabi Adam, yaitu sama-sama diciptakan dari tanah. Ayat ini secara tidak langsung menyatakan pula bahwa manusia dari Adam sampai nasi Isa bahkan sampai sekarangpun diciptakan dari tanah. Meskipun penciptaan Adam dan manusia sesudahnya tidak sama. Jika Adam diciptakan langsung oleh Allah, sedangkan manusia sesudahnya melalui proses-proses.


 Proses-proses ini  diperjelas al-Qur’an pada Q.S. al-Hajj [22]: 5.
يَاأيُّهَا النَّاسُ إنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إلَى أجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْا أشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّوْا إلَى أرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا......................
Artinya: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya……..”.
            Proses yang bisa dikatakan rumit ini bukan berarti menunjukkan Allah itu memiliki kekuasaan yang terbatas, dikarenakan jika Allah itu memiliki kekuasaan yang tak terbatas, tentunya  Allah dengan kekuasaan-Nya yang tak terbatas itu mampu menciptakan berjuta-berjuta atau bermilyar-milyar bahkan bertrilyul-trilyun Adam dengan proses penciptaan yang sama seperti penciptaan Adam dalam waktu yang singkat. Lantas mengapa Allah yang Maha Kuasa menciptakan manusia setelah Adam harus dengan melalui proses?.
            Mungkin saja pernyataan di atas terlontar dari orang yang membenci Islam. Akan tetapi, kita sebagai orang Islam tentunya melihat fenomena penciptaan manusia ini sebagai penciptaan yang spektakuler. Mengapa spektakuler? Karena memang atas Kuasa-Nya, Allah mampu menjadikan sesosok makhluk yang begitu indah dari tanah. Tidak sampai disitu saja, kespektakuleran penciptaan ini adalah bagaimana Allah menciptakan manusia dari tanah, kemudian berproses dari zigot sampai janin yang dikatakan ada yang sempurna dan ada yang tidak sempurna. Lalu manusia lahir sebagai seorang bayi, kemudian tumbuh menjadi kana-kanak, dan dewasa. Ada yang kemudian meninggal dan ada pula yang diberi usia lanjut.
            Adapun lukisan tentang kejadian manusia secara umum yang lebih terperinci terdapat pada Q.S. al-Mukminun [23]: 12-14.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِيْنٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَكِيْنٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عْظَامًا فَكَسَوْنَا العِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أنْشَأْنَهُ خَلْقًا أخَرَ فَتَبَارَكَ اللهُ أحْسَنُ الخَالِقِيْنَ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
            Ayat di atas sudah cukup jelas menerangkan proses penciptaan manusia, yaitu diawali dari air mani (sperma dan ovum) yang berasal dari saripati tanah, kemudian air mani ini disimpan dalam rahim. Kemudian Allah menjadikan air mani tersebut menjadi segumpal darah, kemudian segumpal darah ini menjadi segumpal daging, kemudian daging yang segumpal tadi dijadikan tulang belulang, lalu tulang tadi dibungkus oleh daging, kemudian menjadikan makhluk yang berbentuk lain. Melihat kenyataan ini, tentu tidak berlebih-lebihan jika kita menyebut penciptaan manusia ini adalah hal yang spektakuler, apalagi proses penciptaan manusia yang ada dalam al-Qur’an ini telah diakui dan dibenarkan dalam ilmu embriologi.
Kesimpulannya, al-Qur’an yang sudah berumur lebih dari empat belas abad ini telah mengungkapkan proses penciptaan manusia secara detail. Jauh lebih dulu jika dibandingkan dengan orang-orang non-Muslim yang mengkaji dan meneliti proses penciptaan manusia yang pada akhirnya mereka menemukan teori yang sangat mirip dan bisa dikatakan sama dengan apa yang dipaparkan dalam al-Qur’an yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu.
            Kemudian, menjawab pertanyaan di atas, yakni “mengapa Allah yang Maha Kuasa menciptakan manusia setelah Adam harus dengan melalui proses?” al-Qur’an memberikan jawaban pada Q.S. al-Ruum [30]: 20.
وَمِنْ أيَاتِهِ أنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إذَا أنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُوْنَ
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak”.
            Jadi, jelas sudah bahwasanya penciptaan manusia ini adalah salah satu tanda kekuasaan Allah dan bukan karena keterbatasan atau kelemahan Allah. Karena memang jika direnungkan secara mendalam, hanya Dzat yang mempunyai kuasa tak terbataslah yang mampu melakukan itu semua, dan Allah adalah satu-satunya Dzat yang memiliki kuasa yang tak terbatas itu.
            Demikianlah proses penciptaan manusia yang terdapat dalam al-Qur’an. Banyak hal yang dapat kita ambil pelajaran dari ini semua. Diantaranya , kita semakin tahu bahwasanya kita ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Allah, kita hanyalah makhluk yang diciptakan Allah dari tanah, lantas apakah layak bagi kita untuk menyombongkan diri dengan kekayaan, dengan jabatan, dengan kepintaran, dan kelebihan lainnya yang kita miliki. Jika Allah mampu menjadikan manusia dari tanah, maka tidaklah sulit bagi Allah untuk mengambil sesuatu yang telah Allah berikan kepada kita saat ini.
            Andai saja semua manusia sadar bahwa mereka semua tercipta dari tanah, maka di dunia ini tidak akan muncul istilah men-dzolimi dan ter-dzolimi, tidak ada lagi yang merasa dirugikan dan ditindas, tidak ada lagi yang merasa paling berkuasa terhadap makhluk lainnya. Karena memang semua manusia diciptakan dari tanah, dan yang pasti tidak ada tanah yang berada di atas.
            Kendati pun demikian, bukan berarti kita sebagai manusia lantas merendahkan diri kita. Pada Q.S. at-Tiin [95]: 4 telah dijelaskan bahwa manusia adalah sebaik-baiknya ciptaan. Kemudian, timbul satu pertanyaan “mengapa Allah  menjadikan manusia sebagai sebaik-baiknya ciptaan justru dari sesuatu yang ada di bawah, yakni tanah?” Menurut kami, ini adalah salah satu keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia, dimana “manusia yang tercipta dari tanah mampu melesat ke atas mencapai langit malakut”.

Subscribe to receive free email updates: